Wayang Sasak, Warisan Budaya yang Mulai Terpinggirkan

Beberapa anak nampak sedang bermain di depan sanggar pementasan wayang sasak, Kampung budaya Sesela Kabupaten Lombok Barat
CENDANANEWS (Mataram) – Alunan sura gamelan menggunakan alat-alat musiK tradisional dan tiupan merdu seruling terdengar sahdu di Kampung Budaya Sesela, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), nampak mengiringi dalang memainkan wayang kulit, mengangkat berbagai kisah dan tema tentang kehidupan pada masyarakat suku Sasak Lombok NTB.
Dunia pewayangan pertamakali dibawa para walisongo sebagai media menyebarkan agama islam terutama di Pulau Jawa, termasuk juga di Lombok sehingga memang bagi sebagian masyarakat, mendengar pewayangan merupakah hal tidak asing dan juga banyak disukai orang.
“Dulu dunia perwayangan begitu banyak digandrungi masyarakat, anak-anak, pemuda sampai orang tua, karena selain lakon cerita yang dimainkan para dalang menarik, dunia pewayangan oleh sebagian masyarakat dijadikan sebagai salah satu tontonan dan hiburan” kata guru pedalangan wayang Sasak, Kampung Budaya Sesela, Lombok Barat, Sukardi, Sabtu (30/5/2015).
Tapi seiring perkembangan zaman, wayang terutama wayang sasak mulai tenggelam dan banyak ditinggalkan. Masih terikatnya para dalang di Lombok pada Pakem menjadikan anak-anak muda jaman sekarang tidak lagi tersentak dan tertarik untuk mengetahui wayang Sasak, karena bahasa digunakan kurang difahami termasuk lakon cerita dimainkan para dalang.
Salah satu dalang terkenal asal Desa Gering Kabupaten Lombok Barat,  Lalu Nasib menyebutkan, yang tenar bukan karena Pakem, tapi karena banyak mengambil contoh dilapangan.
“Perubahan yang terjadi tergantung dari dalangnya bagaimana menarik minat penonton, setelah berkembang banyak cara yang digunakan para dalang untuk menarik minat para penonton untuk bisa menyukai dan menonton wayang sasak termasuk kejadian-kejadian yang ada dilapangan, yang saya harapkan dari siswa calon dalang, supaya bisa memainkan wayang sesuai tuntutan zaman,” katanya.
Sementara itu Ketua Harian Majlis Adat Sasak Lombok, Lalu Bayu mengatakan, dari sisi lakon cerita, wayang Sasak Lombok dengan wayang Jawa terdapat perbedaan, yang membedakan wayang Sasak dengan Jawa terletak pada lakon ceritanya, kalau wayang Jawa itu lakonnya satu, ngambil dari Brata Yuda sedangkan wayang Sasak Lombok, Pakemnya mengambil kisah dari Amir Hamzah atau Jayengrane.
Dikatakannya, dalam wayang Sasak nuansa islam juga lebih ditonjolkan dan wayang pertama kali oleh para wali memang digunakan untuk menyebarkan agama islam, dan bagi masyarakat yang hendak menonton ada syarat yang dipenuhi waktu itu, yaitu harus bisa membaca dua kalimat syahadat.
“Wayang sasak pada dasarnya bukan sekedar tontonan melainkan juga tuntunan, agar kita tau, mana yang berwatak baik dan jahat, karena kita tau ada wayang kiri dan kanan, wayang kiri adalah symbol orang-orang berwatak jahat, sedangkan wayang kanan sebagai symbol orang-orang yang berwatak baik, hal-hal yang positif berada di wayang kanan,”.
Lebih lanjur Suhaemy mengatakan di Lombok sendiri jumlah dalang yang masih sampai saat ini mencapai 40 orang dan dari jumlah tersebut, hanya tinggal 13 orang yang masih aktif, sementara sisanya sudah fakum dan tidak pernah lagi melakukan kegiatan pagelaran wayang .
——————————————————-
Sabtu, 30 Mei 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...