Mahasiswa Universitas Brawijaya Gelar Aksi “Kepung Brawijaya”

Aksi Kepung Brawisaja
CENDANANEWS (Malang) – Puluhan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Universitas Brawijaya kembali mengadakan turun aksi dalam rangka aksi Uang Kuliah Tunggal (UKT) “Kepung Brawijaya”. Aksi ini di gelar di dalam kampus tepatnya di depan Gedung Rektorat Universitas Brawijaya (UB).
Menurut Nanda Pratama selaku Humas aksi menjelaskan bahwa aksi kali ini adalah untuk mengkritisi mahalnya biaya pendidikan di UB yang berkaitan dengan UKT. Berdasakan kajian Kelompok kerja Mahasiswa UB, UKT yang di tetapkan oleh Universitas Brawijaya melebihi rata-rata UKT di beberapa Univesitas lainnya di Indonesia. 
Mahalnya UKT yang harus dibayar tidak berbanding lurus dengan fasilitas yang di terima oleh mahasiswa. Selain itu, masalah proses penentuan golongan dirasa masih belum tepat, masih banyak mahasiswa yang kurang mampu harus membayar UKT mahal. Salah satu contoh yang terjadi pada UKT mahasiswa Fakultas Hukum yang pada golongan 3, 4, 5 dan 6 mengalami kenaikan yang signifikan, ujar Nanda.
“UKT yang menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 55 tahun 2013 untuk meringankan biaya pendidikan mahasiswa, namun yang terjadi justru menyengsarakan mahasiswa”, ujarnya.
Nanda mengaku bahwa selama penyusunan UKT, pihak Fakultas maupun Universitas tidak pernah mengikutkan mahasiswa dalam penyusunannya, sehingga kami juga menuntut transpansi.
Kami juga ingin bisa bertemu dengan Rektor UB Mohammad Bisri, MS untuk menyampaikan langsung 3 tuntutan kami:
Transparansi UKT dengan sedetai-detailnya
Melibatkan mahasiswa dalam proses perumusan UKT
Turunkan nominal UKT yang dibebankan kepada mahasiswa di semua golongan.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa mengirimkan 2 perwakilanya untuk bertemu dengan Rektor. Setelah beberapa saat menunggu sambil menyampaikan orasi di depan kantor Rektorat UB, akhirnya wakil Rektor II Dr. Sihabudin, SH.,MH, keluar untuk menemui mahasiswa. Sihabudin mengucapkan permintaan maafnya karena Rektor sedang berada di Surabaya.
Sihabudin sebagai wakil Rektor menjelaskan bahwa sebenarnya yang menentukan besaran UKT adalah dari pihak Fakultas, dalam hal ini biasanya yang menangani adalah Pembantu Dekan II. Dari data yang ada di Fakultas kemudian diserahkan ke rektorat, kemudian dari pihak rektorat diserahkan ke pusat, jelasnya di depan para mahasiswa.
“Jika teman-teman mahasiswa nantinya ada yang tidak puas dengan penentuan besaran UKT yang didapatkan, bisa langsung mengajukan keberatan ke Fakultasnya masing-masing. Namun jika keberatannya ternyata ditolak atau tidak direspo, maka mahasiswa bisa langsung sampaikan ke rektorat, dan kami akan langsung sampaikan ke Dekan masing-masing Fakultas”, ujarnya.
Di akhir aksi ini, Sihabudin diminta oleh mahasiswa untuk menandatangani tiga tuntutan mereka sebagai bentuk dukungan wakil Rektor II terhadap tiga tuntutan mereka.
Sebelum melakukan aksi didepan gedung rektorat, para mahasiswa berkumpul di depan gedung Samantha Krida untuk kemudian melakukan longmarch kesetiap Fakultas untuk mengajak mahasiswa lain yang ingin bergabung dengan aksi mereka. 

——————————————————-
Jumat, 29 Mei 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...