Harga Murah, Petani Memilih Simpan Gabah di Lumbung Padi

Seorang petani nampak sedang berdiri di gudang penyimpanan gabahnya yang sampai sekarang belum mau dijual dan memilih menyimpannya, karena harga gabah yang murah
CENDANANEWS (Lombok Tengah) – Meski masa panen telah berlangsung selama dua bulan, namun petani di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih tidak langsung menjual dan lebih memilih melakukan penyimpanan di gudang dan lumbung padi mereka.
Hamdi, petani asal Desa Banyu Urip, kabupaten Lombok Tengah mengatakan, sampai sekarang harga gabah di NTB terutama di Kabupaten Loteng dinilai petani masih tergolong rendah dan belum sebanding dengan pengeluaran yang dihabiskan, mulai dari proses penggarapan sawah sampai masa panen tiba beberapa bulan lalu.
“Lebih baik saya simpan saja dulu gabah saya, dari pada harus dijual dengan harga murah, harga gabah sampai sekarang masih berkisar di antara 350 sampai 400 ribu, sangat tidak sebanding dengan tenaga dan biaya dikeluarkan, lagipula sebagian petani lain juga masih belum ada yang mau menjual gabahnya dengan harga sekarang,” kata Hamdi di Lombok Tengah, Sabtu (16/5/2015).
Pengakuan sama juga diungkapkan Solehah petani lain asal Desa kateng yang tetap menyimpan gabahnya di lumbung padi miliknya dan baru akan dijual kalau harganya sudah mencapai 500 ribu, meski dirinya saat sangat membutuhkan uang untuk membiayai anaknya yang hendak masuk Perguruan Tinggi di Mataram.
Solehah mengatakan sejak baru selesai panen dua bulan lalu, banyak pembeli yang mendatanginya lansung ke sawah, tapi dirinya tetap bersih kukuh untuk menjual hingga harga gabah bisa naik menjadi 500 ribu di pasaran.
“Meski saya butuh uang, daripada saya harus jual murah, mendingan saya jual yang lain atau berhutang dulu untuk biaya masuk kuliah anak saya,”ungkapnya.
Sahnum, pembeli Gabah asal Desa Mangkung, Praya Barat mengatakan, sebagai pembeli kita juga tidak bisa berbuat banyak, pasalnya harga gabah yang diberlakukan ke petani mengikuti harga dari gudang.
“Kalau membeli terlalu mahal, kan kita juga yang rugi,”katanya. 
———————————————————- 
Sabtu, 16 Mei 2015
Jurnalis      : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor        : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-
Lihat juga...