Kilometer Nol Anyer Panarukan Sejarah yang Terlupakan

Mercusuar Anyer setinggi 75,5 meter terbuat dari besi
CENDANANEWS (Liputan Khusus) — Sebagai daerah pesisir, Anyer yang termasuk wilayah
Kabupaten Cilegon, Provinsi Banten,  menawarkan pesona wisata pantai yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Mungkin banyak yang tidak menyadari, bahwa di sepanjang jalan tersebut terdapat ribuan tetesan darah warga yang menjadi pekerja rodi oleh kolenial Belanda yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Jalan sepanjang sekitar 1.300 kilometer yang menghubungkan antara pesisir barat Jawa di Anyer dan berujung di Panarukan, Banyuwangi, Jawa Timur. Jalur ini  merupakan jalan penghubung terpanjang di dunia karya Daendels yang banyak memakan korban jiwa.
Jalan ini, telah menjadi saksi bisu lalu lintas berbagai barang komoditas yang diangkut melintasinya sejak masa penjajahan hingga sekarang. Kini, diusianya telah menginjak 207 tahun, sejak dibuatnya pertama kali yakni ditahun 1808. Jalan Raya Pos yang kini benama  Anyer telah berperan sebagai salah satu urat nadi utama perekonominan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Konon, untuk menyelesaikan jalan sepanjang 1.300 kilometer itu, hanya diperlukan waktu satu tahun. Sejarah juga mencatat, ribuan rakyat Indonesia tewas selama pembangunan jalan tersebut. Mereka dipekerjakan sebagai budak yang dikenal dengan istilah kerja rodi.
Pembangunan jalan ini dimulai pada Mei 1808 dan selesai di penghujung tahun yang sama. Pada bulan Agustus 1808, pembangunan jalan telah sampai di Pekalongan. Dan sebenarnya, jalan antara Pekalongan sampai Surabaya sudah ada sejak tahun 1806. Kemudian dari Surabaya, Daendles meneruskan pembangunan jalan sampai ke Panarukan sebagai pelabuhan expor di Jawa Timur.
Berdasar catatan sejarah. Setiap jarak 30-40km terdapat Gardu Pos untuk menggantikan kuda yang membawa Kereta-Pos. Lama-kelamaan disekitar gardu Pos terbentuk Desa atau kota. Dulu sebetulnya hanya tempat kandang kuda kereta pos. Sehingga pengiriman Pos terus berjalan sampai ditujuan.
Pintu masuk Mercusuar
Tidak hanya nama jalan yang memiliki sejarah panjang bagi tonggak perekonomian bangsa ini. Di tepi jalan Anyer yang banyak menwarkan banyak tempet penginapan bagi para wisatawan, terdapat sebuah Patok kilometer nol Trans-Jawa yang berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Cilegon. Lokasinya persis terletak di bibir pantai karang yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda. Itulah prasasti penanda dimana titik nol kilometer jalan raya pertama yang dibangun di tanah Jawa.
Konon mercusuar pertama yang dibangun di Tanjung Cikoneng terbuat dari batu bata dan hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Kemudian pada tahun 1885, pada masa pemerintah colonial Belanda dipimpin oleh Z.M. Willem III, dibangun lagi menara suar yang terbuat dari baja setebal 2.4 cm, setinggi 75.5 meter dan terdiri dari 18 lantai. Di kaki mercusuar, tepat di atas pintu masuk, terdapat sebuah prasasti yang berisi sebuah kalimat berbahasa Belanda.
Hingga kini menara pantau tersebut masih kokoh berdiri sebagai tonggak sejarah berdirinya jalan pertama di pulau Jawa. Bekas-bekas peninggalan sejarah tersebut kini masih tersisa, mimpi Daendels jendral kejam asal negri kincir anginpun menjadi nyata, meski banyak meninggalkan pilu dari anak-anak bangsa yang dipekerjakan secara paksa, namun kini jalan tersebut menjadi jalur terpadat yang menghubungkan antara ujung pulau Jawa paling barat Anyer, hingga ujung Jawa paling Timur yakni Panarukan. 

Anyer, keindahan alam diujung Pulau Jawa

Anyer yang merupakan penghubung antara Jawa Barat dan Jawa Timur
Lorong yang menghubungkan puncak atas

Tangga penghubung menuju ruang atas

Ruang atas Mercusuar sebagai ruang pantau

Lampu pijar Mercusuar sebagai penanda bagi kapal
Puncak atas Mercusuar
————————————————————
Minggu, 31 Mei 2015
Jurnalis/Penulis : Syamsudin Ilyas
Foto : Syamsudin Ilyas
Editor : Sari Puspita Ayu
———————————————————–
Lihat juga...