Pengembangan Batik Port Numbay Butuh Campur Tangan Pemerintah

Desainer dan Pemilik Pendopo Batik Port Numbay, Jimmy Afar
CENDANANEWS (Jayapura) – Batik Tulis Port Numbay yang telah merambah ke mancanegara antara lain Belanda, Amerika Serikat, Inggris dan New Zealand. Meski demikian, batik Papua masih membutuhkan uluran tangan pemerintah, dalam hal pendanaan modal untuk pengembangan usaha kearifan lokal.
“Batik yang kami kirim ke negara-negara itu, berasal dari kalangan masyarakat biasa yang melihat kami dari website atau melihat dari hasil liputan-liputan teman-teman media lokal maupun Nasional yang ada di Kota Jayapura, Papua, yang selama ini memperkenalkan batik Port Numbay khalayak umum. Intinya saya besar seperti ini, karena adanya pers,” kata pemilik Pendopo Batik Port Numbay, Jimmy Affar saat ditemui Cendana News di tempat usahanya, Kota Jayapura, Kamis (28/05/2015).
Ia juga menjelaskan, sampai saat ini pihaknya masih mengorder perlengkapan dasar dari pembatikan dari luar Papua seperti kompor, kuali, canting, lilin sampai dengan bahan lainnya, yang didatangkan dari Yogyakarta dan Solo.
Saat ini, pihaknya mempunyai 25 karyawan dan karyawati, yang sebelumnya hanya terdiri lima orang. “Itu kami rekrut dari setiap ada pelatihan, kami ambil yang terbaik. Dari 25 karyawan saat ini, sudah ada tugas masing-masing, ada yang bagian pencantingan, penembokan, gambar motif, pewarnaan dan pelorotan sendiri,” imbuhnya.
Jalan sembilan tahun, lanjutnya, usia pendopo Batik Port Numbay tersebut, dari grafik penjualan sampai saat ini pihaknya telah mendesain lebih dari seratus motif asal Papua.
“Seperti motif untuk tiang, motif pinggiran rumah, motif di Tifa, motif di hantaran-hantaran makanan, itu semuanya dituangkan ke kain yang dijadikan batik tulis maupun batik stempel. Baik itu dari motif asal kampung Nafri, Tobati, Enggros, Yoka, Kayo Pulo, semuanya kami tuangkan,” bebernya.
Dikatakan Jimmy, kain batik tulis sampai saat ini sudah seribu lebih telah diproduksi pendopo Batik Port Numbay dan kalau dihitung sejak pendopo ini didirikan sembilan tahun silam, totalnya telah mencapai 9 ribuan potong kain batik tulis maupun batik stempel.
“Ukurannya bermacam-macam, dari dua meter, dua setengah meter sampai tiga meter, kalau dihitung pertahun, omset kami sampai seribu potong kain batik tulis. Omset semakin meningkat saat jelang lebaran (idul fitri) dan hari besar Natal, juga disaat adanya kunjungan resmi kenegaraan seperti kunjungan Presiden RI dan menteri-menteri datang itu juga meningkat,” ujarnya.
Uluran tangan pemerintah, lanjutnya, sangat dibutuhkan guna menunjang kinerja dan pemodalan saat membeli bahan. “Kami selalu berjalan dengan modal sendiri, adapun bantuan dari pemerintah, tidak berkala atau rutin. Kalau ada modal, kami pasti ada produksi, kalau tidak berarti vakum. Hanya mengandalkan konsumen yang order dengan jaminan pembayaran dimuka,” ujarnya.
Jimmy yang telah dinobatkan sebagai desainer batik Papua oleh Ikatan Perancang Indonesia (IPI) di Hamburg, Jerman (05/07/2014) silam juga mengungkapkan pembatik-pembatik di Papua sampai saat ini dapat dihitung dengan jari. “Saya dan beberapa pembatik Papua yang bisa dihitung dengan jari, terus berjuang untuk mewarisi corak batik asli Papua yang selalu bercerita dan memiliki makna bagi budaya dan adat istiadat Papua,” ungkapnya.
Hingga saat ini, Pemerintah Papua hanya sebatas membeli, memesan dan tidak memperdayakan warisan Papua. Ia terus menerus diajak ikuti sejumlah pameran, namun setelah itu, ia dan sejumlah pembatik lainnya tak lagi dilirik.
“Paling tidak, pemerintah membuat peraturan daerah (Perda) tentang kearifan Papua, sebagai bentuk keberpihakan kepada UKM, misalnya dengan membatasi dan mencetak batik dari luar Papua,” ungkap pemilik brand Batik Port Numbay ini. 
Desainer batik Port Numbay, Jimmy Affar mengaku saat ini industri pabrikan batik dari luar Papua telah membanjiri Papua. Ia khawatir jika tidak ada proteksi terhadap karya asli Papua, maka corak dan gambar untuk batik di Papua akan punah dan susah untuk didapatkan kembali.
“Coba bayangkan, dari lima pembatik yang tersisa, kami dikelilingi oleh karya-karya batik pabrikan dari luar Papua. Paling tidak, pemerintah setempat dapat memproteksi karya asli Papua. Agar batik Papua dapat diwarisi kepada anak dan cucu kita di tanah Papua yang tercinta ini,” keluhnya.
Uluran tangan pemerintah, lanjutnya, sangat dibutuhkan guna menunjang kinerja dan pemodalan saat membeli bahan. “Kami selalu berjalan dengan modal sendiri, adapun bantuan dari pemerintah, tidak berkala atau rutin. Kalau ada modal, kami pasti ada produksi, kalau tidak berarti vakum. Hanya mengandalkan konsumen yang order dengan jaminan pembayaran dimuka,” ujarnya.
Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano
Pemkot Jayapura Siap Bekerjasama Pembatik Port Numbay
Pemerintah Kota Jayapura siap membantu untuk meningkatkan kebutuhan kepada para kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM), salah satunya pembatik Port Numbay yang ada di wilayah administrasi Kota Jayapura.
“Kami pihak kota mendorong untuk membantu UKM ini supaya bisa berjalan dengan baik. mulai dari pembiayaan, mesinnya, Kami minta secara profesional mereka menangani ini dengan baik,” kata Walikota Jayapura, Benhur Tommy Mano saat menghadiri perayaan HUT Kodam XVII/Cenderawasih ke-52 di Makodam, Kota Jayapura.
Pihaknya berharap, para pembatik bekerjasama dengan pemerintah kota, agar ada merek yang sah atau batik Port numbay. “Sampai sekarang kan belum ada merek yang sah atau dipatenkan digunakan batik Port Numbay itu,” kata Benhur, Jumat (29/05/2015).
Sudah lama, kata Benhur, pihak pemerintah Kota Jayapura membuka peluang kepada pembatik Port Numbay. “Tapi yang bersangkutan belum ada keinginan untuk bicara dengan pemerintah kota Jayapura,” singkatnya.
Sebelumnya, keberadaan industri batik Papua terancam punah. dari sekitar 10 pembatik yang ada, tersisa 5 orang. Dimana, kelima pembatik ini tak lagi muda lantaran dimakan usia.
——————————————————-
Jumat, 29 Mei 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Fotografer : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...