Olahan Limbah Kayu Gergaji Menghasilkan Uang

Olahan Limbah Kayu Gergajian
CENDANANEWS (Lampung) – Puluhan kubik kayu di gergaji setiap harinya di panglong (tempat penggergajian kayu) di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Provinsi Lampung. Panglong kayu milik Junaidi (40) warga Desa Tamanbaru yang memiliki lahan tersebut merupakan tempat penggergajian berbagai jenis kayu diantaranya kayu medang, Bayur, Kelapa, Jati, Sengon, Albasia serta berbagai jenis kayu lainnya. Kayu olahan untuk bahan bangunan dari tempat tersebut dikirim ke daerah Jakarta.
Menurut Junaidi, usaha penggergajian kayu tersebut memiliki beberapa limbah yang hingga saat ini nyaris tak ada yang terbuang. Limbah serbuk kayu gergaji yang dibuang dari hasil penggergajian dengan mesin pemotong berupa serkel tersebut dikumpulkan dalam karung karung.
Selanjutnya karung karung serbuk gergaji tersebut dikumpulkan untuk dijual ke daerah Lampung Timur yang dipergunakan untuk pupuk dan bahan bakar penghangat untuk peternakan dengan harga Rp3.000,- ukuran karung besar. Sementara bahan limbah lain yakni kayu kayu kecil yang disebut dengan “sebetan” yang tak lagi dimanfaatkan untuk bahan bangunan.
“Sebagian besar kayu dibeli dalam bentuk gelondongan lalu diolah di tempat penggergajian di sini, dikumpulkan dalam jumlah tertentu yang memenuhi kriteria untuk bahan bangunan,”ungkap Junaidi saat ditemui media Cendananews.com di panglong miliknya Sabtu (16/5/2015).

Sumber penghasilan utama panglong tersebut menurut Junaidi dari penjualan bahan bangunan kayu olahan panglong. Namun Junaidi mengaku selain itu justru sang isteri, Safitri (38) memanfaatkan limbah berupa kayu kayu sebetan yang tidak terpakai digunakan untuk membuat kotak kotak palet sebagai kotak yang dimanfaatkan beberapa toko di pasar Pasuruan.
Pembuatan kotak kotak dari bahan yang sudah tak terpakai tersebut menurut Junaidi juga memberi nilai tambah bagi para pekerjanya yang bertugas menjaga panglong miliknya.
Hamti (40) dan sang suami Muzani (43) yang bertugas menjaga panglong tersebut diberi tanggungjawab mengolah kayu kayu tersebut menjadi palet. kotak kotak palet tersebut dibuat menggunakan mesin khusus lalu dibuat kotak kotak dengan ukuran sesuai permintaan pembeli.
“Kalau untuk kotak gula lebih kecil, sementara untuk kotak telur di warung warung lebih besar ukurannya,” ungkap Hamti.
Jenis limbah kayu yang ukurannya masih panjang dari kayu Sengon menurut Hamti tidak dibuat palet di panglong tersebut melainkan di kirim ke daerah Bekasi dalam jumlah berpuluh puluh kubik. Kayu tersebut selanjutnya akan dibuat untuk kotak palet porselin, barang pecah belah atau barang elektronik yang ukurannya lebih besar.
“Sisanya yang ukurannya lebih kecil kami olah di sini dengan ukuran sekitar 30 centimeter menjadi kotak kotak kecil untuk kotak gula merah dan gula putih,”ungkap Hamti.
Kotak kotak palet tersebut dibuat setiap hari berdasarkan pesanan. Bahkan Hamti mengaku ia membuat palet dibantu oleh seorang pekerja lain Rafti (34) dan anak laki lakinya. Dalam sehari ia dan dua orang bekerja membuat palet dan mampu membuat palet sebanyak 60 hingga 100 kotak.
Pembeli biasayanya menurut Hamti membeli dengan sistem pesanan yang mencapai hingga 600 hingga 1000 buah. Hamti mengaku bahkan pernah mendapat pesanan kotak palet sebanyak 1000 kotak yang jika dinilai mencapai Rp2.500.000,- sebab satu kotak dihargai Rp2.500,-.
“Lumayan mas daripada bahan limbah ini dijual dalam bentuk kayu bakar lebih murah namun lebih bernilai kalau diolah menjadi kotak kotak palet,”ungkap Hamti.
Hasil penjualan dari pengolahan Kayu kayu limbah tersebut menjadi kayu palet menurut Hamti dipergunakan untuk uang tambahan mencukupi kebutuhan sehari hari. 
“Oleh bos kami mendapat bayaran yang cukup dari pengolahan limbah sebab suami juga bekerja di sini mengoperasikan mesin pemotong kayu,”ungkap  Hamti.
Dari pantauan media ini, sebuah kendaraan L300 dengan 3 orang pekerja terlihat sedang memuat sekitar 300 kotak palet yang akan dipergunakan untuk wadah gula pasir.
“Ini akan dipakai untuk wadah gula pasir, biasanya gula pasir yang dimasukkan dalam kemasan plastik akan ditempatkan di kotak kotak ini biar tak gampang pecah,” ungkap Jayus (34) yang mengaku diminta oleh bos pemilik toko kelontong di Pasar Pasuruan.

Limbah kayu yang semula tak berguna pun bisa dimanfaatkan menjadi barang bernilai dan memiliki nilai tambah, itulah yang dilakukan pada panglong milik Junaidi dan memberi nilai ekonomi lebih bagi para pekerjanya.
———————————————————- 
Sabtu, 16 Mei 2015
Jurnalis      : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor        : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-
Lihat juga...