Bapak Pembangunan di Mata Kami Orang Kampung

Meresmikan STM Pembangunan, Jln. Pemuda 1-7-1971

RENUNGAN SORE – “Piye kabare le… Penak jamanku tho…” (gimana kabarnya nak… masih enak jamanku kan…) salah satu kalimat yang menjadi pameo ditengah masyarakat, tidak terkecuali di kampung -kampung seperti tempat tinggal penulis. Hal tersebut mengemuka ditengah perekonomian yang tidak stabil, gonjang ganjing dunia politik, hingga komersialisasi dunia pendidikan.
Pandangan orang kampung seperti penulis, berawal dari perbandingan-perbandingan yang ada di tengah masyarakat. Membandingkan si A dengan si B, dari hasil perbandingan tersebut didapatkan sebuah pandangan.
Sangat pantas membandingkan suatu keadaan, dan dalam membandingkan tentunya dengan yang terdahulu. “Sekarang lebih baik daripada kemarin, beruntung. sama dengan kemarin, merugi. lebih jelek daripada kemarin, terlaknat.”
Sebagai orang kampung, hal yang paling dibutuhkan adalah kualitas hidup yang baik, yakni berbagai keperluan hidup terpenuhi dari kebutuhan dasar atau primer, meliputi makan, minum, perumahan, sampai kebutuhan rohani atau spiritual meliputi pendidikan, rasa aman, dan sarana ibadah.
Sandang – pangan – papan, untuk hal ini tentunya dibutuhkan kerja dan penghasilan yang memadai. Orang kampung seperti keluarga penulis yang kehidupannya sebagai petani, pekerjaannya tidak terlepas dari sawah dan ladang. 
Zaman Orba, petani termasuk anak emas dari bapak Pembangunan. Pupuk tersedia, disubsidi. Benih unggul, peralatan pertanian. Alhasil dari petani lahirlah banyak sarjana-sarjana. dan menjadi petani adalah sebuah kebanggaan pada zaman itu.

Zaman Sekarang?

Zaman Orba, semua anak kena wajib belajar enam tahun. biaya sekolah dan peralatan sekolah sangat murah, tidak terkena iuran ini dan itu. Tidak ada alasan untuk dapat sekolah berkualitas harus mahal.

Zaman Sekarang?

Zaman Orba, rasa aman selalu terjaga, baik dari masyarakatnya maupun dari aparatnya, banyak kegiatan yang dapat dilakukan di malam hari tanpa ada ketakutan keluar rumah.

Zaman sekarang?

Zaman Orba, antar umat beragama tidak ada silang sengketa, antar suku selalu bersatu.

Zaman sekarang? 

Pada Zaman Orba …. banyak hal yang menjadi perbandingan yang dapat menghasilkan sebuah pandangan. Namun sebagai orang kampung tentu pandangannya yang terlihat, tersurat dan tersirat tanpa adanya kepentingan tertentu.
Dari beberapa pertanyaan diatas tentunya membutuhkan jawaban, dan jawaban setiap pembaca tentu akan berbeda-beda. Penulis disini juga tidak akan memberikan jawaban, Biarlah tukang saluang (Peniup Seruling di Minang) saja yang menyampaikan.
Tulisan ini sebagai bentuk mengenang kelahiran dan mengenang jasa dari Bapak Pembangunan yang lahir pada 8 Juni 1921 di Kemusuk yang merupakan sebuah dusun yang terletak di desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Indonesia.
——————————————————-
Senin, 8 Juni 2015
Penulis       : ME. Bijo Dirajo [Editor CND]
——————————————————-
Lihat juga...