Pesona Alam Pulau Kabaena dan Keunikan Tokotu’a yang Eksotis

Pulau Kabaena

CENDANANEWS (Bombana) — Sebuah pulau eksotis di Indonesia dengan luas wilayah daratan 873 km² yang berada di Sulawesi Tenggara (Sultra). Pulau itu lebih dikenal dengan sebutan Kabaena. Untuk menuju pulau indah itu, haruslah menyusuri lautan. Ada beberapa akses perjalanan yang dapat ditempuh untuk dapat berkunjung di sana, yaitu dengan berlabuh menggunakan kapal dari Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan atau lewat jalur laut dari Kota Baubau, dan dapat pula ditempuh dengan jalur darat dari Kota Kendari ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara menuju Kasipute Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana. Kemudian melanjutkan perjalanan laut menggunakan kapal cepat berbahanfyber yang merupakan subsidi transportasi laut dari Pemerintah Kabupaten Bombana dengan menempuh perjalanan sekitar dua jam.
Setibanya di Pelabuhan Sikeli Pulau Kabaena, kita akan disambut dengan sebuah fosil tulang ikan paus yang panjangnya berukuran sekitar 20 meter dan lebarnya sekitar 3 meter. Bisa dibayangkan besarnya ikan paus itu sewaktu masih hidup. Singkat cerita dari warga sekitar, ini adalah Pulau Tokotu’a yang merupakan penduduk asli dari Kerajaan Moronene. Dulunya ikan paus itu terdampar dengan sendirinya di pulau ini, seakan mempersilahkan kepada seluruh warga Tokotu’a untuk menyantapnya dan dijadikan sebagai stock makanan hingga berbulan-bulan, agar tidak ada lagi warga Tokotu’a yang kelaparan. Kemudian oleh pemangku adat menjadikan tulang belulang tersebut disimpan hingga sekarang sebagai bukti nyata adanya ikan puas di lautan Sultra.
Keramahan warga Tokotu’a terasa sangat bergema dan memperkuat khasanah kecintaan mereka pada alamnya, inilah bentuk rasa syukur atas nikmat dan anugerah Tuhan Yang Mahakuasa untuk pulau eksotis penuh pesona. Dengan logat khas masyarakat lokal yang unik dan bersahaja, bagaikan konsonan kata-kata pada setiap syair, menjadi nilai tersendiri dari Tokotu’a. Bersilaturahmi bersama masyarakat Tokotu’a menjadi hal yang mempererat tali persaudaraan antarsuku yang ada di pulau ini. Tidak ada lagi perbedaan antara penduduk asli dan pendatang yang kini bermukim di Pulau Kabaena. Persahabatan begitu terasa di sini dan sangat kental menyatukan kopi dan susu. Walau tidak ada warung kopi ataupun cafe di Pulau Kabaena, namun setiap bertamu di rumah warga yang model aslinya adalah rumah panggung, kita akan disajikan air panas dan makanan khas gula kelapa.
Salah satu yang menjadi khasan dari pulau eksotis penuh pesona ini adalah gula kelapa, saya menyebutnya Tokotu’a Sugar. Saya berkesempatan diperlihatkan oleh warga bagaimana proses produksinya. Gula yang diracik dari hasil saripati pohon enau, dicampur dengan kelapa muda, kemudian dimasak dalam tempat khusus, selanjutnya dikeringkan secara alamiah dan diselesaikan dengan membungkus hasil campuran itu dengan daun pisang sebagai kemasannya. Proses yang begitu tradisional namun penuh makna. “Tidak ada yang instan untuk mencapai hasil maksimal, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan menjalani serta menikmati proses. Kolaborasi dari bahan dan sumber yang berbeda dengan sistem kerja sama yang baik dan konsisten tentunya akan menghasilkan produk bercita rasa tinggi sebagai bentuk identitas”.
Tidak dapat dipungkiri keindahan dan kekaguman saya yang luar biasa dari Pulau Kabaena. Penduduk yang bersahaja serta pesona alam dan keunikan Tokotu’a akan menjadi potensi pariwisata dunia yang wajib dieksplor dan dikelola secara konkret oleh pemerintah, baik Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat. Kunjungan selama empat hari tiga malam menjadi catatan terpenting untuk merekomendasikan bahwa pulau Kabaena adalah surga dunia. Potensi sumber daya alam dengan ekosistem yang berlimpah ruah terhempas dipulau ini. Dari wisata laut, hutan, gunung, goa, satwa, seni dan budaya, kuliner khas serta hasil bumi berupa emas, nikel dan batu permata harus disikapi secara bijak sesuai dengan kearifan lokal. Jangan sampai aktivitas pertambangan akan merusak ekosistem yang sudah terbangun sejak berabad-abad dan berlangsung secara alamiah selama ini, musnah oleh keserakahan beberapa pihak yang tidak memikirkan kehidupan masa depan anak-cucu nantinya. Serta menghancurkan pesona alam yang eksotis penuh etika dan estetika.
Pulau Kabaena menyimpan beraneka ragam panorama pantai dengan hamparan batu-batuan permata yang berkilauan menghasilkan warna kebiruan oleh sentuhan sinar matahari, kaya akan hutan mangrove dengan berbagai jenis habitatnya, dan misteri bawah laut yang mencengangkan. Di sekitar Pulau Kabaena terdapat pulau kecil bernama Pulau Sagori yang hanya berjarak 2,5 mil dan dapat ditempuh dalam waktu ±25 menit dengan menggunakan perahu katinting (istilah lokal). Pulau Sagori dicap juga sebagai segitiga bermuda di Indonesia. Karena banyaknya kapal yang tenggelam di dasar laut yang sudah berusia ratusan tahun mendiami bawah laut pulau yang ditumbuhi banyak pohon cemara.
Dasar laut Pulau Sagori masih terdapat kapal yang diyakini berasal dari Cina, karena terdapat simbol mandarin berupa aksara pinyin dan gambar naga yang terukir jelas pada kapal yang karam tersebut, serta masih tersimpan harta karun berupa kerajinan gerabah seperti keramik, piring, dan mangkuk antik yang menjadi produk khas dari Kerajaan Cina. Juga ada kapal-kapal VOC Belanda serta beberapa kapal angkutan dan kapal para nelayan yang tenggelam di Pulau Sagori. Semua itu adalah peninggalan yang menjadi hayati dasar laut sebagai spot untuk berwisata diving yang sungguh mempesona dan menakjubkan.
Etika dan estetika alam yang ada di daratan Tokotu’a memperkuat predikat bahwa pulau ini adalah surga dunia. Desa Tangkeno merupakan daerah pegunungan dengan beberapa bagian anak gunung dan perbukitan. Di sini terdapat Gunung Sangiawita yang sungguh menakjubkan dengan suhu dingin dan sejuk menenteramkan hati dan perasaan. Di sinilah tempat perwujudan sebenarnya akan makna EKSOTISME yang dapat dirasakan seutuhnya. Kita akan merasakan betul tinggal di dalam awan sembari menikmati pemandangan alam yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dari bukit Sangiawita kita dapat melihat secara langsung lautan lepas, permukiman warga Tokotu’a dan puncak Gunung Saba Mpolulu yang merupakan salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara dengan ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut.
Desa Tangkeno telah membuat Tokotu’a menjadi destinasi primadona, karena adanya kawasan wisata yang sudah tertata sopan menyesuaikan struktur alam dan kultur pegunungan. Di kawasan ini terdapat pendopo tempat beristirahat, balai pertemuan, dan rumah adat Tokotu’a yang sengaja dibuat oleh pemerintah setempat dan pemangku adat. Tokotu’a seakan siap menyambut kedatangan para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tujuan utama yang memaksa kita untuk datang ke sini karena adanya Benteng Tuntutari yang unik dan berkesan, berada tepat di puncak bukit Sangiawita. Dari benteng ini, kita dapat melihat secara menyeluruh Pulau Kabaena dari seluruh arah. Baik itu Kabaena tengah, utara, timur, selatan maupun barat. Benteng ini dibangun oleh warga Tokotu’a hasil gotong-royong dari semua penjuru desa yang ada di Pulau Kabaena, sebagai tempat persembunyian dan pertahanan terakhir penduduk Tokotu’a dari marabahaya, serangan musuh, penjajah dan gerombolan yang menjadi sejarah tersendiri bagi Pulau Tokotu’a.
Dari puncak Gunung Sangiawita kita bisa turun melanjutkan destinasi wisata alam lewat rute yang berbeda ke Desa Enano sebagai titik terdekat menuju tempat permandian air panas Watungkoriu dan Goa Watuburi yang merupakan situs purbakala. Posisi permandian air panas Watungkoriu berada di pinggir jalan yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari sisi jalan utama. Di pusat air panas yang modelnya seperti bathup kamar mandi berukuran sekitar 1 x 3 meter itu tepat berada di bawah pohon beringin yang sudah ratusan tahun selalu sigap melindungi dan menjaga mata air panas tersebut. Sementara yang sungguh menakjubkan lagi adalah Goa Watuburi yang berada di tengah tebing dengan ornamen prasasti sejarah peninggalan purbakala dan benda cagar budaya dari zaman batu.
Pulau Kabaena adalah Tokotu’a. Kaya akan sumber daya alam dan memiliki limpahan pesona alam dengan beragam panorama alamiah dalam satu kawasan kepulauan sebagai hotspot destinasi yang eksotis bagi pariwisata Indonesia. Tokotu’a tetap memegang teguh etika, walau memiliki nilai estetika yang menakjubkan.
Fosil Ikan Hiu
Transportasi laut menuju Pulau Kabaena
Tangkeno negri di awan
Pulau Sagori
Rumah Adat Tokotua
Balai Pertemuan di Bukit Sangiawita
Pendopo di Gunung Sangiawita
Pintu Gerbang Benteng Tuntutari
Gunung Saba Mpolulu tertutup awan
Benda Cagar Budaya Goa Watuburi
Goa Watuburi
Mulut Goa Watuburi
Pemandian air panas Walungkoriu
—————————————————————————————–
Minggu, 31 Mei 2015
Penulis : Rendra Manaba – Ketua Forum Indonesia Heritage
Foto : Rendra Manaba
Editor : Sari Puspita Ayu
—————————————————————————————–
Lihat juga...