Swadaya dan Gotong Royong, Warga Latu Bangun Mesjid Raya

Pembangunan Masjid Raya di Desa Latu
CENDANANEWS (Ambon) – Baik perempuan, orang tua renta maupun anak di bawah umur, semuanya secara sukarela ambil bagian di setiap waktu kerja demi membangun mesjid kebanggan mereka di Negeri/Desa Latu Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian barat (SBB), provinsi Maluku.
Saat ini warga Negeri Latu, membangun sebuah Masjid Raya. Masjid tersebut boleh dibilang memiliki ukuran paling terbesar di Pulau Seram.
Lihat saja di lokasi pembangunan selama beberapa hari terakhir, di setiap waktu kerja, meski diguyur hujan deras atau terjemur di bawah terik matahari, warga tetap bersemangat dalam bekerja.
Uniknya, bukan saja pria dewasa yang melakukan pekerjaan keras semisal  mengaduk dan menyuplay campuran material beton untuk pengecoran dibagian tertinggi bangunan mesjid, tapi pekerjaan itu juga dilakukan oleh kaum perempuan dan anak di bawah umur.
Kondisi ini memang sangat membahayakan, tapi hal itu tidak lantas menjadi penghalang, prosesnya pun berjalan lancar dan apa adanya. Yang pria hanya sesekali memberikan peringatan bagi mereka kaum perempuan dan anak di bawah umur agar bekerja lebih hati-hati.
“Dong pegang kuat-kuat e (kalian pegang yang kuat)… dong jang barmaeng-barmaeng (Kalian jangan main-main) di atas. Awas dong punya mata jang sampe kenal (awas mata kalian jangan sampai kena) air semen,” seru datar beberapa orang tua dengan dialeg setempat kepada sejumlah perempuan dan para anak di bawah umur yang sedang menyuplai campuran material beton di ketinggian bangunan masjid berukuran lebih 4 – 5 meter itu.
Bagi warga dan Pemerintah Negeri Latu, adanya keterlibatan pihak-pihak yang tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan orang dewasa ini, bukan karena mereka tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Azasi Manusia (HAM), bukan pula pemerintah negeri menerapkan sistem kerja paksa seperti halnya di zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, namun kerja keras yang dilakukan warga, tidak lain adalah untuk mengukir sebuah jejak peradaban bagi generasi mereka dimasa mendatang.
Seperti kebanyakan masyarakat muslim di daerah lainnya, selain untuk sebuah peradaban, partisipasi warga beramai-ramai datang dalam proses pekerjaan masjid itu sendiri. Tak lain untuk meraup pahala. Karena itulah dalam proses pekerjaannya,  tidak ada yang membatasi ataupun dibatasi, tidak pula ada pemaksaan, yang ada hanya saling mengingatkan agar lebih berhati-hati.
Sekilas mengenai bangunan masjid Latu diberi nama “Assyukur” ini, dibangun di atas lahan kosong seluas kurang lebih dua hektare. Bangunan utamanya berukuran 45 x 35 meter persegi dengan ketinggia pada ring balok pertama mencapai 6 meter. Selain bangunan utama, masjid itu juga memiliki serambi atau oleh orang kampung disebut “pasebang” yang terletak di bagian belakang.
Sebagaimana bentuk gambarnya, konstruksi bangunan Masjid Raya As’syukur itu, masih mengadopsi mode kebanyakan masjid peninggalan zaman dahulu di Maluku, yakni bertipe pundan berundak-undak. Tapi, sedikit dipadu dengan cirri khas arsitektur modern.
Selain memiliki tiga buah kub’bah, yang mana satu diantaranya berdiameter besar dan duanya lagi berdiameter sedang, juga terdapat dua buah menara setinggi kurang lebih 25 meter, tepatnya di samping kiri dan kanan bangunan masjid.
Proses pembangunannya sendiri, dikerjakan sudah sejak 2002. Dimana Negeri Latu saat itu masih dipimpin raja Kadir Patty (Almarhum). Peletakan batu pertama untuk pembangunan pondasinya, turut dilakukan oleh mantan Bupati Maluku Tengah, Abdullah Tuasikal. Oleh karena saat itu Negeri Latu masih berada dalam Wilayah Pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah.
Pasca pondasinya selesai dikerjakan, pembangunan masjid kemudian ditunda selama hingga kurang lebih 12 tahun, dengan alasan satu dan lain hal. Baru di tahun 2014, Pemerintah Negeri Latu di bawah kepemimpinan Raja Ridwan Patty, bersama salah satu pencetus pembangunan masjid sekaligus donatur khusus yang juga merupakan tokoh masyarakat Latu, akhirnya memutuskan proses pekerjaannya dilanjutkan lagi.
Pembangunan masjid raya Latu yang boleh dibilang masjid terbesar kedua di Provinsi Maluku (setelah Mesjid Raya Alfatah) itu, proses pekerjaannya sudah memasuki 60 persen tahap penyelesaian. Menariknya, anggaran pembangunannya dibiayai secara swadaya oleh masyarakat Negeri Latu sendiri.
Selain hasil jerih payah warga, ada juga bantuan tidak terduga lainnya yang diberikan secara individu oleh warga dari desa tetangga yakni warga Tumalehu dan Hualoy. Sedangkan proses pekerjaanya, dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat, melalui komando kepala tukang.
Saat mengerjakannya, warga diberi tugas kerja semampunya secara bergilir. Disetiap hari Senin, Selasa dan Rabu. Dimana pada jadwal yang sudah ditentukan itu, untuk Senin adalah waktu kerja bagi warga Latu yang berdomisili di dusun 1 (lorong satu). Selasa bagi warga di Dusun dua dan tiga (lorong 2-3) dan Rabu adalah waktu kerja bagi warga yang berdomisili di dusun empat (lorong 4). Sedangkan untuk hari Minggu adalah waktu kerja massal bagi warga sekampung Latu termasuk untuk warga di Dusun Namatotur.
Sekretaris Negeri Latu, Hasanudin Patty saat ditemui dilokasi pembangunan masjid mengatakan, jadwal kerja tersebut akan terus berlaku hingga masjid rampung. Kata dia, jika tidak ada halangan bagi warga dan  Pemerintah Negeri/Desa Latu, maka proses pembangunan masjid semua pekerjaannya ditargetkan rampung pada 2016 nanti.
“Semua bahan sudah tersedia. Hanya persoalan waktu saja. Kalau tidak ada halangan, Insya Allah semua pekerjaan sudah bisa selesai pada 2016 nanti. Insya’Allah,” terangnya.
Menurut Hasanudin, pembangunan masjid raya sebenarnya bisa saja diselesaikan di 2015, namun semua yang bekerja tidak diupah sebagaimana pekerja bangunan pada umumnya. Sehingga pihaknya wajib memberikan kesempatan kepada warga masyarakat Latu untuk mengurus lahan perkebunan mereka yang ditanggalkan selama ini, karena sedang bekerja membangun masjid.
Kebijakan itu diambil pihak panitia pembangunan mesjid dan pemerintah negeri Latu, lanjutnya, karena warga Latu seluruhnya beragama muslim, mayoritas penduduknya tbergantung hidup pada hasil hutan.
“Pada prinsipnya, katong (kami) dengan samua masyarakat di negeri ini, menginginkan hal yang sama. Yakni pembangunan masjid harus selesai dalam waktu dekat. Cuma selaku penanggungjawab, katong (kami-panitia) juga harus mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat. Rata-rata masyarakat di Latu ini kan semua bergantung hidup di hutan. Jadi, sesekali katong (kami panitia) harus kasi kesempatan par dong pigi pameri dusun sadiki (kita harus sesekali berikan waktu buat masyarakat untuk pergi ke kebun dan hutan), biar kondisi ekonomi mereka juga tidak terganggu,” tutur Hasanudin dengan dialeg Maluku.
——————————————————-
Jumat, 29 Mei 2015
Jurnalis       : Samad V Sallatalohy 
Fotografer : Samad V Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...