Puluhan Mama-Mama Asli Papua terima Latihan Membatik

Nampak salah satu mama-mama Papua serius mencanting
CENDANANEWS (Jayapura) – Puluhan mama-mama asli Papua menerima pelatihan membatik di pendopo Batik Port Numbay, Kotaraja, Kota Jayapura, Papua. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan sumber ekonomi keluarga maupun lingkungan sekitar, dan juga untuk mempromosikan kecintaan batik tulis kepada masyarakat Papua.
Sekertaris Distrik Abepura, Anna A.P. Fakdawer mengatakan, kegiatan ini salah satu dari program pemberdayaan distrik. Pihaknya melihat potensi dan peluang dari membatik sangat luar biasa, khususnya untuk batik Port Numbay.
“Karena sekarang dimata Dunia, atau dimanapun juga, batik ini sangat diminati oleh semua kalangan. Khususnya kami di Kota Jayapura, yang sedang populer saat ini adalah batik Port Numbay,” kata Anna, Kamis (28/05/2015).
Selain itu, lanjut Anna, batik Port Numbay disukai semua orang, setelah pihaknya berkoordinasi dengan pendesain dan pemilik pendopo Batik Port Numbay, Jimmy Afar. Ternyata, orderannya sangat banyak dan membutuhkan bantuan tenaga. Sehingga, pihaknya memanfaatkan moment tersebut dan sekaligus memberikan pelatihan kepada masyarakat dari Distrik Abepura, Kota Jayapura.
“Kami dari distrik melihat ini sebagai satu kesempatan untuk memberdayakan masyarakat yang ada di wilayah distrik Abepura, peserta pelatihan membatik ini terdiri dari 8 kelurahan yang ada di wilayah distrik kami,” imbuhnya.
Delapan kelurahan yang ada di distrik Abepura, lanjutnya, kelurahan Kota baru, Yobe, Awiyo, Asano, Vim, Waimhorok dan kelurahan Abe Pantai, sedangkan 3 kampung yang juga ikuti pelatihan ini adalah kampung Enggros, Nafri dan kampung Koya Koso.
“Semuanya berjumlah 50 orang, dan ini kami kategorikan setiap kelurahan satu kelompok. Setelah pelatihan ini mereka akan terus mengembangkan dirinya dan kami bekali dengan peralatan-peralatan sesuai dengan apa yang ada dipelatihan ini, seperti kompor kecil untuk memasak lilin membatik, canting dan lainnya,” ujarnya.
Besar harapannya, dikatakan Anna, setelah pelatihan ini, ia berharap para peserta terus mengembangkan hasil dari pelatihan membatik dan mengaplikasikannya kepada yang lain.
“Tetap ini menjadi kegiatan mereka sehari-hari untuk mendatangkan penghasilan bagi mereka. Karena, di sini Pak Jimmy pun membuka peluang untuk itu, apabila ada hasil produk yang dibuat dapat dipasarkan,” bebernya.
Jimmy Afar, desainer sekaligus pemilik pendopo Batik Port Numbay berikan apresiasi kepada distrik Abepura, karena kegiatan ini dapat memotivasi para masyarakat asli Papua. Karena, peminat pemakai batik tulis telah merambah ke seluruh pelosok Papua. Maka, menurutnya perlu tenaga-tenaga pembatik harus lebih banyak, sehingga dapat melayani pesanan dari konsumen.
“Langkah-langkah ini saya ambil, dan distrik Abepura mengambil langkah ini untuk memberikan peluang ekonomi tambahan kepada masyarakat di seluruh kampung yang ada,”
Dari kesekian kali pelatihan, diungkapkan Jimmy, total keseluruhan kurang lebih 500 peserta pelatihan, kali ini adalah peserta yang terbanyak dalam satu kali sesi latihan membatik.
“Ini peserta paling terbanyak, yang dikirim sebanyak 50 peserta. Dan membuat kami agak sedikit kewalahan. Namun dengan memberikan arahan teknik-tekni untuk membatik, para peserta sangat antusias, menyimak serta mempraktekkannya dengan lancar, sampai saat ini sudah ada kelompok yang masuk dalam tahap pewarnaan, ini menunjukkan kecintaan mama-mama Papua terhadap pekerjaan membatik ini sudah terlihat, mereka sudah menganggap bahwa ini sudah menjadi sumber daya ekonomi di dalam keluarga dan lingkungan mereka nanti,” katanya.
Dalam membatik, dijelaskan putra asli Port Numbay ini, langkah pertama yang dilakukan adalah para peserta wajib mengenal terlebih dahulu alat-alat pendukung untuk membatik. Kedua, harus mengetahui pola gambarnya. Ketiga, harus mencanting. Ke-empat, mecoret warna diatas motifnya. Kelima, mengunci warnanya agar tidak luntur. Ke-enam, proses pencelupan warna dan yang terakhir para peserta harus merebus, sehingga munculnya motif yang diberinama Batik Tulis.
“Kain putih yang digunakan bukan sembarang kain yang harus digunakan, dan kedua gunakan canting yang terdiri dari 3 jenis yakni mata halus, sedang dan mata besar. Berikutnya, lilin batik (kolong) untuk digunakan mencanting, kalau tidak ada lilin, biarpun ada pola gambar dan kain, proses membatik tidak akan jalan,” imbuhnya.
Desainer dan Pemilik Pendopo Batik Port Numbay, Jimmy Afar

Sekertaris Distrik Abepura, Kota Jayapura, Anna A.P. Fakdawer

Peserta lakukan proses pewarnaan batik tulis

Puluhan mama-mama asli Papua dilatih membatik
——————————————————-
Kamis, 28 Mei 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Fotografer : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...