Menelusuri Perjalanan Para Pengojek Batu Bata di Lampung

Ojek Batu Bata
CENDANANEWS(Lampung) – Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung merupakan salah satu sentra pembuatan batu bata, genting. Permintaan akan batu bata dan genting untuk pembangunan perumahan memberikan dampak positif bagi pemilik usaha batu bata dan meningkatkan perekonomian warga. Tak hanya para pemilik usaha batu bata, para pemuda dan warga yang melakukan pekerjaan musiman dengan menjadi buruh bakar, buruh bongkar muat termasuk buruh angkut.
Para pemilik usaha tradisional batu bata, genting saat proses pembakaran akan memerlukan tenaga kerja yang merupakan warga sekitar dengan upah sekitar Rp50.000,- hingga Rp100.000,- dari untuk sekali proses pembakaran. Sementara proses bongkar muat yang dilakukan saat batu bata tersebut terjual menggunakan sistem borongan.
Salah satu pemilik usaha pembuatan batu bata yang masih bertahan mengungkapkan biasanya memperkerjakan para pemuda desa yang sedang tidak memiliki pekerjaan.
“Kita gunakan sistem borongan, kadang juga hitungan perseribu batu bata kita mengupah mereka sehingga hitungannya jelas,” ungkap Winarso kepada Media ini Jumat (8/5/2015).
Saat ini per seribu batu bata biasanya para pekerja diupah sebesar Rp25.000,- hingga Rp30.000,- sementara sistem borongan dilakukan dengan hitungan per muatan ukuran mobil L300 yang biasanya mencapai Rp300ribu dan dikerjakan oleh beberapa orang.
Sistem lain yang masih umum digunakan oleh para pemilik usaha batu bata juga para pemesan diantaranya menggunakan jasa ojek batu bata. Para pengojek batu bata ini sudah terbiasa melakukan pekerjaan tersebut untuk menjangkau daerah daerah yang tidak bisa dijangkau dengan mobil serta untuk efesiensi upah.
Salah satu pemuda yang menjadi pengojek batu bata di Kecamatan Palas, Sumianto (23) mengaku baru sekitar dua tahun menjadi pengojek batu bata. Ia diminta menjadi pengojek batu bata karena beberapa dusun di wilayah Kecamatan Sragi yang akan dituju memiliki jalan yang cukup sempit, selain itu permintaan pemilik batu bata mengantar ke alamat tujuan.
Dahulu, ungkap Sumianto, untuk mengantar batu bata ke tempat pemesan mulanya sepeda onthel merupakan sarana angkutan yang dominan. Namun sekarang ini pengantaran dengan menggunakan sepeda motor dinilai lebih praktis serta menghemat tenaga dan cepat sampai tempat si pemesan.
“Kami biasanya berangkat secara berombongan dan beriringan dari lokasi tobong bata atau tempat pembuatan bata ke tempat tujuan,” ungkap Sumianto. 
Para pengojek batu bata menggunakan kemdaraan roda dua yang sudah dimodifikasi bersama alat pengangkut yang dinamakan “rombong” terbuat dari bambu, papan penyangga untuk meletakkan batu bata yang akan dibawa yang juga akan diikat dengan tali karet. 
Sekitar 200-250 batu bata bisa diangkut dengan menggunakan kendaraan roda dua tersebut dengan upah tergantung jauh dekatnya jarak tujuan pengantaran batu bata. Sekali antar pengojek memperoleh uang sebesar Rp40ribu hingga Rp50ribu. Hal serupa pun berlaku untuk pengangkutan genting.
“Sekarang jalan lebih bagus karena baru diperbaiki aspalnya, dulu jalan ini penuh lubang sehingga kami sering terjatuh dan batu bata yang kami bawa ikut jatuh,”ungkap Joko, rekan Sumianto yang juga menjadi tukang ojek batu bata.

Upah sebesar itu menurut Joko sudah cukup mengingat di desanya ia menekuni usaha tersebut untuk mencari tambahan uang bagi keluarganya. Selain sebagai tukang ojek saat musim panen padi di Kecamatan Palas, Kecamatan Sragi ia mengaku juga menjadi kuli panggul padi serta pengojek padi.
Ia mengaku pekerjaan sebagai pengojek batu bata bukan pekerjaan yang dilakukan harian sebab pemesanan batu bata tidak terjadi setiap hari, bahkan terkadang dalam sebulan pun pemesan batu bata bisa dihitung dengan jari. Pendapatan ratusan ribu dalam sehari diakui sudah cukup untuk kebutuhan mereka di desa.
“Makanya kalau ada yang nawarin ya istilah kita, sabet aja namanya pekerjaan kami hanya serabutan mas,” ungkap Joko yang mengaku memiliki isteri dan satu orang anak yang masih bersekolah di Sekolah Dasar ini.
Para pemesan batu bata yang menggunakan jasa ojek biasanya memiliki rumah yang akses menuju rumahnya hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua sehingga tidak bisa dilalui mobil. Joko menjelaskan, jika pemilik menggunakan jasa angkut mobil pun percuma karena mobil hanya akan bisa masuk ke mulut gang. Sementara akhirnya pun akan mengeluarkan biaya ekstra untuk mengangkut kembali sampai tujuan.
“Kalau menggunakan motor kan langsung sampai ke rumah tujuan sehingga tidak dua kali kerja dan uang yang dikeluarkan pemilik batu bata juga tidak membengkak,”ungkapnya.
Joko, Sumianto serta para pemilik usaha batu bata merupakan warga desa yang saling memberi “lapangan pekerjaan”  dan selama usaha pembuatan batu bata serta genting di daerah tersebut berjalan jasa ojek mereka masih tetap dipergunakan.
Menjalankan aktifitas sebagai tukang ojek batu bata, terlihat mereka masih kurang memperhatikan faktor keamanan diantaranya tidak mengenakan helm atau alat keselamatan lain yang bisa membahayakan keselamatan.
“Kami selalu berhati hati mas, semoga tetap diberi keselamatan untuk bisa mencari nafkah, kalau pake helm malah ribet,” ungkap Joko.
Solidaritas, kebersamaan terlihat tampak dalam rombongan para pengojek tersebut yang terlihat dari kekompakam kecepatan, saling memperhatikan muatan rekan serombongan agar tidak jatuh di perjalanan. Kecepatan kendaraan yang dipacu pun saling mengimbangi hingga para pengojek batu bata tersebut sampai di lokasi tujuan pemesan.
————————————————-
Jumat, 8 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto     : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...