Beras Lokal dari Tabanan Jadi Favorit di karangasem, Bali

Beras Tabanan
DENPASAR – Menjelang Ramadhan serta dua hari raya Hindu Besar, Galungan dan Kuningan, harga beras di Karangasem cenderung stabil. Hal ini dikarenakan pergerakan beras lokal Bali yang memenuhi pasar dan dibantu distributor beras di Karangasem memainkan peran penting demi menjaga stabilitas harga di masyarakat.
Meski serbuan beras luar pulau mulai terasa menjelang Ramadhan di Bali. Namun serbuan tersebut tidak berdampak banyak dikarenakan harga beras luar lebih mahal dari beras bali.
Beras-beras luar Bali seperti Putri Ayu dan Putri Agung sekarang dijual eceran maupun grosir dengan harga 8,500 rupiah per kilogram. Sedangkan Beras C4 lokal Bali ada diharga 8,200 rupiah per kilogram.
Ketut Marta alias Ketut Gambir
Menurut Pelaku bisnis beras di Desa Bug-bug, Karangasem, Bali, Ketut Marta alias Ketut Gambir, sirkulasi beras C4 lokal asal Tabanan sedang naik daun. Ia memiliki stok sangat besar di tokonya untuk beras tersebut. Dengan letak toko yang tepat berhadapan dengan Pasar Adat Desa Bug-bug, maka Ketut Marta merupakan tumpuan pedagang beras pasar tradisional disekitarnya.
“jika beras luar ingin masuk dan mereka mematok harga jauh diatas beras lokal, maka tidak akan jalan bagus disini. Jadi mereka harus menyesuaikan harga agar bisa bersaing dengan beras lokal Bali,” jelas Ketut kepada CND.
Beras Lombok juga ikut meramaikan pasaran beras di Bali menjelang Ramadhan dengan harga jual eceran 8,400 rupiah per kilogram. Akan tetapi masih sangat sedikit dibandingkan beras Tabanan dan Luar Bali. 
“pemikiran saya sederhana saja, harus diakui kita tetap butuh beras luar Bali, darimanapun beras itu tidak masalah, karena tidak mungkin beras lokal mampu menutupi kebutuhan pangan seluruh Bali. Jadi, kita harus pasok beras dari luar Bali juga, akan tetapi tanpa mengorbankan beras lokal kita sendiri,” Ketut Marta menambahkan.
Harapan ke depannya dari Ketut Marta adalah keadaan ini bisa bertahan sampai lewat Hari Raya, karena akan sangat menyiksa masyarakat jika harga beras naik-turun tidak menentu padahal semua daerah di Indonesia masing-masing memiliki kedaulatan akan beras.
” Negara Agraris tapi harga beras tidak stabil, itu kan lucu,” ujar Ketut Marta sambil tersenyum lebar.
——————————————————-
Sabtu, 6 Juni 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...