Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta Rayakan HUT ke- 184

HUT Gunung Kidul ke 184
CENDANANEWS (Yogyakarta) – Hari jadi Kabupaten Gunung Kidul yang ke – 184 dirayakan pawai dan karnaval  serta Upacara di Alun Alun Kota Wonosari. Tema yang di angkat adalah ‘Gunung Kidul Gembregah, Kita bangun Gunung Kidul dengan potensi dan kearifan Lokal menyongsong era global’.
Sekda DIY, Ichsanuri dalam amanatnya mengatakan, dengan adanya Otonomi daerah, pemerintah harus berjalan dan menjalankan dengan baik roda pemerintahan dan memakmurkan masyarakatnya menjadi target utama.
Disebutkan, dengan tema gumbregahyang artinya bangkit diharapkan semua pihak, baik pemerintahnya maupun warga masyarakatnya, bahu membahu bangkit membangun Gunung Kidul tanpa meninggalkan ataupun merusak Kearifan lokal. 
“Selain itu pemerintah daerahnya berkewajiban mencari terobosan serta inovasi inovasi dalam mensiasati pembangunan secara efisen dan efektif, termasuk pengelolaan sumber daya alam,”katanya.
Kabupaten Gunung Kidul ini memiliki daerah yang sangat luas dengan hampir separuh dari wilayah propinsi DIY secara keseluruhan. Topografi serta kontur tanah di sebelah selatan pantai dan laut selatannya. Sedangkan yang sisi Utara dengan berbukit batu dan jurang. Ini membutuhkan tantangan tersendiri bagi yang memimpin wilayah kabupaten ‘Gunung Kidul Handayani’ ini. 15-20 tahun yang lalu Gunung Kidul terkenal dengan daerah yang tandus,gersang dan langganan terjadi kekeringan.
Sindiran kata ‘Adoh ratu,cedak watu (jauh dari pemimpin,tapi dekat dengan batu), makan dengan makanan pokok ‘Tiwul’ menjadi sindiran yang rutin didengar baik pemerintah kabupaten maupun warganya.  Namun dengan sindiran inilah, justru ‘Tekad Watu (tekad batu)’ muncul dalam semangat seluruh warga kabupaten Gunung Kidul. 
Perjuangan tak mudah, karena keterbatasan alam, hampir 50persen penduduk dari kabupaten ini, keluar merantau untuk merubah nasib. Baik ke luar Negeri ataupun ke Ibu kota Jakarta. Hasil dari perjuangan mereka di kirim pulang ke tanah kelahiran. Dan ditambah rasa kebersamaan yang sangat tinggi sesama warga, baik yang di rantau ataupun yang berada di tanah kelahiran.
Maka tak heran dengan semangat seperti itu, kini Gunung Kidul maju pesat. Jalan jalan hampir semua halus, lebar. Tikungan tikungan tajam ‘irung petruk’ (tikungan yang panjang dan menikung) di potong dengan pembuatan jembatan jembatan baru. 
Pembuatan embung embung yang berguna untuk pengairan sawah / kebun. Membuat gunung kidul ijo royo royo. Pengelolaan pantai pantai dan Gua bawah tanah juga ikut terangkat atas kemajuan ini saat ini. 
Pendidikan juga terangkat atas kemakuran masyarakatnya yang meningkat. Semoga falsafah Jawa ‘migunani tumraping liyan’ (berguna untuk orang lain) tetap terukir dalam semangat membangun. 

——————————————————-
Rabu, 27 Mei 2015
Jurnalis       : Mohammad Natsir
Fotografer : Mohammad Natsir
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...