Gerakan Tanam Bambu for Flores NTT Motivasi Masyarakat

Gerakan Tanam Bambu for  Flores mengangkut stek bambu dengan mobil
CENDANANEWS (Flores) – Sejumlah komunitas pecinta lingkungan yang tergabung dalam Gerakan Tanam Bambu for Flores, Kemarin (10/05/2015), menggelar Gerakan Tanam Bambu di sejumlah lokasi sumber air dan hutan lindung di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). 
Informasi yang diperoleh CND dari salah satu Inisiator Kegiatan, Andrew Winokan mengatakan, para Relawan tersebut berasal dari Barisan Anak Kreatif Institut (BANKit) dan Mahasiswa STKIP St. Paulus Ruteng. Juga ada dari Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng, Radio 94,7 FM, PDAM Ruteng, Disperindagkop Kabupaten Manggarai, Tim Expedisi NKRI dan warga Kelurahan Waso. 
“Gerakan Tanam Bambu for Flores. Terselenggara atas kerjasama Mahasiswa, Swasta dan Pemerintah,” sebut Andrew. 
Dijelaskan, kegiatan ini dilakukan di lokasi mata air Wae Ces dan wilayah hutan lindung Golo Lusang. Wae Ces merupakan sumber air baku PDAM Ruteng, sedangkan Golo Lusang dikenal sebagai wilayah hutan lindung yang terletak di antara Kecamatan Langke Rembong dan Kecamatan Satarmese. 
Ada pula, kata Andrew,  warga yang terlibat dalam gerakan tersebut melampaui target tanam. 
“Kami awalnya hanya menargetkan tanam 600-an pohon. Tapi ternyata di luar dugaan, banyak warga yang datang dan masing-masing membawa banyak stek bambu juga. Jadinya, ya, kita tanam hingga hampir 1.000 pohon,” ungkapnya.
Dipilihnya pohon bambu bagi Gerakan Tanam Bambu for Flores memiliki keistimewaan tertentu diantaranya, untuk konservasi air. 
“Kalau mau dapat air, cara paling sederhana dan paling mendadalah tanam bambu. Kalau bikin embung, biayanya besar,” imbuhnya.
Menurut pegiat LSM Tunas Jaya ini, bambu memiliki kemampaun memproduksi air yang luar biasa. “Sempat ada penelitian bahwa untuk 1 haktar bambu, muaim hujan itu, ia akan tampung 36.000 liter air yang akan dia kembalikan secara alami pada musim kemarau,”. 
Bambu, menurut Andrew, berbeda dengan tanaman lain dalam hal fungsi konservasi. 
“Bambu lima tahun, sudah punya fungsi konservasi.  Berbeda dengan pohon-pohon lain, bisa sampai 11 tahun, makanya kami pilih bambu,” terangnya. 
Dia berharap, akan ada pula makin banyak orang yang mau bergabung dalam gerakan ini.  
————————————————-
Minggu, 10 Mei 2015
Jurnalis : Fonsi Econg
Foto     : Andrew Winokan
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...