Malamang, Tradisi Wajib di Pernikahan Masyarakat Pasaman

Malamang
CENDANANEWS (Pasaman) – Sumatera Barat (Sumbar) yang didominasi oleh masyarakat Minangkabau, memiliki  tradisi unik dalam menyelanggarakan pernikahannya. Peseta pernikahan akan berlangsung lama, bahkan di beberapa daerah bisa berlangsung hingga 1 (Satu) Minggu penuh. Begitu juga dengan daerah Kabupaten Pasaman.
Didaerah ini ada sebuah tradisi wajib yang masih bertahna hingga hari ini. Dua hari sebelum melangsungkan pesta pernikahan. Masyarakat daerah Pasaman yang tepatnya berada di Nagari Koto Kaciak, kecamatan bonjol, Kabupaten Pasaman. Selalu melakukan tradisi malamang (beras ketan yang dimasak dengan santan dalam bambu muda). Sebuah tradisi yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu dari pihak pengantin perempuan.
“Tradisi ini telah berlangsung lama, bahkan dari generasi nenek saya sudah melakukan ini. Tidaklah beradat sebuah pernikahan jika tidak malamang,” ujar Darnia (50) pada cendananews Sabtu (16/5/2015) pagi.
Tradisi malamang ini, adalah membuat sebuah panganan yang bernama lamang. Makanan dari ketan yang dimasukkan dalam bambu-bambu kecil, dan diberi santan serta berbagai isian. Bisa pisang, bahkan daging. Hampir serupa dengan sushi dari Jepang.
“pertama masukkan dulu daun pisang yang akan menjadi dindning dari lamang ini, lalu masukkan beras ketan (pulut), lalu isiannya, berupa pisang, daging atau yang lainnya. Setelah itu masukkan santan,” Lanjut Darnia.
Proses malamang ini berpantang jika dikerjakan hanya sendirian. Maka pisak pengantin  perempuan akan mengundang ibu-ibu disekitaran tempat tinggalnnya untuk melakukan tradisi malamang. Tradisi ini bias berjalan selama satu hari penuh. Sebab untuk memasak lamang butuh waktu 4-5 jam.
Bahan-bahan lamang yang telah dimasukkan kedalam bambu-bambu kecil tersebut akan dijejerkan secara vertical dan dibakar secara bersamaan. Proses ini akan dikerjakan secara bersama-sama oleh kaum ibu-ibu.
“Lamang ini adalah bawaan wajib dalam setiap pernikahan disini. Setiap orang yang datang ke pesta akan membawa lamang saat pulangnya. Mereka yang membawa rantang akan diberi lamang oleh pihak pengantin perempuan yang menggelar pesta,” jelas Darnia.
Hal yang unik dari tradisi malamang ini. Membuat jalinan silaturrahmi antar penduduk sekitar semakin erat. Hal ini ditandai dengan sanksi sosial bagi mereka yang tidak mau ikut malamang. Jika tidak bisa ibu dari suatu kelauraga yang datang, maka anak perempuannya wajib untuk mengikuti tradisi ini. Selama 4-5 jam mereka akan terus berada di sekitar pembakaran lamang.
Hal ini disebabkan oleh api dari pembakaran lamang, tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil. Dan bambu-bambu yang berisi lamang itu, harus selalu diputar-putar agar tidak gosong. Bahkan dalam pemilihan bambu untuk malamang akan dilakukan oleh kaum lelaki dari semua kelaurga yang ada disekitar rumah pengantin perempuan.
“Semiskin apapun sebuah keluarga, meski ia hanya menyajikan ikan teri dalam hidangan pestanya, tapi lamang adalah sebuah kewajiban. Jika keluarga itu tidak mampu membiaya tradisi malamang, maka masyarakat sekitar akan secara bergotong royong untuk membiaya tradisi ini,” pungkas Darnia yang diamini puluhan ibu-ibu lainnya.
———————————————————- 
Sabtu, 16 Mei 2015
Jurnalis      : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad
Editor        : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-
Lihat juga...