Abrasi Pantai Makin Parah Warga Was-Was Rumah Roboh

Pantai yang tergerus abrasi
LAMPUNG – Gelombang pasang yang menghantam pesisir pantai Timur Lampung Selatan mengakibatkan beberapa bagian rumah warga tergerus di Dusun Sumur Induk Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lampung Selatan Provinsi Lampung. Karena letaknya berada di pesisir pantai keadaan tersebut mengakibatkan pondasi pondasi rumah serta bagian pagar serta bagian rumah lainnya terus tergerus ombak. Keadaan tersebut bahkan membuat beberapa warga meninggalkan rumahnya dan menempati rumah baru jauh dari bibir pantai.
Akibat hempasan ombak tersebut bahkan jembatan yang dibuat oleh warga sekitar beberapa tahun silam kini hanya tersisa tiang pancangnya, sementara pondasi pagar warga sudah terangkat dan menggantung di bibir pantai. Meskipun demikian hingga kini pemerintah serta instansi terkait belum melakukan pembuatan turap atau bronjong untuk mengurangi pengaruh abrasi tersebut.
Saat ditemui di rumahnya, salah seorang warga Buyung(50) mengaku sejak tahun 2012 ia mengakui abrasi dan tergerusnya tanah di sekitar lahan rumahnya sudah terjadi. Situasi tersebut bahkan pernah dibicarakan oleh instansi terkait dan ada wacana pembuatan penghalang ombak namun hingga kini wacana tersebut belum terealisasi.
“Saya masih ingat beberapa tahun lalu tanah yang menjorok ke laut ada sekitar sepuluh meter lebih tapi kini sudah semakin habis tergerus gelombang, malah bagian dapur saya kemasukan air saaat gelombang pasang,”ungkap Buyung bersama isterinya Inadiah kepada media CND, Rabu (24/6/20150.
Melihat kondisi yang menimpa rumah miliknya ia menambahkan kondisi tersebut juga menimpa beberapa rumah milik tetangganya yang kini bahkan tak ditempati. Buyung bahkan mengungkapkan pemilik rumah yang ada di dekatnya sudah pindah akibat tak tahan dengan kondisi saat air laut sering masuk ke rumahnya.
“Kalau kami mau pindah ke mana, tak punya lahan sebab lahan yang kami miliki sejak dulu hanya di tepi pantai ini,”ungkapnya.
Ia bahkan mengaku berusaha menahan terjangan dan abrasi dengan menanam pohon kelapa namun terjangan ombak masih bisa merusak bibir pantai di sekitar rumahnya. 
Dari pantauan CND di sekitar pantai tersebut beberapa bagian masih berpasir sementara di bagian lain sudah diberikan batu batu penghalang ombak yang masih belum dibronjong.
Kekuatiran senada terkait abrasi pantai yang makin parah dikemukakan olah Sandi (45) lelaki yang menempati rumah tak jauh dari rumah Buyung, ia mengisahkan rumah milik penguasaha yang sebelumnya mengolah rumput laut  menjadi agar agar pun ditinggalkan pemilik beberapa tahun lalu.
Sementara itu untuk rumahnya ia mengaku mengumpulkan batu batu sebagai penghalang serta pagar untuk mencegah ombak makin merusak lahan miliknya. Kondisi abrasi tersebut akan semakin diperparah jika terjadi air pasang atau rob. Ketika air laut pasang datang sampai ke daratan beberapa rumah warga kerap terendam dan mengakibatkan warga takut jika air akan merobohkan bangunan yang ada.
“Gerusan air laut semakin tak terkendalai beberapa tahun ini, bahkan dari tahun ke tahun kondisinya semakin memburuk. Abrasi bukan cuma disebabkan ekspoloitasi akibat pengalihfungsian pantai menjadi tambak yang menggunakan zat zat kimia sehingga banyak mangrove mati,”ujarnya.
Ia mengingat sekitar belasan tahun lalu tanaman mangrove masih banyak di pesisir pantai tersebut tapi semakin lama semakin habis dan tergerus abrasi. Di sepanjang jalur pantai bahkan kini berganti menjadi lahan tambak dan juga dermaga jetti untuk dermaga kapal tongkang pengangkut pasir dan batu.
Buyung, Sandi dan warga lainnya berharap kondisi tersebut segera mendapat penanganan dengan membuat penahan gelombang permanen dari bronjong ataupun tanggul penahan gelombang. Sebab ia mengaku kuatir bangunan rumah warga lainnya yang berada di sepanjang pesisir pantai kampungnya diterjang abrasi.

——————————————————-
RABU, 24 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...