Perlu Ketahanan Agraris Lokal untuk Jaga Pergerakan Harga

Pedagang Sayur di Pasar Buana Raya
CENDANANEWS (Denpasar) – Pasar Buana Raya seperti biasa ramai dikunjungi pembeli mulai pagi hari. Hasil bumi berupa sawi, ketimun, kangkung, bayam, lobak, labu siam, dan lain sebagainya menjadi andalan para pedagang sayur di kios paling depan.
Ibu Putu yang sehari-hari berdagang sayuran di sana selama kurang lebih sepuluh tahun ini tidak terlalu khawatir dengan pergerakan harga. Hal tersebut di karenakan sebagian besar dagangannya adalah hasil panen milik sendiri. Namun hal ini harus dipertahankan oleh petani dengan menjaga kesinambungan panen.
“Yang membuat harga tak menentu adalah sayuran yang berasal dari luar pulau, dikarenakan biaya operasional yang membengkak, jadi hasil bumi petani lokal cukup membantu,” begitulah pernyataan Ibu Putu dengan santai.
Tiga ikat kangkung biasa dijual seharga 2,000 rupiah, seikat besar bayam seharga 2,000 rupiah, dan ketimun jepang walau agak mahal tapi masih jalan di harga 9,000 per kilogram. Sedangkan untuk kacang panjang masih kisaran 5,000 rupiah per kilogram.
Cabe merah masih menyisakan pekerjaan rumah, karena petani di bali belum bisa memenuhi kebutuhan pasar tradisional.Mereka masih membeli dari para pengepul luar pulau. Harga cabe eceran masih terbilang murah, hanya dengan 2,000 rupiah bisa mendapatkan cabe merah dengan takaran tradisional segenggam tangan wanita dewasa.
Agak memprihatinkan datang dari pedagang gula pasir, minyak goreng, dan lain-lainnya. Pak Gede pemilik kios sembako mengeluhkan harga gula pasir yang naik tajam dari 460,000 rupiah per karung menjadi 560,000 rupiah per karungnya. Ada kenaikan signifikan sebesar 100,000 rupiah.
Kenaikan harga tidak berlaku terhadap pemasaran buah-buahan. Harga Pepaya denpasar sudah dua kali turun. Dari harga awal 8,000 rupiah per kilogram mengalami dua kali penurunan menjadi 5,000 rupiah per kilogram. Semangka denpasar dari 10,000 rupiah per biji menjadi 8,500 rupiah. Jeruk Kintamani stabil di harga 7,000 rupiah per kilogram dan bengkoang lokal stabil di harga 6,000 rupiah per kilogram.
“Yang paling stabil adalah jeruk Bali, karena ini khas pulau dewata, bisa dimakan sekaligus jadi persembahan wajib upacara keagamaan maka harganya selalu stabil 10,000 rupiah per biji,” jelas Ibu Ria pemilik kios buah.
Ketahanan pangan dengan cara memacu produksi petani lokal sangat penting untuk mengendalikan pergerakan harga. Masih butuh perbaikan namun sejauh ini sudah memiliki nilai positif di Bali.

——————————————————-
Sabtu, 30 Mei 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...