Pemikiran Presiden Soeharto dalam Pemanfaatan Teknologi Nuklir


CENDANANEWS (Mengenal Jenderal Besar HM. Soeharto) – Diawali kekhawatiran Bung Karno atas uji coba senjata Nuklir yang dilakukan Amerika Serikat di kawasan Kepulauan Marshal Pasifik, dibentuklah tim Penyelidikan Radio Aktif dengan Keppres No.230 pada tahun 1954 yang dikepalai oleh G.A Siwabessy. Selanjutnya tim ini melakukan aktifitas peninjauan ke berbagai wilayah Indonesia Timur sehingga dapat dipastikan bahwa wilayah tersebut aman dari dampak radiasi. Selesai tugas tersebut tim menyarankan pemerintah untuk membentuk Dewan atau Lembaga Tenaga Atom guna melakukan penelitian serta pemanfaatan teknologi nuklir. Bung Karno pun meng-amini selanjutnya G.A Siwabessy dipercaya menjadi pimpinan lembaga tersebut. 
Sementara itu pada tahun 1960 sampai 1970-an, Amerika Serikat memiliki program Nuklir untuk Perdamaian. Pemerintah Indonesia pun mengambil kesempatan menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat yang ditandatangani tanggal 21 September 1960. Bantuan US$ 491.000 dalam dua tahap dari pemerintah Amerika Serikat dikucurkan untuk mendirikan Reaktor Nuklir TRIGA Mark II dengan kekuatan 250 KW di Institut Teknologi Bandung yang diresmikan Presiden Soekarno bersama Dubes Howard.P Jones pada tanggal 19 April 1961. Tiga tahun kemudian pada tanggal 17 Oktober 1964 reaktor nuklir TRIGA Mark II berhasil melakukan ujicoba pertamanya.
Peristiwa yang tak terduga terjadi, tepatnya sehari sebelum ujicoba pertama reaktor nuklir TRIGA Mark II, yakni pada tanggal 16 Oktober 1964 RRC melakukan uji coba bom atomnya untuk pertamakali. Peristiwa tersebut ternyata berhasil mengubah orientasi Presiden Soekarno tentang pengembangan teknologi nuklir di Indonesia. Pada Januari 1965 Presiden Soekarno menjalin kolaborasi dengan RRC yang dikenal dengan “Poros Peking”, berdasarkan investigasi New York Times diam-diam Soekarno mengutus 200 ilmuwan Indonesia untuk belajar di negeri Cina.
Dalam persepsi Presiden Soekarno keadaan politik Regional dan  Internasional berada dalam bayang-bayang negara-negara Neo Kolonialisme dan Imperialisme (Nekolim), sehubungan dengan akan dibentuknya Federasi Malaysia oleh ex-Kolonial Inggris serta pengiriman pasukan Amerika Serikat ke Vietnam. Dalam pandangan Presiden Soekarno bila Indonesia memiliki senjata nuklir, maka Indonesia dapat mempertahankan kedaulatan negaranya dari kaum Nekolim tersebut. Untuk mendukung maksud itu Presiden Soekarno mengubah Lembaga Tenaga Atom menjadi Badan Tenaga Atom Nasional dan diam-diam melakukan hubungan dengan RRC.
Menteri Energi Brigjend. Hartono secara mengejutkan menyampaikan bahwa Indonesia mampu menghasilkan Bom Nuklir dan siap untuk diuji cobakan pada tanggal 5 oktober 1965 bertepatan dengan Hari ABRI. Pernyataan ini diperkuat 8 bulan kemudian, dengan pernyataan Presiden Soekarno sendiri sewaktu menghadiri Kongres Muhammadiyah di Bandung pada tanggal 24 Juli 1965, bahwa sebentar lagi bangsa Indonesia memiliki bom atom sebagai implementasi bangsa yang mandiri. Hal ini tentu saja membuat gerah Amerika Serikat yang pada awalnya mensponsori proyek ini. Namun berdasarkan inspeksi yang dilakukan pihak Amerika, Indonesia tidak memiliki reaktor nuklir dan tempat yang cukup memadai untuk melakukan pengayaan uranium sekaligus ujicoba bom atom, apalagi melihat sumber daya manusia/ilmuwan yang dimiliki saat itu.
Tetap saja isu bom nuklir yang dilemparkan Pemerintahan Presiden Soekarno ini membuat negara-negara sekawasan gerah, seperti Filipina dan tentu saja Malaysia. Namun berdasarkan tulisan Robert M. Cornejo dengan judul “When Sukarno Sought The Bomb”, pernyataan retorik pemerintahan Soekarno mengenai bom atom tersebut hanya bertendensi politik, terutama di masa krisis politik saat itu, baik politik yang berlaku di dalam negeri sendiri maupun dalam kancah Regional dan Internasional.
Kisah Nuklir inipun menemui akhirnya berselang beberapa hari kemudian ketika peristiwa berdarah yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 dimana 6 perwira militer Angkatan Darat gugur sebagai Pahlawan Revolusi.
Teknologi Nuklir Era Presiden Soeharto
Berdasarkan wawancara yang dilakukan New Strait Times sewaktu acara BATAN Expo Juli 1994, awal tahun 1995 Presiden Soeharto berencana melakukan lelang tender untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Reaktor nuklir untuk pembangkit tenaga listrik sedianya dibangun di daerah Gunung Muria Jawa Tengah, Pemerintah telah melakukan uji kelayakan yang dilakukan oleh perusahaan konsultan dari Jepang, reaktor nuklir pembangkit listrik tersebut memiliki kapasitas 600 MegaWatt dengan perkiraan biaya senilai US$ 1,2 Milyar diharapkan dapat mulai beroperasi pada tahun 2004.
Menurut Direktur BATAN pada waktu itu, Djali Ahimsa, pada tahun 2015 konsumsi listrik di Pulau Jawa sebesar 27.000 MW, sementara kapasitas pembangkit listrik yang ada meliputi PLTA, Panas Bumi, Batu Bara dan Gas Alam hanya mampu memasok 20.000 MW, sehingga sisanya diperlukan alternatif dengan menggunakan tenaga nuklir.
Mengingat teknologi nuklir bukanlah hal yang baru bagi Pemerintahan Indonesia. Presiden Soeharto memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya yang telah ada. Reaktor nuklir TRIGA Mark II merupakan peninggalan masa pemerintahan Presiden Soekarno oleh Presiden Soeharto mulai dikembangkan. Dimulai pada bulan September 1971 atas kerjasama Pusat Reaktor Bandung/PRAB yang di pimpin Soetardjo Soepadi,MSc bekerjasama dengan BATAN berhasil melakukan peningkatan daya reaktor tersebut menjadi 1000 KW (pada tahun 2000 dinaikkan kapasitasnya menjadi 2000 KW). Lantas dalam rangka peringatan Ulang Tahun BATAN yang memasuki usia 27 tahun, pada tanggal 4 Desember 1971 Reaktor nuklir TRIGA dengan kapasitas 1000 KW diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Soeharto.
Dalam rangka mengembangkan instalasi reaktor nuklir TRIGA, pada tanggal 28 Juni 1977 Menteri Negara Riset Prof. Soemitro menghadap ke Presiden Soeharto untuk membicarakan kerjasama dengan Negara Hongaria meliputi pengembangan pertanian campuran dan penggunaan radio isotop dalam bidang kedokteran. Sehari kemudian, 1 juli 1977 penandatanganan memorandum saling pengertian (MOU) antara Pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Riset Prof.Dr.Soemitro dengan Wasekjend Akademi Ilmu Pengetahuan Hongaria, Dr. Istvan Lang dilaksanakan di Istana Negara di Jakarta.
Dua tahun kemudian pada tanggal 1 Maret 1979, di Yogyakarta Presiden Soeharto meresmikan Reaktor Atom Kartini dengan kapasitas 100 KW, reaktor atom ini dipergunakan sebagai sarana penelitian dan pendidikan ini dirancang dan dibangun oleh ahli-ahli dari Indonesia.
Teknologi nuklir dalam pemerintahan Presiden Soeharto dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan rakyat. Di Jakarta pada tanggal 26 juli 1982, Presiden dan Ibu Tien Soeharto meresmikan penggunaan beberapa perlengkapan kedokteran baru untuk Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Unit-unit yg diresmikan antara lain radiosnostik, kedokteran nuklir, radioterapi selain apotik dan beberapa klinik. Di bidang pertanian telah dihasilkan bibit-bibit unggul yang tahan terhadap hama serta memiliki produktifitas yang tinggi sehingga dapat menunjang program intensifikasi pertanian.
Dalam mengembangkan teknologi nuklir dalam negeri, Pemerintahan Soeharto menjalin hubungan bilateral yang erat dengan berbagai negara dalam hal pengembangan teknologi nuklir, khususnya dengan Jerman Barat, maka pada tanggal 20 Agustus 1987 Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya Reaktor Nuklir Serbaguna dan Instalasi Pembuatan Elemen Bahan Bakar Nuklir di Puspitek, Serpong Jawa Barat. Reaktor ini oleh Kepala Negara dinamakan G.A Siwabessy, yaitu seorang Professor perintis berdirinya penggunaan teknologi nuklir di Indonesia sejak tahun 1954. Reaktor ini didirikan atas bantuan pemerintah Jerman Barat.
Dalam hal pengolahan limbah nuklir yang dapat mencemari lingkungan, pada tanggal 5 Desember 1988, Presiden Soeharto meresmikan Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif BATAN di Serpong Jawa Barat. Setahun berikutnya di Puspitek Serpong pada tanggal 11 desember 1989, Presdien Soeharto meresmikan laboratorium Instalasi Produk Elemen Bakar Eksperimental, Pusat Produksi Radioisotop, Pusat Perangkat Nuklir dan Rekayasa, Pusat Pengembangan Informatika yang semuanya dikelola oleh BATAN.
Dalam menyambut perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-47, yakni pada tanggal 20 agustus 1992, Presiden Soeharto meresmikan Instalasi Spektrofotometri Neutron dan Laboratorium Sumber Daya Energi di Serpong. Presiden dalam amanatnya meminta agar rakyat tidak terlalu khawatir terhadap penggunaan tenaga nuklir sebagai pembangkit energi listrik, karena penggunaan teknologi apapun selalu mempunyai resiko. Karena ditambahkan Presiden bahwa dengan selesainya pembangunan Instalasi Spektrofotometri Neutron ini, maka kita memiliki sarana untuk mendukung penguasaan dan pengembangan teknologi nuklir. Telah tiba saatnya kita dengan sungguh-sungguh memanfaatkan teknologi nuklir sebagai pembangkit energi listrik. Presiden juga menambahkan masyarakat tidak perlu khawatir dengan penggunaan teknologi nuklir ini, karena saat ini sudah sangat maju dalam masalah keselamatan sudah menjadi prioritas utama.
Pemikiran Presiden Soeharto dalam pemanfaatan teknologi nuklir berdasarkan pertimbangan yang jauh kedepan bagi generasi mendatang. Teknologi nuklir memiliki resiko sebagaimana teknologi lainnya, namun penggunaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui seperti bahan bakar fosil memiliki keterbatasan. Mau tidak mau teknologi nuklir menjadi pilihan terakhir, tetapi dalam mencapai maksud tersebut terlebih dahulu dipersiapkan sumber daya manusia maupun teknologi yang mumpuni dalam pemanfaatan teknologi sehingga tepat guna dan aman terkendali.
———————————————————–
Selasa, 5 Mei 2015
Penulis : Gani Khair
Fotografi : Dokumen resmi HM.Soeharto
Editor : Sari Puspita Ayu
———————————————————–
Lihat juga...