Membatik dapat melatih Mental dan Kesabaran Seseorang

Salah satu mama-mama Papua sedang serius mencanting
CENDANANEWS (Jayapura) – Dalam satu keterampilan membutuhkan niat, kesabaran, keseriusan dan fokus. Begitupun dengan membuat sebuah batik tulis yang notabene dalam prosesnya dilalui dengan berbagai tahap dan membutuhkan tingkat kesabaran yang sangat tinggi.
Pelatihan membatik yang berlangsung di pendopo Batik Port Numbay selama tiga hari, dari Selasa 27 hingga 29 mei. Suasana pelatihan yang hening lantaran keseriusan para peserta dalam membuat satu produk batik tulis yang dikerjakan perkelompok.
Tingkat kesabaran yang tinggi dapat menghasilkan sebuah karya yang indah dan memuaskan bagi para calon konsumen batik tulis. Marice Tomamba (40) salah satu peserta dari kelurahan Wano mengaku kegiatan yang digelar Distrik Abepura, Kota Jayapura ini dapat membina mental para peserta termasuk dirinya.
“Kita tahu semua, daerah Papua yang kondisinya seperti ini, sudah kaya, tapi tingkat kesabaran kami minim, karena masih penuh tingkat emosi. Kalau membatik ini, melatih kesabaran kami semua,” kata Marice, Jumat (29/05/2015).
Selain itu, membatik dapat mengisi waktu kosong para mama-mama Papua agar meningkatkan pemasukan ekonomi kepada keluarga. Tidak hanya itu, ia juga berharap budaya orang Papua dapat ditingkatkan melalui batik.
“Karena, batik Papua sudah banyak dikenal, dari dalam negeri sampai luar negeri orang sudah mengenal batik Papua dengan berbagai macam motif-motifnya,” ujarnya.
Ia juga sedikit kecewa, lantaran sebagian besar masyarakat Papua masih belum mengenal arti dari motif-motif Papua. 
“Ini yang perlu dikembangkan melalui pembinaan seperti pelatihan yang di pimpin langsung instruktur Jimmy Afar, baru kami dapat mengetahui arti dari corak maupun motif Papua, ternyata ada ceritanya tersendiri,” katanya.
Pelatihan tersebut sangat membantu dalam peningkatan pemahaman soal tata cara membatik dengan baik dan benar. 
“Membatik ini sebenarnya tidak susah, membatik ini sama saja seperti kami merajut. Saya sendiri akan membawa ilmu dan pengalaman hasil pelatihan ini ke tingkat RT dan RW tempat saya tinggal dan sudah pasti akan saya sosialisasikan dengan mengajar para muda mudik dan mama-mama Papua lainnya, sekaligus mempromosikan batik hasil kerja keras kami,” ujarnya.
Kedepan, ia sangat ingin di Kota Jayapura ada satu kampung yang dijuluki dengan kampung batik. “Karena gambaran dari batik itu sendiri menceritakan kota Jayapura, Papua, ini pesan yang disampaikan melalui batik. Kedepan kami harap tidak sebatas pembinaan, atau bantuan, melainkan kalau bisa ada bantuan ke tiap RT, agar ditingkatkan dari RT untuk mengisi kerajinan batik ini di kelurahan kami,” harapnya.
Dari pantauan Cendana News di lokasi kegiatan, tidak hanya perwakilan mama-mama asli Papua dari delapan kelurahan, distrik Abepura. Terlihat juga beberapa siswa IPDN yang turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.
Eka  Wahyu Toriq Irmayanti, praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) salah satu peserta membatik dalam pelatihan tersebut, mengaku dirinya tidak asing dalam hal membatik. Sebelumnya, dijelaskannya, dirinya saat duduk dibangku SMA di Jawa Timur, telah mengenal batik, yang diaplikasikan dalam praktek di sekolahnya. “Hari ini saya senang sekali belajar membatik lagi di latih Jimmy Afar,” kata Eka.
Perbedaan batik asal Jawa dan Papua? Ia mengaku perbedaan terletak dari motif-motifnya. “Kalau di Jawa motifnya seperti itu, kalau di sini (Papya) motifnya hewan-hewan seperti Ikan dan lainnya. Saya suka sekali motif-motif di Papua, unik-unik,” tutur Eka yang saat ini magang di bidang Humas kantor kelurahan VIM, Distrik Abepura, Kota Jayapura.
Ia juga mengakui, instruktur di pelatihan ini dalam pemberian materi tata cara membatik kepada peserta sangat baik dan telah menguasai hingga detail setiap proses-prosesnya. “Mama-mama yang ajar mencanting, asyik sekali berikan pengajaran kepada saya dan teman-teman,” ujarnya.
Perbedaan kualitas batik di Jawa dan Papua, Eka mengaku, hasil di Jawa lebih bagus karena didukung dengan alat yang bagus. Sedangkan di Papua, masih kurang. “Asli batiknya kan di Jawa, jadi masih bagus Disana. Kalau di sini perlengkapan membatiknya kurang lengkap.  Tapi secara  garis besar sama sih,” ujar praja IPDN dari Jawa Timur tesebut.
Dirinya berharap, dari pelatihan yang notabene hanya tiga hari dapat dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh peserta batik. “Semoga saya lebih lancar lagi membatik, terus batik yang ada di sini (Papua) nantinya bisa semakin maju lagi, dapat mengalahkan yang ada di Jawa juga,” imbuhnya.

——————————————————-
Jumat, 29 Mei 2015
Jurnalis       :  Indrayadi T Hatta
Fotografer :  Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...