Berwisata Sejarah di Candi Kidal Malang

Candi Kidal
MALANG – Candi Hindu yang dapat di kunjungi di daerah Malang tepatnya di Desa Kidal Kecamatan Tumpang, yaitu Candi Kidal. Berbeda dengan Candi Jago dan Candi Singosari yang merupakan Candi perpaduan antara Hindu dan Budha, Candi Kidal merupakan murni Candi Hindu.
Siti Romla selaku Juru Pelihara (Jupel) Candi Kidal menjelaskan, Candi ini dibuat untuk pendarmaan atau tempat pemujaan Raja Anusopati yaitu Raja ke dua Singosari setelah Ken Arok. Raja Anusopati menjadi raja Singosari mulai tahun 1227-1248 masehi dan pada tahun 1248 masehi tersebut Raja Anusopati meninggal dunia. 
“Di dalam buku Negarakertagama dan Kitab Araraton, Candi Kidal didirikan pada tahun 1248-1260 masehi oleh Prabu Mahesa Wong Ateleng,” jelasnya.
Bahan bangunan candi berasal dari batuan perut bumi yaitu batu Andesit. Struktur bangunan Candi Kidal sendiri masih utuh yaitu terdiri dari Kaki Candi, Tubuh Candi dan Atap Candi. 
“Candi Kidal memiliki tinggi 12,26 meter. Kaki Candi berbentuk persegi panjang mendekati bujur sangkar panjang 10,8 meter dan lebar 8,36 meter,” ujar Siti.
Pada bagian kaki Candi terdapat kepala Naga atau Ular bermahkota sebagai lambang kekuatan yang melindungi segala kekayaan. Terdapat enam buah sudut pada Candi, dimana masing-masing sudutnya terdapat singa penyangga atau singa murti yang melambangkan kekuatan Candi. 
Di sebelah kanan kiri Singa Murti terdapat gambar Medalion, Jambangan dan Purnakumba. Sedangkan diatas Singa Murti terdpat garis mistar yang bergambar burung dan bunga.
Pada bagian kaki Candi terdapat tiga buah relief yang masing-masing menghadap ke arah Selatan, Timur dan juga Utara. Pada Relief pertama yang menghadap ke arah Selatan berupa Relief Garudia menyangga Para Ular. 
Relief pada sisi timur terdpat Garudia membawa guci gambanga tempat air Tirta Amerta, sedangkan Relief yang menghadap ke Utara berupa Garudia menggendong Dewi Winata yang tak lain adalah Ibu Garudia. Dari ketiga relief tersebut memiliki cerita yang saling berkaitan yang memiliki inti cerita tentang seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya.
Di bagian tubuh Candi sebenarnya digunakan untuk ruang patung Anusopati yang berwujud Siwa, namun sayangnya sekarang patung tersebut berada Museum Royal Tropical Institue Amsterdam Belanda. 
“Karena candi ini ditemukan pada zaman Belanda berkuasa sehingga patung Anusopati yang berwujud Siwa di simpan di museum tersebut,” jelas Susi.
Dikanan kiri candi juga terdapat relung untuk tempat patung, namun sekali lagi patung-patung tersebut sudah tidak berada lagi pada tempatnya. Diatas pintu masuk Candi terdapat kepala Kala sebagai penjaga tempat suci. Sedangkan bagian atap candi hanya bermotif tumpal.
Nama Candi Kidal sendiri memiliki dua arti yaitu Kiri dan Selatan. Kiri dapat diartikan bahwa Anusopati adalah anak tiri dengan Ken Arok, sehingga Anusopati tidak perlakukan sama seperti saudara-saudaranya oleh Ken Arok. Sedangkan Selatan sendiri dapat diartikan bahwa Candi Kidal terletak di sebelah Selatan dari kerajaan Singosari yang terletak di sebelah utara.
“Candi Kidal sudah mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran yang pertama yaitu pada tahun 1925-1926 oleh Purbakala Hindia sedangkan pemugaran yang kedua dilakukan pada tahun 1986-1990 oleh pemerintah Indonesia melalui Suaka Purbakala,” terang Susi.
Candi Kidal sendiri masih sering digunakan oleh umat Hindu untuk melakukan sembahyang dan juga ritual lainnya. Fasilitas di sini juga sudah cukup lengkap seperti tempat parkir, toilet, papan informasi, papan larangan dan juga pos jaga. 
“Pengunjung Candi Kidal masih cukup banyak, sekitar diatas seribu orang pengunjung setiap bulannya. Candi Kidal buka setiap hari pukul 07.30-16.00 wib,” tutup Susi.

——————————————————-
Rabu, 10 Juni 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...