Petualang Cilik Menjelajah Surga Hutan Tropis


CENDANANEWS (Liputan Khusus) — Riak ombak dan hempasan pasir putih memecah heningnya suasana pantai. Sepoi angin membangunkan mimpi tentang surga yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), sebuah daerah yang banyak di kunjungi oleh mereka yang merindukan suasana sunyi nan damai. Yah, inilah tempat yang baru pertama kali saya jejaki, Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak di ujung paling barat Pulau Jawa. Ujung Kulon dinyatakan sebagai kawasan yang dilindungi sejak tahun 1921 dan ditetapkan sebagai situs  Alam Warisan Dunia  (Nature Word Heritage Site) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa karena memiliki keragaman hayati yang melimpah.
Satu jam lamanya saya berada diatas kapalmilik nelayan setempat, dari pelabuhan Sumur ombak tidak begitu terasa memainkan laju kapal yang saya tumpangi. Pulau-pulau terdekat sangat indah dihiasi dengan pasirnya yang berwarna putih. Sementara gugusan perbukitan berbaris, melingkari  TNUK yang terlihat menghijau tersapu sengatan mentari pagi. Beberapa nelayan sedang mengangkat jaring-jaring penangkap ikannya, hanya dengan menggunakan sampan bercadik dengan layar sebagai motor penggeraknya. Alangkah indahnya negri ini jika semua nelayan menggunakan tenaga alam sebagai alat untuk mencari ikan, disamping tidak merusak alam, keseimbangan ekosistem lautpun akan terjaga.
Menikmati  indahnya pemandang laut hingga saya tertidur dan terbangun setelah kapal telah sandar di dermaga Taman Jaya yang memiliki panjang sekitar 50 meter. Desa Taman Jaya merupakan sebuah desa Kecamatan Sumur, Pandeglang Banten. Desa ini berbatasan langsung dengan kawasan TNUK yang memiliki penduduk kurang lebih 200 Kepala Keluarga (KK). Sesampainya di Taman Jaya saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengeksplore kawasan ini. Kampung Bugis tujuan pertama saya, karna suku dari Sulawesi Selatan inilah yang pertama kali menempati kawasan ini.
Sebelum sampai di kampung yang saya tuju, saya dikejutkan oleh seekor buaya besar sepanjang hampir 5 meter, bertengger diatas sebuah batu karang yang banyak menghiasi pesisir pantai berpasir putih ini. Sontak buaya yang mulutnya sedang menganga ini menjadi tontonan saya dan banyak warga lainnya. “Ah itu sudah biasa disini, asal tidak mengganggu, buaya itu tidak akan menggigit” ucap salah satu warga yang ikut melihat. “Sudah 60 tahun ndi saya tinggal disini” ucap Fuang Arung ketika saya sampai dirumah salah satu warga suku Bugis yang berbentuk rumah panggung. Dengan logatbahasa daerah yang masih kental, Fuang menceritakan proses perpindahannya dari Sulawesi Selatan 60 tahun silam kepulau terpencil ini.
Menjelang matahari terbenam saya bergegas untuk merekam keindahan alam yang mulai berganti malam. Pantulan sinar matahari membentuk bayang-bayang fatamorgana yang indah. Pasang surut air laut mulai nampak,  pasir putih yang menghampar luas tergerus ditelan pasangnya air laut. Suara bising binatang melata mulai terdengar, saling sahut menyahut menandakan waktu telah berotasi. Sayapun kembali kepenginapan yang banyak berdiri di Taman Jaya. Sambil menanti datangnya pagi, saya banyak membaca buku tentang sejarah Taman Nasional Ujung Kulon hingga lelap tertidur.
Selepas sholat subuh saya bergegas mengemas barang. Kapal yang saya tumpangi dari pelabuhan Sumur sudah lama menanti, kali ini saya tidak sendiri, karna ditemani oleh banyak anak-anak dari sekolah alam di Depok menemani perjalanan saya menuju tempat yang sama. Perjalanan lautpun dimulai sebelum mentari  terbit diufuk Timur bersama hadirnya sang penjelajah cilik. Saya terkesima dengan aksi mereka yang menunjukkan kecintaannya kepada bumi pertiwi ini. Yah. Siapa lagi yang akan mewariskan isi alam bumi Nusantara jika tidak kepada generasi yang masih belia ini. Alam adalah sekolahku sementara Samudra luas adalah pusakaku tertera dibuku-buku yang mereka bawa.
Dua jam sudah perjalanan saya berada diatas perahu menuju pulau Handaleum. Pukul  delapan pagi kapal yang saya naiki sudah merapat dipesisir pantai Handeleum. Perjalanan selanjutnya saya menyusuri aliran sungai Cigeunter dengan menggunakan kano. Ada keasikan tersendiri ketika saya mulai mengayuh kano yang memiliki panjang tiga meter dengan ketinggian 50cm, cukup memberikan adrenalin, karna jarak air dengan badan saya cukup dekat, hampir menyentuhaliran air sungai, jika bergerak sedikit saja kano akan bergoyang bahkan akan terguling.
Sebelum memasuki hutan berawa ini, pemandu hutan TNUK memperingatkan agar tidak bersuara keras, karna akan mengundang perhatian banyak primata. Buaya, kera, ular, banteng,  dan binatang buas lainnya yang hidup di hutan ini akan terganggu jika mendengar suara gaduh dari manusia. Memasuki lebih dalam kawasan hutan, perlahan terdengar suara kicau burung saling menyahut. Tenang dan sunyi mengiringi kayuhan demi kayuhan perahu kano yang saya naiki. Tidak jarang ular-ular piton berukuran kecil bertengger di atas ranting yang menyembul diatas aliran sungai.
Para petualang cilikpun tidak kalah semangatnya dengan saya, kano yang ditumpanginya bergerak perlahan tanpa menunjukkan rasa takut, saling mengayuh menyaksikan seisi hutan dengan rasa kagum dan takjub. “Ada jejak langkah badak, perhatikan ditepi muara.” Kata seorang pemandu mengejutkan saya yang sedang asik menikmati kayuhan diatas sungai yang memanjang ta’terlihat ujungnya. Saya menepi melihat langkah badak yang baru saja berkubang diatas sungai berlumpur ini. 
Tidak puas hanya melihat jejak kaki badak, saya mengayuh lebih jauh lagi untuk melihat satwa-satwa asli yang bermukim di hutan ini. Kanopun terus bergerak lamban, melewati sela-sela pepohonan yang tumbuh subur, sesekali saya menemukan pohon yang tumbang membentang menghalangi laju kano kami. Lebih dalam lagi saya mengayuh, jelas terlihat hutan dengan pohon-pohon besar, suara-suara serangga dan burung menjadi pemandu dalam petualangan menyusuri  sungai Cigeunter. Sungguh petualangan yang sempurna, dengan sejuta satwa liar yang bermukim di hutan tropis.
Dua jam lamanya saya berada dipedalaman sungai Cigenteur, hingga akhirnya saya kembali keatas perahu. Handeleum adalah pulau yang selanjutnya akan saya jejaki bersama para penjelajah cilik. Melihat aktifitas mereka yang penuh dengan kreatifitas alam, menggugah saya untuk mendokumentasikan petualangan seru mereka. Belajar dialam terbuka akan memberikan pengalaman  tersendiri agar kelak kecintaan mereka terhadap alam ini tetap terjaga. Melukis, membuat karya dan menanam pohonadalah aktifitas mereka yang sedari tadi saya amati. 
Setelah selesai dan asik melihat kegiatan para penjelajah cilik saya melanjutkan kembali perjalanan menuju pulau Peucang.Lagi-lagi dalam perjalanan, saya ditemani oleh para penjelajah cilik dari kota Depok ini, sebuah kebanggaan tersendiri karena dapat merasakan dan melihat aktifitas mereka yang penuh dengan petualangan alam terbuka. Sangat jarang saya melihat aktifitas anak-anak seusianya untuk bisa melihat apalagi melestarikan alam ini. Tidak hanya gunung, merekapun melakukna aktifitas di laut, sungai hingga dihutan rimba, sungguh kegiatan yang mulia apalagi bisa dilakukan oleh anak seusianya.
Perjalanan lautpun kembali kami jelajahi. Melihat canda ria para penjelajah cilik membangkitkan naluri saya untuk terus bisa menjelajah alam nusantara yang begitu mempesona. Aktifitas para pencari ikan dilaut lepas menjadi tontonan tersendiri buat saya, ombak yang besar tak membuat nyali para penjelajah cilik surut. Tawa dan canda ria menjadi obat penenang agar lekas sampai ketujuan. Dari kejauhan terlihat gugusan pasir putih yang memanjang dengan air jernih yang dapat melihat isi lautan. Akhirnya saya sampai tujuan, setelah  hampir tiga jam lamanya kami mengarungi Selat Sunda.
Tinggal dan bermalam di pulau Peucang sangat mengasikkan dengan latar belakang hutan dan lautan yang menghampar luas. Sebelum memasuki penginapan dengan arsitek rumah panggung, saya disambut oleh sekelompok kera dan rusa yang terlihat begitu jinak. Terasa menjadi tarzan kota dialam terbuka yang penuh dengan sahabat hutan. Sambil menantikan matahari tenggelam saya sudah berada didermaga membawa kail untuk memancing,  bagi saya pemandangan indah di pulau Peucang sayang untuk dilewatkan. Sambil menanti aktifitas apalagi yang dilakukan sang petualang cilik,akhirnya saya tertidur pulas diatas kapal setelah memakan ikan hasil tangkapan pancing saya.
Terlelap dalam tidur hingga saya terbangun setelah matahari menyembul dari ufuk barat. Saya melihat pasukan penjelajah cilik dengan pelampung dibadannya siap melakukan petualangan selanjutnya.”Cibom adalah rute perjalanan berikutnya.” Kata pemilik kapal. Cibom merupakan pantai yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindiya yang memiliki bebatuan cadas dengan ombak mencapai empat meter hingga ke daratan. Inilah tempat yang sering disebut oleh para penjelajah sebagai ujungnya dunia yang memiliki panorama alam yang sempurna. Sangat beruntungnya saya bisa menjejakkan kaki ditempat ini, apalagi bersama dengan para penjejalah cilik.
Cibom letaknya tidak jauh dari Pulau Peucang, hanya memerlukan waktu setengah jam melalui perjalanan laut. Setelah sampai di Cibom seluruh penjelajah menyiapkan barisan dan mulai berkemas,karna perjalanan selanjutnya sangat panjang dan menantang menuju Ciramea. Kami mulai menyusuri hutan yang rimbun, melewati jalan setapak memasuki rimba raya. Lelah dan letih ta’dirasa, pemandangan indah dihutan tropis begitu mempesona, pohon-pohon besar dengan beragam nama menjadi saksi bisu penjelajahan kami. Dua jam lamanya berjalan hingga terdengar suara deras ombak memanggil. Samudra Hindia, Yah, saya sudah berada di depan Samudra Hindia dengan ombak, pasir putih dan hamparan batu-batu cadas yang indah menantang.
Letih yang kami jalani terbayar sudah, sambil beristirahat saya mengabadikan moment demi moment keindahan alam di Ciramea. 15 menit cukup waktu untuk beristirahat, menikmati buah dan sedikit makanan tidak lebih menyenangkan dibandingkan dengan keindahan alam yang ada didepan mata. Jalan berpasir disepanjang pantai Ciramea menjadi pijakan para penjelajah cilik selanjutnya. Mereka membentuk satu barisan,saling mengikuti langkah teman didepannya menuju garis pantai yang memanjang.Teriknya mentari tak menyiutkan nyali mereka, meski pasir yang dipijak begitu dalam menghalangi langkah para penjelajah cilik. Berjalan melewati pasir cukup melelahkan dan menguras banyak energi, namun panorama yang ada dialam ini cukup memberikan kesejukan dan arti tersendiri bagi para penjelajah cilik.
Hampir tiga jam lamanya saya bersama para penjelajah cilik menjejaki pasir putih ini, didepan terlihat bukit berbatu menghalangi laju kami, jalan satu-satunya adalah memasuki hutan seperti pertama kali kami melangkah pertama kali di Cibom. Tanjung layar tempat istirahat kami selanjutnya, setelah satu jam lamanya kami tracking manaiki perbukitan dan bebatuan cadas.
Banyak sejarah yang bisa digali di Tanjung Layar yang awalnya merupakan benteng pertahanan Belanda. Namun semua luluh lantah karena letusan raksasa gunung Krakatau pada 26 Agustus 1883 silam. Namun kemudian pemerintahan Balanda yang dipimpin Jendral Dendles mengupayakan kembali pembangunan Tanjung Layar sebagai pelabuhan terbesar di Asia, namun upaya tersebut gagal karna para pekerja dan seluruh penghuninya terkena wabah penyakit dan diserang oleh binatang pemangsa . Itulah sejarah Tanjung Layar. Mercusuar, dan bangunan yang sudah runtuh bekas peninggalan Belanda, menjadi saksi tempat dimana pelabuhan terbesar di ujung Pulau Jawa pernah dibangun.    
Setelah menikmati dan melihat bekas reruntuhan, kami melanjutkan perjalanan menuju Cibom tempat Tracking pertama kami. Cibom, Ciramea, Tanjung Layar hingga kembali ke Cibom sungguh pengalaman tracking yang mengesankan. Banyak pelajaran yang kami dapat, tidak hanya panorama alam yang indah, tapi sejarah yang tak’luput dari jejak-jejak langkah kami. Sesampainya di Cibom kami istirahat dan menikmati santapan yang sudah tersaji dialam terbuka. Hamparan pasir putih serta birunya laut menjadi pertanda kebesaran Tuhan yang harus di jaga.
Inilah puncak petualangan para penjelajah cilik, setelah istirahat, mereka melanjutkan dengan perjalanan basah menuju perahu yang membawa kami dari pulau Peucang. Tali sepanjang 200 meter dibentangkan dari pantai Cibom menuju perahu. Untuk sampai keperahu para penjelajah diwajibkan untuk menyebrangi lautan dengan berpegangan seutas tali. Perjalanan akhir yang sangat menantang nyali, butuh kesiapan fisik dan mental untuk bisa menyebrangi lautan biru ini, meski mereka sudah diberikan pelampung sebagai alat penyelamat.
Satu persatu para penjelajah cilik menyebrangi lautan dengan berpegangan seutas tali. Dengan nafas yang masih tersisa para penjelajah terus bergerak , meski harus meminum air laut yang asinnya luar biasa. Rasa was-was terus membayangi wajah mereka, namun para penjelajah terus melawan rasa ketakutan dirinya sendiri, hingga akhirnya satu persatu mereka sampai ketujuan, menaiki perahu sebagai jembatan penghubung penyebrangan basah. Usai sudah petualangan para penjelajah cilik, rasa cemas, ketakutan berakir sudah. Terlihat dari senyum tawa dan canda ria mereka ketika berada diatas perahu.
Saya bersukur bisa menjelajah dan banyak melihat keindahan negri ini, terlebih bersama para penjelajah cilik yang baru saya kenal. Tidak ada rasa takutsedikitpun, semua dijalani dengan penuh semangat dan pershabatan. Saya menyaksikan dari awal keberangkatan dari Taman Jaya dilanjutkan berkano ria di Cigenteur, kemudian menuju pulau Peucang yang banyak menawarkan sejuta keindahan dengan tracking dari Cibom, menuju Ciramea hingga ketempat bersejarah Tanjung Layar. Dan demikianlah waktu menggoreskan ceritanya. Tanpa alas kaki bermain, belajar dan bercerita bersama-sama para penjelajah cilik. Hingga akhirnya saya kembali ke Jakarta tempat dimana aktifitas tersibuk berada.
—————————————————————
Kamis, 28 Mei 2015
Jurnalis : Syamsudin Ilyas
Foto : Syamsudin Ilyas
Editor : Sari Puspita Ayu
—————————————————————
Lihat juga...