Produktifitas Tinggi Kakao Diikuti Harga Turun Setiap Tahunnya

Kakao

CENDANANEWS (Lampung) – Produktifitas tanaman kopi coklat atau Kakao milik petani di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni sepanjang bulan Maret hingga Mei mengalami kenaikan. Kenaikan produktifitas tersebut diakui oleh salah seorang petani di desa tersebut, Aceng (50) yang mengaku mulai menanam kako sejak tahun 2000.
Aceng mengungkapkan musim berbunga tanaman kakao miliknya saat musim kemarau membuat bunga pada tanaman kakao tidak rontok dan pertumbuhan bakal buah kakao cukup bagus.
“Berbeda jika musim berbunga berbarengan dengan musim penghujan, banyak bunga yang rontok dan produksi buah kakao menurun,”ungkap Aceng kepada media ini sambil menjemur biji biji kakao miliknya Sabtu siang (16/5/2015).
Aceng mengungkapkan sebagai petani, pekerjaan utamanya mengurus kebun jagung serta tanaman kakao. Ia mengaku meskipun kakao miliknya merupakan tanaman sela namun hasil yang diperoleh cukup lumayan.

Kakao yang ditanam sebagai tanaman sela di pinggir kebun jagung miliknya berjumlah sekitar 100 pohon, sementara khusus tanaman kakao, Aceng mengaku memiliki lahan sekitar 1 hektar dengan rata rata produksi sekitar 100 kilogram perbulan.
“Harga kakao pada tahun 2015 ini mengalami penurunan sebab banyak petani kakao yang panen sehingga penampung kewalahan menerima kakao dari para petani,”ungkap Aceng.
Ia membandingkan harga Kakao pada tahun 2013 yang mencapai Rp30.000,- hingga Rp35.000,- per kilogram. Sementara pada tahun 2014 bisa mencapai Rp25.000,- hingga Rp30.000,-. Sementara harga kakao di tahun 2015 diakui Aceng hanya bisa maksimal di harga Rp25.000,- hingga Rp28.000,-
“Harga tersebut dengan kadar air mencapai 5 persen setelah dijemur sementara yang kadar airnya masih tinggi 8 persen bisa lebih murah lagi dibeli pengepul,”ungkap Aceng.
Harga yang cukup anjlok tersebut menurut Aceng masih lumayan dalam suasana musim kemarau saat ini, sebab proses pengeringan dengan menjemur pada sinar Matahari langsung lebih cepat. Ia mengaku memerlukan waktu sekitar 4 hingga 5 hari hingga biji biji Kakao tersebut benar benar kering dan memiliki kadar air rendah.
“Kalau hujan repot karena penjemuran tidak sempurna kadang berjamur dan harga jualnya bisa lebih rendah lagi, maka mumpung masih panas saya jemur semua kakao milik saya ini,” ungkap Aceng.
Pada musim panen kakao bulan Maret hingga Mei ini Aceng mengaku masih bisa memanen Kakao dengan jumlah sekitar 100 kilogram per bulan dengan pendapatan sekitar Rp2.700.000,- jika diasumsikan  rata rata harga Rp27ribu. Sementara pada tahun tahun sebelumnya produksi tanaman kakao miliknya bahkan bisa menghasilkan sekitar 200kilogram per hektar per bulan.
Aceng mengaku belum menggunakan proses fermentasi untuk pengeringan biji kakao, ia bahkan masih menjemur dengan sistem manual di atas terpal di depan rumahnya bahkan hingga di tepi jalan lintas Sumatera.
“Kalau hasil penjualan bagus bisa untuk biaya sekolah anak dan sisanya dipakai untuk keperluan sehari hari,” ujarnya.

Potensi dari menanam Kakao diakuinya sebagai tanaman yang bisa dijadikan tabungan sebab Kakao miliknya selalu berbuah dan proses perawatan tanaman kakao miliknya dilakukan secara rutin di sela sela aktifitasnya mengurusi tanaman jagung miliknya.
———————————————————- 
Sabtu, 16 Mei 2015
Jurnalis      : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor        : ME. Bijo Dirajo
———————————————————-
Lihat juga...