Jam Gadang, Wisata Sejarah dan Budaya di Sumatera Barat

Elang brondok di Objek wisata Jam Gadang Bukittinggi
CENDANANEWS (Bukittinggi) – Jam Gadang Bukittinggi tidak saja jadi saksi sejarah berbagai rentetan perjalanan kota yang memiliki kembaran di negri Jiran ini. Bukittinggi, kota yang sempat menjadi benteng pertahanan kolonial Belanda dalam menghadapi keganasan dari perang Paderi.
Di kota ini pada tahun 1926 ratu Belanda memberikan hadiah yang cukup fantastis kepada sekretaris Fort De Kochk (kota Bukittinggi) Rook Maker, dengan biaya 3000 Gulden untuk membangun penunjuk waktu yang memiliki 4 sisi jam sesuai dengan arah angin. Jam Gadang Namanya.
Jam Gadang dibuat di Jerman pada tahun 1892 dan hanya di produksi 2 buah di dunia. London dan Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Ikon pariwisata ranah minang ini sempat mengalami kerusakan akibat gempa yang melanda Sumbar pada tahun 2007.
Namun bukan kerusakan yang berarti walau hanya di bangun dengan kapur, putih telur dan pasir putih, menara jam berukuran luas 13 x 4 meter tetap kokoh meski sudah berusia 100 tahun lebih. Kota Bukittinggi yang dicanangkan sebagai kota wisata pada tanggal 11 Maret 1984 dan di kokohkan dengan Perda Sumbar no 25 tahun 1987.
Dan kawasan taman Jam Gadangpun di penuhi dengan berbagai aktifitas ekonomi, dari pengamen, penjaja rokok, penjual aneka makanan, penjual aksesoris dan masih banyak lagi pedagang kaki lima yang mencari nafkah bersesakan di sekitaran Jam Gadang.
Meski sudah sering di tertibkan Sat Pol PP, namun seperti taubat sambel, di tertibkan kemarin, hari ini bertambah banyak yang berdagang di Jam Gadang.
“Sudah agenda rutin, kalau ada Satpol PP ya.. kami menghindar sesaat, nanti jualan lagi” ujar Rina pada cendananews, sesaat setelah dagangan bajunya di gusur paksa Sat Pol PP, Sabtu (23/5/2015) sore.
Album kenangan setiap penikmat wisata takkan lengkap saat berkunjung ke ranah Minang tanpa ada foto Jam Gadangnya, inilah yang dimanfaatkan oleh beberapa orang fotografer dalam mencari beberapa rupiah di sekitaran taman Jam Gadang.
“Sejarah Jam Gadang yang panjang bukan saja termaktub disetiap buku-buku sejarah, namun di setiap pribadi yang pernah singgah ke kota yang terdapat lubang jepangnya ini dan apalagi yang pernah mengabadikannya dilembar-lembar album foto” komentar Rusli seorang tukang foto keliling yang telah melakoni usaha dalam melukis cahaya ini sejak tahun 1970.
Maka setiap wisatawan yang berkunjung baik domestik atau mancanegara akan selalu mengabadikan kenangan mereka dengan berbagai pose dengan camera pocket miliknya, atau dengan bantuan fotografer keliling yang sudah ada sejak lama di kota berhawa sejuk ini.
Namun hari ini Jam Gadang bukan saja menyajikan kemegahannya dan sejarahnya yang indah, tapi di sekitaran pelataran Jam Gadang pun di dapati berbagai penawar jasa fotografi. Dengan memakai kostum tokoh-tokoh kartun yang membuat anak-anak balita gemas. Tentu saja dengan merogoh kantong sekitar  Rp 5.000-10.000, untuk sekali berfoto dengan boneka besar tersebut. Mulai dari boneka Upin-ipin hingga Doraemon pun ada di pelataran Jam Gadang.
Uniknya semenjak dua tahun belakangan ini sudah ada tambahan fasilitas berfoto dengan makhluk lain, yaitu satwa-satwa liar! Berbagai satwa liar yang dibawa oleh beberapa komunitas atau milik pribadi pecinta satwa liar ini bisa diajak berfoto bareng dengan Jam Gadang sebagai latarnya. Salah seorang pawang dan pemilik satwa liar ini menawarkan dengan ramah satwanya
“Bisa di pegang atau di pangku, gak akan gigit kok, dan nanti bisa diajak berfoto” rayu Peri, yang sudah mengais nafkah sebagai pawang elang dan ular sejak satu tahun lebih ini.
Peri  mencari nafkah dengan membawa koleksi satwanya mulai dari elang brondok, burung hantu, musang, luwak, dan berbagai jenis ular. Wisatawan yang berkunjung ke Jam Gadang dapat memilih mau berfoto dengan jenis satwa yang di inginkan, cukup dengan membayar  Rp 10.000.
Dengan bantuan peri sesaat hewan-hewan itu akan berpindah ke pangkuan dan pundak wisatawan,dan blitz! Kenangan pun sudah terekam bersama satwa dan Gadang yang penuh sejarah itu akan jadi background yang manis di foto sebagai kenang-kenangan.
Satwa-satwa yang di gunakan untuk meraup penghasilan ini ada beberapa yang endemik dan di lindungi seperti elang brondok dan beberapa satwa lainnya yang “dipaksa” nongkrong di JamGadang menunggu wisatawan dan berfoto dengan mereka.
“Kami sudah sering mengajak dan menginstruksikan kepada komunitas yang ada di Jam Gadang itu agar melakukan profesinya di TMSBK ini, bukan di Jam Gadang, sebab rumah mereka adalah disini, dan ini akan berdampak positif terhadap edukasi kepada masyarakat untuk mengenal satwa” ujar Ikbal kepala Lembaga Konservasi Taman Marga Satwa Bukittinggi Kinantan.
Ikbal menjelaskan, ia beserta jajarannya sudah mefasilitasi komunitas tersebut jika melakukan aktifitasnya di TMSBK.
“Ini merupakan bentuk komitmen kami sebagai lembaga konservasi marga satwa dan bentuk eduksai terhadap perlindungan hewan-hewan endemic, jika mereka melakukan aktifitas tersebut di luar TMSBK itu adalah Ilegal!” tegas Ikbal yang di temui cendananews di depan ruang kerjanya.
Potret Jam Gadang bukan saja sebagai bukti historis dan pariwisata nan elok. Namun juga sarana pencari nafkah dengan kepandaian yang unik dari masyarakat Sumbar. Mulai dari pemain saluang, pemain rabab, pawang satwa liar, pengamen, penjual sandwich, kusir bendi, penjual mainan anak-anak, penjual aksesoris dan pernak-pernik wisata lainnya.
Jam Gadang yang arsitektunya di rancang oleh Sutan Gigi Ameh atau Yazid Rajo Mangkuto ini telah mengalami banyak perubahan pada potretnya baik kubah, taman hingga kehidupan sosial yang berada di bawah menara setinggi 26 meter dan hanya ada dua di dunia.

——————————————————-
Sabtu, 23 Mei 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...