Travel Gelap Versus Travel Resmi, Perang Dingin Travel dan Bus

Mobil Travel Resmi
CENDANANEWS (Lampung) – Paska dirazia beberapa waktu travel-travel berplat hitam mulai hilang dari pelabuhan Bakauheni. Namun upaya  Dinas Perhubungan Lampung Selatan dan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Bakauheni menertibkan travel gelap atau tanpa izin agaknya harus dilakukan dengan tegas. Pasalnya selama ini bukan menjadi rahasia umum bahwa  travel gelap  atau yang berplat hitam yang beroperasi di jalur trayek Bakauheni Bandarlampung  lebih lihai memainkan peran.
Meskipun berkali-kali dirazia namun terkadang razia yang dilakukan oleh pihak terkait sudah disiasati sebelumnya oleh para sopir travel gelap. Meskipun jelas-jelas travel resmi dipasangi stiker nama perusahaan travelnya, juga berplat kuning. Namun plat hitam atau travel gelap lebih pandai dalam mencari sasaran penumpang di sepanjang Jalinsum arah Bakauheni Bandarlampung.
Baca juga: Dishub Gencar Lakukan Razia, Penumpang Diturunkan Sembarangan
Keberadaan travel gelap tersebut memang  seperti mata rantai. Karena seperti yang ditelusuri Cendananews.com dengan cara mengikuti salah satu travel resmi trayek Pelabuhan Bakauheni Terminal Rajabasa Bandarlampung, banyak pihak yang ikut berperan. Sebut saja Andi, salah seorang pencari penumpang.  Ia akan menunggu di pintu turun dari Gangway Pelabuhan Bakauheni untuk mencari penumpang yang  turun dari kapal dari Pelabuhan Merak. 
Selanjutnya penumpang yang akan naik travel gelap tersebut biasanya akan diantarkan oleh tukang ojek yang juga sudah biasa mengantarkan penumpang tersebut ke pangkalan travel gelap yang ada di luar Pelabuhan.
Sopir travel gelap yang biasanya beroperasi  akan memberikan fee kepada “pengumpan” yang telah mendapatkan penumpang. Seperti halnya Panji, tukang ojek yang biasanya mendapat tips dari sang sopir, ala kadarnya. Dalam menjalankan operasinya para sopir travel gelap memang  lebih lihai karena mereka menunggu penumpang yang keluar dari Pelabuhan Bakauheni dengan menunggu di tempat-tempat yang strategis di luar Pelabuhan seperti di SPBU Bakauheni. Travel gelap yang beroperasi di jalur Lintas Sumatera bahkan secara terang-terangan beroperasi baik siang maupun malam hari.
“Kita tahu sama tahu aja, ga pernah mematok harus memberi berapa. Yang terpenting saling menguntungkan, saya dapat penumpang tukang ojek juga kebagian rejeki, “ ujar saiful, sopir Travel yang biasa mangkal di samping Bank Lampung Cabang Bakauheni kepada media ini Jumat (8/5/2015).

Sementara itu hadirnya travel gelap ini sudah pasti menimbulkan “perang dingin” antara sopir travel resmi, juga sopir bus. Meskipun tidak secara frontal namun persaingan tersebut muncul  saat mencari penumpang. Akibatnya sering terjadi tarik menarik antar pencari penumpang resmi atau tak resmi. Bahkan pernah dijumpai oleh media ini dua orang pencari penumpang harus bersitega berebut penumpang sehingga petugas polisi dari KSKP Bakauheni harus turun tangan.
Para sopir travel resmi  atau travel berplat kuning merasa kesal karena jatah penumpang mereka berkurang. Demikian juga sopir bus .  Joni, salah seorang sopir travel resmi mengatakan keberadaan travel gelap yang operasinya tidak disertai izin dari Dinas Perhubungan ini merugikan travel resmi lainnya.  Karena  travel berpelat kuning harus membayar izin dan ada uji KIR-nya secara berkala.
Sementara sopir bis kesal karena dalam perjalanan arah Bandar lampung atau sebaliknya, penumpang yang  menunggu sudah ‘dihabiskan” oleh para sopir travel gelap. Biasanya bus mematok ongkos yang sudah ditetapkan kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per penumpang. Sedangkan travel pun mematok ongkos Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Namun semuanya tergantung dari kemauan para penumpang. Tetapi pada kenyataannya travel bisa mematok harga hingga Rp 50 per orang atau lebih sesuai jaraknya.
Faktor keinginan penumpang untuk lebih memilih travel gelap agaknya menjadi penyumbang utama keberadaan travel gelap. Sebagian besar mengaku karena memburu waktu sehingga terlalu lama menunggu bus atau travel resmi.  Sedangkan titik-titik travel resmi biasa mangkal biasanya di perempatan  Gayam, perempatan Blambangan, Perempatan Tugu Raden Intan dan di dekat Samsat Kalianda. Sedangkan sopir travel gelap pandai mengambil celah untuk mengambil penumpang tanpa harus berhenti berlama-lama di titik-titik tersebut.
“Kalau saya tidak peduli itu travel gelap atau bukan. Yang terpenting saya mau ke Bandarlampung cepat sampai dan ongkosnya juga tak terlalu selisih banyak dengan bus, “ ungkap Nani yang seminggu sekali  menggunakan jasa travel.
Meskipun kerapkali dilakukan razia baik di terminal Pelabuhan Bakauheni maupun di terminal Rajabasa Bandarlampung namun masyarakat pesimis hal tersebut akan mengurangi keberadaan travel gelap. Bahkan masyarakat apatis karena bukan rahasia umum bahwa travel-travel gelap tersebut “bermain mata” dengan petugas. 
Permainan tersebut dibenarkan salah satu sopir resmi Purnagama bernama Andi, sebab seharusnya travel berplat hitam tidak diperkenankan untuk masuk ke Pelabuhan Bakauheni namun karena faktor tertentu travel plat hitam yang seharusnya izin trayeknya bukan untuk mengangkut penumpang masih bisa bebas berkeliaran mencari penumpang.
Bahkan Teguh  yang pernah menjadi sopir taksi di Jakarta dan kini menjadi sopir Travel resmi, mengatakan peniadaan travel gelap tak akan berhasil jika  masyarakat masih lebih senang menggunakan travel gelap dibanding travel resmi.  Padahal sudah sering terjadi ada aksi kejahatan yang terjadi di dalam travel gelap, sehingga tak bisa dilacak keberadaan travel tersebut.
“Kalau travel resmi kan ada nomor telepon kantornya sehingga jika terjadi apa-apa bisa dicomplain. Sedangkan travel gelap kan tidak ada, jika ada kejadian tak diinginkan kita sulit untuk complain, “ terang Teguh.
Keberadaan travel tak resmi tersebut bagi penumpang bus, penumpang travel resmi berplat kuning pun dirasakan saat berada di jalan raya. Upaya mengejar setoran membuat sopir terpaksa memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan faktor keselamatan.
Travel-travel yang beroperasi di jalur Bakauheni Bandar lampung memang makin banyak jumlahnya, baik yang resmi atau tidak.  Jika operasi penertiban yang dilakukan oleh Dishub dan KSKP Bakauheni berhasil, kemungkinan akan berkurang keberadaan sopir gelap. Namun jika pengawasan berkurang, operasi  travel gelap tersebut masih akan tetap ada.  Selama operasi penertiban atau razia, mereka mungkin tak beraktifitas. Namun saat razia tak ada travel gelap pun akan tetap beroperasi.
Mobil Polisi sedang berjaga di terminal
Sebelumnya pada bulan April lalu sudah dilakukan penertiban, bahkan menurut penanggungjawab operasi penertiban mewakili Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lampung Selatan Syukur, Ronny mengungkapkan razia akan dilakukan pada saat saat tertentu. Meskipun sudah dilakukan razia namun tetap saja lebih pintar para pemilik serta sopir travel gelap yang masih beroperasi di trayek Pelabuhan Bakauheni -Bandarlampung maupun jurusan Lintas Timur.
————————————————-
Jumat, 8 Mei 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto     : Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...