Petani Buah di Balikpapan Kesulitan Tembus Pasar Nasional


CENDANANEWS (Balikpapan) – Meski tak memiliki lahan yang luas untuk produksi pertanian, Kota Balikpapan di Provinsi Kalimantan Timur adalah salah satu penghasil buah yang cukup produktif. Beberapa diantaranya adalah buah naga, pepaya mini, nanas dan jambu biji. Dua lokasi yang menjadi sentra pertanian adalah Kelurahan Karang Joang Kecamatan Balikpapan Utara dan Kelurahan Manggar Kecamatan Balikpapan Timur.

Di Kelurahan Karang Joang, para petani mengembangkan buah naga, jambu biji, salak dan nanas. Sedangan Kelurahan Manggar terkenal dengan produksi pepaya mini yang manis. Namun sejak dikembangkan setahun terakhir, para petani kesulitan memasarkan produk mereka ke luar daerah. “Agar penghasilan kami meningkat, memang harus mencari pasar pembeli baru,” kata Nugroho (36), petani buah naga. 
Menurut dia, setiap memasuki masa panen harga buah di tingkat petani langsung anjlok karena melimpahnya pasokan. “Kami tak bisa apa-apa selain menjual dengan harga murah,” imbuh petani di Kelurahan Karang Joang itu.
Di tingkat pembeli, harga buah naga saat ini hanya berkisar Rp 7.500 setiap kilogram. Sementara di tingkat petani, harganya hanya Rp 2.500. Buah naga memang sempat menjadi primadona petani buah di Balikpapan, dua tahun terakhir. Harganya sempat menyentuh Rp 35.000 per kilogram. Berbagai cara dilakukan petani buah untuk menekan kerugian akibat murahnya harga buah naga, salah satunya dengan diversifikasi lahan.
“Jika sebelumnya kami hanya menanam buah naga, sekarang diselingi dengan jambu biji dan pepaya,” kata Aden (43), petani lainnya. Di pasaran harga jambu biji bisa mencapai 15 ribu perkilogram. Sementara harga jual petani relative lebih tinggi, antara Rp 7.500  – Rp 10.000 setip kilogram.  Para petani juga harus memutar otak untuk memasarkan produk mereka, lantaran permintaan di Balikpapan dan sekitarnya tak mengalami peningkatan.
“Persoalannya dari tahun ke tahun selalu sama. Ketika panen tiba, harga selalu anjlok, kami tak bisa menikmati berkah panen,” imbuh Supriansyah (39), petani nanas yang tetap bertahan selam lima tahun lebih. Untuk itulah, ia berharap pemerintah bisa membantu memasarkan hasil panen mereka. Para petani tak mampu melawan kuasa para tengkulak yang sanggup menentukan harga pasar.
Berdasarkan data Balai Penyuluh Pertanian Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, ada 39 kelompok petani buah yang menggarap sekitar 35 hektare lahan. Untuk meningkatkan taraf hidup petani, Dinas Pertanian setempat menggelar pelatihan pengolahan produk turunan. 
“Satu-satunya cara yang bisa kami lakukan adalah dengan membekali petani buah untuk mengolah hasil panen mereka menjadi produk turunan, sehingga mempunyai nilai tambah,” Kata Kepala Balai Penyuluh Pertanian Karang Joang, Mathius. Beberapa hasil olahan sudah bisa dijumpai di pasaran, seperti sirup, selai dan makanan olahan lainnya.

——————————————————–
Kamis, 21 Mei 2015
Jurnalis : Ferry Cahyanti
Editor : Sari Puspita Ayu
——————————————————-
Lihat juga...