Tim Pembangunan Jalan Tol Terus Bergerak, Titik Nol Ditimbun


CENDANANEWS (Lampung) — Proses groundbreaking Jalan Tol Sumatera (JTS) yang telah dilakukan pada tanggal 30 April lalu sempat dipertanyakan oleh masyarakat terkait kelanjutannya. Bahkan proses pembangunan Jalan Tol Sumatera (JTS) tersebut di titik nol Desa Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung sempat tak ada aktifitas. Terlihat alat berat yang berjajar rapi di titik nol tersebut tanpa aktifitas sementara lahan yang penuh genangan air belum ditimbun dan masih penuh genangan air di dekat areal dermaga III Pelabuhan Bakauheni.

Kini proses penimbunan terus dilakukan oleh sekitar 4 unit alat berat dan mobil mobil truk bak terbuka lalu lalang mengangkut material tanah timbunan dan juga batu. Salah seorang petugas, Budi Binawan (36) kepada media ini mengungkapkan penimbunan dilakukan untuk meratakan tanah yang penuh dengan rawa rawa di titik nol JTS di Bakauheni di lahan milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) tersebut.
Ia mengungkapkan proses pengerjaan yang dilakukan oleh PT Hutama Karya (HK) tersebut terus dikebut di titik nol sebab direncanakan pada akhir bulan Mei ini juga akan dilakukan groundbreaking di dermaga VII dan VIII Pelabuhan Bakauheni oleh Presiden Joko Widodo.
“Kita hanya melakukan tugas penimbunan di lokasi titik nol, untuk hal lain lain terkait kelanjutan jalan tol nanti ada yang berwenang menjawabnya mas,” ungkap Budi Binawan saat ditemui di lokasi titik nol JTS di Bakauheni Selasa (26/5/2015).
Sementara itu puluhan truk trus berdatangan membawa material tanah merah, tanah berbatu sebagai bahan penimbunan di lokasi titik nol JTS tersebut.
Sejalan dengan penimbunan tersebut, dari Dinas Pekerjaan Umum Lampung Selatan, beberapa tim diterjunkan melakukan verifikasi terkait lahan warga yang akan dilalui jalan tol. Menurut salah seorang petugas dari Dinas Pekerjaan Umum, Budi, yang juga Kepala Unit Tekhnis Dinas Pekerjaan Umum Kecamatan Bakauheni, Ketapang dan Penengahan mengungkapkan banyak tim yang dilibatkan dalam proses awal pembangunan jalan tol tersebut.
“Banyak tim yang dilibatkan dan secara kebetulan yang hari ini melakukan pendataan yakni tim untuk verifikasi bangunan, lahan serta pendataan tanah perkebunan,” ungkap Budi.
Berdasarkan pantauan, tim dari dinas PU Lampung Selatan tersebut diantaranya mendata jumlah tanam tumbuh khusus tanaman perkebunan yang akan dilalui JTS diantaranya tanaman kelapa, tanaman tanaman lain milik warga. Sementara itu tim lain mendata bangunan, serta mengukur rumah yang dilalui jalan tol dan menandainya dengan tanda silang bercat merah.
Para anggota tim verifikasi dan pendataan tersebut mengaku pendataan akan dilakukan dari Desa Bakauheni hingga Desa Hatta yang berada di Kecamatan Bakauheni. Hari ketiga pendataan tim masih mendata di sekitar Desa Bakauheni dan terkait hasil serta jumlah rumah yang didata tim tersebut belum bisa dikonfirmasi. Bahkan terkait kapan pembebasan lahan, ganti rugi serta pelaksanaan penggusuran para petugas dari dinas PU mengaku masih belum pasti dan masih dalam tahap pendataan warga serta lahan yang akan dilalui jalan tol.
“Mengenai data rumah, lahan yang kami data belum bisa kami beberkan sebab masih terus dilakukan pendataan. Tim tim yang bertugas pun beda beda nanti saja kalau sudah selesai ya mas,” ujar salah satu petugas dari dinas PU Lampung Selatan yang enggan disebut namanya.
Salah seorang warga Dusun Kenyayan Bawah, Desa Bakauheni Paryono (34) mengaku lega rumah, tanah, serta tanam tumbuhnya sudah didata oleh petugas untuk pembebasan jalan Tol. Meskipun demikian ia mengaku belum menerima informasi terkait besaran nilai nominal ganti rugi lahan miliknya serta kapan akan dilakukan penggusuran.
“Pastinya rumah, tanah yang saya tempati sudah terkena patok jalan tol dan mau tidak mau nanti kami akan pindah kalau sudah mendapat ganti rugi,” ujar paryono.
Paryono mengaku membeli lahan tanah yang saat ini ditempati pada tahun 2005 seharga Rp12 juta. Ia berharap mendapat ganti rugi yang tepat agar ia bisa membeli lahan baru di daerah Way Baru yang masih berada di wilayah Bakauheni. Ia mengaku belum berniat pindah sebelum ada kejelasan terkait ganti rugi lahan untuk pembangunan jalan tol.
Berdasarkan data yang dihimpun Cendananews.com, jalan tol di Provinsi Lampung sepanjang 140,41 km dan luas 2.671,62 hektar itu melintasi tiga Kabupaten yakni Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Lampung Tengah, 16 Kecamatan dan 74 Desa.
Kabupaten Lampung Selatan akan dilalui jalur tol terpanjang yakni 104,7 km dengan luas 1.867,70 hektare terbentang di 11 kecamatan dan 50 desa yakni Kecamatan Bakauheni melintasi Desa Bakauheni, Klawi dan Hatta. Kecamatan Penengahan (Pisang-Sukabaru-Penengahan-Tataan-Banjarmasin-Klaten-Ruang Tengah-Kelau-Rawi-Kuripan-Taman Baru). Kalianda (PTP X dan Munjuk Sempurna). Way Panji (Sidomakmur dan Sidoarjo).
Kecamatan Sidomulyo (Sidowaluyo-Sidodadi-Sidorejo-Seloretmo-Sidomulyo-Campang Tiga). Candipuro (Way Gelang dan Desa Sinar Rantau Minyak). Ketibung ( Tanjungan- Tanjung Agung-Tanjungratu-Sukajaya-Pardasuka). Merbau Mataram (Desa Karang Raja dan Merbau Mataram). Tanjung Hintang (Sinar Ogan-Serdang-Galih Lurik-Sukanegara-Lematang-Sukabumi-Sabah Balau).
Jati Agung meliputi Desa Way Hui- Jati Mulyo dan Fajar Baru. Kecamatan Natar (Sidosari-Merak Batin-Tanjungsari-Bumi Sari-Candi Mas-Branti Raya-Banjar Negeri dan Mandah.
Selanjutnya di Kabupaten Pesawaran panjang 5,60 km luas 135,18 hektare atau yang terpendek dan hanya berada di Kecamatan Tegineng meliputi Desa Kejadian-Kota Agung-Negara Ratu dan Wates.
Selanjutnya di Kabupaten Lampung Tengah dengan panjang 30,11 km dan luas 668,48 hektare yakni Kecamatan Bumi Ratu Nuban (Sukajaya-Sukajadi-wates-Humi Raharjo-Sidowaras). Gunung Sugih (Gunung Sugih-GujungSugih Raya-Buyut Udik). Trimurjo (Pujo Asri – Pujo Basuki). Terbanggi Besar meliputi Desa Indra Putra Subing -Bandarjaya-Karang Endah dan Terbanggi Besar.

——————————————————–
Selasa, 26 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : Sari Puspita Ayu
——————————————————–
Lihat juga...