Belut, Meski Sudah Tidak Populer tetapi Harganya Tetap Mahal

Belut
DENPASAR – Dahulu kumpulan pria jalan tengah malam dengan senter dan ember keliling sungai. Mereka mencari belut untuk dijual di pasar atau dikonsumsi sendiri dirumah. Namun seiringnya waktu, kegiatan yang cukup populer tersebut mulai ditinggalkan karena banyaknya yang sudah mencoba usaha baru.
Belut, jenis ikan konsumsi air tawar tersebut statusnya bukan lagi makanan favorit masyarakat pada umumnya. Namun harganya cukup mencengangkan dimana belut dijual 60,000 rupiah per kilogram.
“Harganya mahal, namun bagi penggemar belut pasti akan membelinya,” kata Sarmini, penjual belut di pasar Tabanan kepada CND, Sabtu (27/6/2015).
Disebutkan, sekarang ini agak sulit menjual belut. Masyarakat rata-rata lebih memilih ayam dan daging sapi. Hanya mereka yang benar-benar menggemari daging belut saja yang akan merogoh kocek dalam-dalam untuk membelinya.
Hal ini terasa semakin sulit karena belut sudah mulai beralih beternak ikan konsumsi air tawar lainnya, seperti ikan Mas, Nila, Mujair, dan Gurami.
“Pemasok ikan lele dan belut langganan saya sudah mulai beralih menawarkan ikan mas, Nila, dan Mujair, mereka mengurangi stok ikan lele dan belut. Mungkin hal ini salah satu penyebab mahalnya harga ikan lele dan belut di pasaran,” ungkap Wayan Singkep, seorang pedagang ikan di pasar Tabanan.
Mereka mengharapkan budidaya ikan lele dan belut dapat digalakkan lagi. Karena keberhasilan budidaya akan mempengaruhi harga dipasaran. 
Jika budidaya berhasil, maka harga akan turun semurah mungkin, dan masyarakat pasti akan kembali mengkonsumsi belut secara rutin.
——————————————————-
SABTU, 27 Juni 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...