Perjuangan Hidup mbah Tumirah di Usia Senja

Mbah Tumira sedang beristirahat sambil menunggu pembeli dagangannya
CENDANANEWS (Yogyakarta) – Di parkiran stasiun Tugu Yogyakarta, tampak seorang wanita tua duduk dilantai dengan alas selendang menunggu pembeli kacang kering yang dijualnya. Mbah Tumirah namanya. Di usianya yang kini 109 tahun dengan tubuh sudah semakin renta, tetap tegar tidak mengeluh walau berpanas-panas dan bersusah payah untuk mencari uang.
“Daripada saya di rumah, ndomblong, nglangut, mending saya jualan kacang, bisa untuk makan hasilnya,” ujar nenek yang mengaku sempat merasakan kejamnya penjajahan Jepang ini kepada CND, Senin (18/05/2015).
Mbah Tumirah tinggal bersama cucunya yang berprofesi sebagai tukang becak di Sosrowijayan, Kota Yogjakarta. Meski secara fisik sudah semakin lemah, mbah Tumirah menolak untuk membuat cucunya repot.
“Ya daripada menyusahkan orang lain, selagi masih bisa cari uang kenapa nggak,” ungkap nenek yang juga akrab disapa para tukang becak dan tukang ojek dengan nama mbah Kacang.
Kacang kering yang dijualnya pun hasil dari olahannya sendiri. Sejak satu tahun lalu dia dibantu cucu dan cicitnya membuat kacang kering dengan menggoreng kacang dengan pasir.
“Kalau kacang dari Temanggung, masaknya sendiri dibantu cucu dan cicit,” tandasnya.
Pendapatan mbah Kacang pun tidak menentu. Terkadang sebungkus kacang yang dijualnya Rp.5000 hanya laku tiga atau empat bungkus saja. Jika beruntung, dia bisa menjual sampai 20 bungkus seharinya.
“Sekarang ini susah, dulu uang 1 sen bisa untuk makan, sekarang seribu cuma bisa beli nasi kucing satu. Sehari dapat berapa pun disyukuri saja,” tandasnya sambil menyeka keringat yg menetes dari dahinya.
—————————————————-
Senin, 18 Mei 2015
Jurnalis    : Mohammad Natsir
Fotografer : Mohammad Natsir
Editor      : ME. Bijo Dirajo
—————————————————-
Lihat juga...