Luput dari Relokasi, Pendapatan Pedagang Nasi Jinggo Meningkat

Pedagang sedang membuat nasi Jinggo untuk pelanggan
CENDANANEWS (Denpasar) – Tiga tahun yang lalu, Pemkot Denpasar merelokasi belasan pedagang kakilima yang biasa mangkal di pinggiran lapangan puputan Renon yang sekarang bernama Lapangan Monumen Niti Mandala, Renon. Pedagang Siomay Bandung, Batagor, Lontong Sayur, Tipat tahu, Es Kelapa, dan Mie Ayam. Mereka semua di relokasi untuk menyewa lapak strategis di perempatan Jalan Cut Nyak Din tidak jauh dari Lapangan Puputan Niti Mandala.
Namun Pedagang Nasi Jinggo luput dari relokasi, karena mereka berjualan di Jalan S.Parman, yang terletak diantara Perempatan Cut Nyak Din dengan Lapangan Puputan Niti Mandala. Daerah hijau nan segar akan angin sepoi-sepoi menjadi surga baru bagi pedagang nasi jinggo. Nasi jenggo (atau nasi jinggo) adalah makanan siap saji khas Bali yang dikemasan daun pisang dengan porsi kecil. 
Ngurah, pedagang nasi jinggo jalan S.Parman, Renon mengungkapkan ia dan rekan-rekan sesama pedagang nasi jinggo merasa bersyukur bahwa penjualan nasi jinggo yang tadinya biasa-biasa saja, sekarang meningkat pasca relokasi.
“Tadinya warga banyak memilih makan mie ayam, Siomay, atau batagor, namun sekarang banyak warga maupun para karyawan kantor sekitar Renon memilih makan di tempat kami mangkal,” jelas Ngurah.
Rekan Ngurah sesama pedagang nasi jinggo memiliki pendapat yang sama, Efendi, asal banyuwangi, ia bukan mensyukuri rekan-rekan pedagang lain direlokasi, namun hal tersebut seperti berbagi rejeki diantara mereka.
“dulu kita sepi pembeli, sekarang lumayanlah, bisa tersenyum saat pulang ke rumah,” tutur efendi dengan ramah.
Sementara itu, pedagang siomay bandung yang sekarang menempati lapak relokasi di jalan Cut Nyak Din. Ia tidak mengalami kendala dengan perpindahan tersebut, pembeli dan pelanggannya tetap ada dan tidak ada penurunan yang signifikan.
Saat disinggung mengenai peningkatan omset rekan-rekannya yang berdagang nasi jinggo di jalan S.Parman, ia pun tersenyum. ” tidak ada persaingan antara kita, justru saat kita pindah kesini mereka ikut bantu bawa rombong kita kesini, saya bersyukur mereka bisa rame pembeli disana, ini namanya berbagi rejeki,” Hamid menambahkan.
Untuk menangani Pedagang Kaki Lima tidak selamanya dengan kekerasan dan pentungan, akan tetapi harus disertai visi dan misi yang jelas demi kelangsungan usaha para pedagang kaki lima tersebut.
Dan Pemkot Denpasar secara tidak langsung dan tidak sengaja telah melakukan hal tersebut, yaitu merelokasi pedagang yang besar agar pedagang kecil bisa berkembang.

——————————————————-
Minggu, 24 Mei 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...