Tungku Tanah Alternatif Ditengah Menanjaknya Harga BBM

Tungku Tanah saat selesai proses pembakaran
CENDANANEWS(Lampung) – Di zaman modern dan menanjaknya harga bahan bakar minyak, membuat masyarakat kalangan bawah kesulitan. Alternatif lain dengan menggunakan bahan bakar yang dulu digunakan, yakni kayu bakar, dan hal ini masih banyak digunakan oleh masyarakat.
Melihat peluang tersebut, seorang warga di Desa Sukamulya Kecamatan Palas Lampung Selatan Provinsi Lampung menjadi anugrah tersendiri bagi salah satu warga Dusun Blora Desa Sukamulya Kecamatan Palas yang sejak puluhan tahun lalu menekuni pembuatan tungku tanah.
Saat menyambangi kediaman Budiono(49), CND berkesempatan untuk melihat proses pembuatan ini sudah ditekuni di Way Jepara Lampung Timur sejak tahun 2002 lalu karena bahan baku berkurang di daerah tersebut lalu pindah pada tahun 2011 ke lokasi yang baru.
Ia mengaku untuk satu unit tungku tanah saat masih berada di “tobong” atau tempat pembakaran, tungku tersebut akan dihargai Rp20ribu per unitnya,  sementara di daerah Serang harga awal akan mencapai Rp30ribu selanjutnya penjual yang akan menjajakan tungku bsa berkisar Rp40ribu hingga Rp45ribu.
Budiono mengaku selama satu bulan tempat pembuatan tungku dari tanah tersebut mampu memproduksi sekitar 800 unit dengan omzet sekitar 24juta kotor belum dipotong biaya operasional serta gaji karyawan yang bekerja bersamanya.
Budiono yang saat ini memiliki 6 orang anak tersebut mengaku akan terus menekuni usaha pembuatan tungku tanah liat, sebab usaha tersebut merupakan usaha yang menguntungkan bagi dirinya dan para pembuat batu bata.
“Usaha ini justru saling menguntungkan karena kami mengambil abu dari limbah abu para pembuat baru bata di sekitar desa ini,”ujar Budiono.
Meski masih menempati lahan seluas seperempat hektar yang disewanya dengan sewa Rp300ribu per tahun, Budiono mengaku ingin memiliki tanah sendiri sebab ia akan berpindah pindah mencari tempat yang bahan bakunya masih banyak, meskipun ia memiliki tempat tinggal di Way Jepara Lampung Timur.
“Rumah saya di sana ditinggali anak saya pertama yang sudah menikah, demi usaha kami rela berpindah pindah dan menumpang di lahan orang,” ungkapnya.
Budiono berharap masih banyak warga yang menggunakan tungku tanah buatannya sebab meski zaman sudah modern namun banyak warga pedesaan yang masih menggunakan tungku tanah buatannya.
Proses Pembuatan
Menurut Budiono, proses pembuatan tungku berbahan baku tanah tersebut awalnya merupakan usaha yang tidak disengaja setelah mendapat nasehat dari seseorang yang tinggal di Way Jepara Lampung Timur.
“Kami awalnya melihat banyak abu dari sisa limbah pembakaran batu bata yakni abu dari sekam atau dari kulit padi yang bisa digunakan untuk pembuatan tungku tanah,” ungkap Budiono mengisahkan kepada media ini Selasa (12/5/2015).
Menurutnya proses pembuatan tungku tanah terbilang sederhana yakni bahan baku abu dari pembakaran batu bata dicampur dengan lumpur rawa kemudian diaduk lalu dicetak dengan cetakan khusus yang terbuat dari semen.
“Kami awalnya menggunakan cara manual tapi untuk hasil lebih sempurna tanah kami olah dengan alat pengolahan molen sekitar setengah jam, kalau manual bisa lebih lama,”ungkap Budiono.
Pengadukan sekitar setengah jam dengan cara diaduk menggunakan alat molen tersebut menelan biaya sebanyak Rp30ribu untuk ukuran satu mobil L300. Setelah diaduk maka selanjutnya “lumpur” yang sudah tercampur antara tanah, abu diletakkan di lubang pengadukan lalu dicampur dengan abu selama satu jam setengah kemudian dicetak.
Budiono yang mengaku dibantu oleh sebanyak 4 karyawan tersebut selanjutnya mencetak dengan cetakan semen sekitar 60 cetakan. Tungku tersebut dibuat dengan ukuran 32 centimeter dan lebar 31 centimeter untuk bisa menahan beban 10 kilogram.
Proses selanjutnya, setelah dicetak lalu tungku tanah yang telah dibentuk akan diprofil dengan abu ayakan yang lebih halus yang dibuat adonan.
“Kami menghaluskan permukaan luar tungku tanah tersebut menggunakan alat bernama jangka penghalus, proses pembuatan profil ini minimal dilakukan tiga kali biar tungku lebih padat,” ungkap Budiono.
Saat proses profil tungku yang dibuat belum memiliki lubang sejhingga proses selanjutnya oleh para pekeja tungku tanah liat tersebut diberi lubang menggunakan alat khusus lalu meratakan dasar tungku yang akan dipotong dan dihaluskan.
Setelah proses tersebut tungku tungku tanah tersebut bisa ditumpuk dengan rapi di lokasi yang sudah disiapkan dengan penataan batu bata serta diisi dengan sekam untuk proses pembakaran selama waktu yang sudah ditentukan hingga tungku tanah tersebut matang. 
Bahan baku untuk pembakaran berupa sekam dibeli dari penggilingan padi seharga Rp5ribu perkarung, sementara bahan baku abu dari pembakaran bata merah dibelinya dengan harga Rp3ribu perkarung.
Budiono mengaku, hari ini para pekerjanya membakar sebanyak  380 tungku yang dibakar menggunakan sekam selama 3 hari tiga malam untuk proses pematangan tungku yang sempurna.
Meski melakukan usaha tersebut cukup lama sejak tahun 1980-an, namun Budiono mengaku proses pembuatan tungku  tanah sangat mengandalkan panas dan musim kemarau sebab jika musim penghujan proses penjemuran akan berjalan  lambat dan biaya operasional yang dikeluarkan akan dua kali lipat lebih mahal.
Setelah selama tiga hari dibakar maka pembuatan tungku tanah tersebut selesai dan akan dikumpulkan di tempatr khusus menunggu untuk diangkut ke daerah tujuan. Untuk proses pengirman, Budiono mengaku melakukan pengiriman sendiri dan sesampainya di daerah tujuan yakni daerah Serang dan wilayah lokal maka akan dicarai penjual yang akan menjajakan tungku tanah buatannya bahkan hingga keluar dari Pulau Sumatera.

————————————————-
Selasa, 12 Mei 2015
Jurnalis :  Henk Widi
Foto     :  Henk Widi
Editor   : ME. Bijo Dirajo
————————————————-
Lihat juga...