Batik Tulis Blimbing Malang, Diminati Sampai di Mancanegara

MALANG – Batik merupakan warisan budaya Asli Indonesia yang sudah diakui UNESCO (United Nation Education Scientific and Cultural Organization) karena memiliki nilai seni dan makna filosofis yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki batik dengan motif yang berbeda-beda, tidak terkecuali Batik Tulis Blimbing yang ada di Kota Malang.
Menurut Ima (30) sebagai pengelola usaha Batik Blimbing, menjelaskan bahwa terdapat dua motif batik yang menjadi ciri khas Batik Blimbing. Diawali dengan motif buah Blimbing yang sesuai dengan nama lokasi usaha batik ini berada yaitu di Jalan Candi Jago No.6 Kecamatan Blimbing Kota Malang. 
Namun dengan berjalannya waktu, untuk mengangkat kota Malang yang juga terkenal dengan Topeng Malangan, sehingga kemudian dibuatlah desain motif batik Topeng Malangan sebagai icon Kota Malang. 
“Selain motif blimbing dan topeng Malangan, terdapat pula motif bunga dan juga ornamen,”lanjutnya.
Ima menceritakan bahwa usaha batik ini dirintis oleh Ibunya yaitu Wiwik Niarti (51) pada tahun 2009. Dulu pada tahun tersebut Ibunya mengikuti pelatihan batik tulis di Blimbing yang diadakan oleh pemerintah. Pelatihan tersebut diadakan Pemerintah Kota Malang untuk meningkatkan potensi dan perekonomian warga Blimbing melalui Ibu-ibu PKK. Dari situ kemudian Wiwik Niarti bersama dengan Ibu-ibu PKK yang lain memulai usaha Batik Tulis. 
Namun karena kendala personal dari Ibu-ibu PKK, akhirnya Ibu-ibu ini lepas satu persatu. Karena usaha batik tulis blimbing sudah berjalan, akhirnya Wiwik Niarti pada sekitar tahun 2010 memberanikan diri untuk terus menekuni usaha batik tulis secara mandiri yang kini menjadi usaha keluarga.
Setiap anggota keluarganya memiliki tugas dan peran masing-masing. Ibunya selain sebagai pemilik, juga berperan sebagai desainer. Sedangkan Ayahnya bertugas sebagai administrasi dan dirinya sendiri berperan sebagai pengelola yang bertanggung jawab mulai dari produksi sampai dengan pemasaran, ucapnya.
Untuk cara pemasarannya dirinya biasa menggunakan media online, pameran dan juga bekerjasama dengan pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah Provinsi. Untuk produksi Batik Tulis Blimbing selain sudah dipasarkan di wilayah Indonesia, juga sudah menembus pasar Thailand, Singapura dan juga Malaysia meskipun kapasitas pemesanannya belum terlalu banyak.
Karena Batik Blimbing merupakan Batik tulis yang biaya produksinya cukup tinggi sehingga harga kain batiknya lebih mahal dibanding jenis batik yang lain. 
“Harga satu potong kain batik dengan ukuran 225 cm berkisar Rp. 300.000 -500.000 per potongnya, untuk omzetnya sendiri per bulan kurang lebih Rp. 10.000.000,” jelasnya.
Selain menjual batik, Ima juga sering mengadakan pelatihan pembuatah batik yang sering diikuti oleh orang-orang dari Mancanegara.
“Banyak orang-orang dari Mancanegara yang sengaja datang kesini untuk belajar cara membatik,” ucapnya.
Untuk proses membuat batik tulis sendiri diawali dengan proses “Molani” yaitu membuat desain batik diatas kain mori dengan pensil yang kemudian dilanjutkan ketahap selanjutnya yaitu proses “Nyanting” yitu melapisi motif yang telah dibuat dengan menggunakan canting yang telah berisi lilin cair. Untuk canting yang digunakan disini sudah menggunakan canting listrik yang lebih mudah cara penggunaannya dan bisa mengurangi biaya produksi.
Setelah proses nyanting, dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu “Nyoled” yaitu mewarna isi motif pada mengunakan pewarna batik. Tahap berikutnya yaitu “Nembok” yang berfungsi untuk menutup sebagian warna agar tidak tercampur dengan backgroundnya. Sebelum masuk ke proses yang terakhir, terlebih dahulu harus melalui proses “Nyelup” yaitu pewarnaan dasar kain dengan menggunakan pewarna batik. 
“Proses terakhir yaitu proses “Nglorod” dimana kain yang telah berubah warna direbus dengan air panas untuk melehkan malam yang terdapat pada kain, dan kemudian dikering anginkan,” jelasnya.
Agar kain batik bisa bertahan lama dan warnanya tidak pudar, sebaiknya batik dicuci menggunakan sari lerak. Namun karena sari lerak ini susah untuk didapatkan, bisa diganti dengan menggunakan sampo rambut untuk mencuci kain batik. Karena didalam sampo terdapat bahan penguat warna dan tidak mungkin terdapat bahan pemutih. 
“Jangan sekali-sekali mencuci batik dengan menggunakan detergen, karena didalam detergen mengandung bahan pemutih dan juga penghilang noda yang justru bisa memudarkan dan melunturkan warna dari kain batik,” jelasnya. 
Selain itu, untuk mengeringkan kain batik cukup diangin-anginkan saja, tidak perlu sampai menjemur batik dibawah sinar matahari karena dapat menyebabkan warna batik menjadi memudar.
Untuk memproduksi Batik Tulis Blimbing setiap harinya dia dibantu oleh delapan orang karyawan yang sebagian berasal dari masyarakat sekitar dan sebagiannya lagi dari Mahasiswa pekerja paruh waktu.
Menurut Ima, apresiasi masyarakat Malang sendiri terhadap batik terutama batik tulis hingga saat ini masih kurang, sehingga kebanyakan pelangganya saat ini justru berasal dari luar kota. Meskipun sekarang cukup banyak terlihat anak-anak muda yang menggunakan batik, namun kebanyakan dari mereka menggunakan batik printing dengan harga yang dapat mereka jangkau. 
“Dimana batik printing sebenarnya bukan merupakan batik aslin buatan tangan, namun buatan mesin. Mesinnya sendiri kebanyak dibeli dari luar negeri, sehingga bisa dikatakan batik printing merupakan batik buatan luar negeri,” ungkapnya.
Oleh karena itu, usaha batik tulis Belimbing tidak hanya terfokus pada bisnis tetapi juga memiliki visi misi sendiri yaitu selain kita ingin melestarikan warisan budaya Indonesia, kita juga ingin merubah cara berfikir masyarakat bahwa Batik bukan hanya sekedar motif diatas kain, tetapi Batik adalah proses dari awal mulai dari desain, Nyanting, Nyoled sampai dengan proses akhir finishing, itu adalah Batik.
“Jadi Batik adalah proses, bukan sekedar motif diatas kain”, tutupnya.

——————————————————-
RABU, 24 Juni 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...