Di Teras Gedung Tua 12 Tahun Yang Lalu

CERPEN – KETIKA reformasi menggema di tanah air, anak-anak muda kampung kami lantang meneriakkan perlunya pemekaran daerah. Dalam berbagai kesempatan, waktu dan ruang, anak-anak muda yang berasal dari berbagai disiplin ilmu itu secara kontinyu meneriakkan, menggemakan dan mensosialisasikan  keinginan memiliki daerah yang dipimpin sendiri oleh putra daerah mereka. 
Sosialisasi dan publikasi terus menerus mareka nyanyikan terutama lewat koran lokal yang mulai mengisi hari-hari denyut kehidupan masyarakat daerah ini.
Malam itu di sebuah gedung tua peninggalan masa kolonial Belanda, anak-anak muda berkumpul. Sinar rembulan memancarkan sinarnya yang indah dan benderang ke dalam nurani anak-anak muda itu.
“Saya ingin kawan-kawan semua satu tekad dan satu hati. Kabupaten kita harus terbentuk, apapun risikonya. Hanya dengan menjadi daerah otonom, masyarakat daerah ini akan sejahterah,” kata salah seorang tokoh pemuda bernama Bujang.
“Apalagi potensi daerah kita ini sangat luar biasa. Berbagai data dari BPS dan survei-survei telah membuktikan fakta bahwa daerah ini sangat layak dan pantas menjadi sebuah daerah otonom,” lanjut Bujang menyemangati kawan-kawannya. 
Anak-anak muda yang berkumpul pun terdiam. Retorika Bujang membakar semangat dan nurani mareka untuk memperjuangkan daerah ini menjadi daerah otonom baru.
Teriakan lantang tentang pembentukan Kabupaten Baru yang dikobarkan Bujang dan kawan-kawan bukannya tak menuai aral rintangan. Banyak yang mencibir bahkan menganggap tekad itu hanyalah angan-angan dan mimpi di siang bolong. Ibarat pungguk merindukan bulan. Kendati tak kentara, beberapa anak-anak muda daerah ini amat menentang rencana pembentukan daerah otonom baru yang disuarakan Bujang dan kawan-kawan.
“Aku heran melihat Bujang dan kawan-kawan. Getol amat memperjuangkan daerah ini sebagai Kabupaten Baru. Apa Bujang mau menjadi Bupati atau Anggota DPRD,” tanya Rendra dalam suatu pertemuan dengan beberapa anak-anak muda yang kontra terhadap perjuangan pembentukan daerah otonom sebagaimana yang diperjuangkan Bujang dan kawan-kawannya.
“Sangat tepat apa yang kamu omongkan itu kawan. Mareka kalau daerah ini terbentuk kabupaten pasti jadi OKB. Orang Kaya Baru. Mareka kan pahlawannya. Mareka bisa bermain proyek. Main tender,” sela teman Rendra.
Siang telah berganti malam. Rembulan mulai memancarkan sinarnya. Bujang baru saja keluar dari mobil yang ditumpanginya bersama kawan-kawan seperjuangan pembentukan daerah otonom usai pulang dari Kabupaten Induk. Belum sempat mengetuk pintu rumah,  terdengar ocehan istrinya dari dalam rumah kontrakannya.
“Jam macem nih, ayah ikak lum pulang. Tiap hari gawe e cuma ngurus orang bae. Dak tau anak bini di rumah makan ape dak. Entah ayah model apa ayah ikak tuh. Cuma henat di depan orang-orang besar bae. Kalau di koran omongannya macem pejabat besar bae. Dak tau perut anak bini di rumah kembang kempis,” omel istri Bujang.
Dengan semangat siap menerima omelan sang istri, Bujang mengetuk pintu rumah kontrakkannya. Pintu rumah terbuka. Tampak wajah istrinya memerah. Memendam kekesalan.
“Budak-budak lah tiduk Mak,” tanya Bujang kepada istrinya seraya negeloyor ke dalam kamar.
“Kalau nunggu abang pulang, mareka baru tiduk, pacak-pacak besok dak sekolah,” sahut istrinya ketus.
Bujang menikmati kopi yang baru saja dihidangkan istrinya. Asap rokok membumbung tinggi, seakan ingin menembus angkasa biru. Setinggi cita-cita dan harapan Bujang untuk ikut berjuang bersama kawan-kawannya untuk menghantarkan Kabupaten Baru terbentuk, demi sebuah kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat daerah ini. 
                        ***
Duabelas tahun tak terasa waktu berlalu, negeri yang diperjuangkan Bujang dan kawan-kawan mulai menggeliat bak gadis belia. Pembangunan gedung kantor pemerintah mulai menghiasi pelosok negeri itu. Mobil-mobil berflat merah mulai hilir mudik ke sana kemari. Orang-orang pun dari berbagai daerah mulai ramai kunjungi daerah ini. Ada yang membawa map, ada yang membawa ijazah. Bahkan ada yang cuma datang membawa baju ala kadarnya. Entah apa tujuan pastinya. Yang jelas daerah ini mulai menggeliat dan ramai dikunjungi orang-orang.
Bujang masih tetap menghidupi istrinya dengan berjualan ikan dari kampung ke kampung. Dari desa ke desa. Menyusuri jalan-jalan dusun yang mulai banyak rusak dan penuh lobang. Bujang ternyata tak sebagaimana dulu dibilang orang. Bujang akan kaya jika cita-cita Kabupaten Baru terbentuk, Bujang akan banyak mengelola proyek, Bujang akan duduk tak berbatas dengan para pejabat. Dan, Bujang… Akan punya segala-galanya. Akan tetapi, Bujang tetaplah Bujang, pemuda kampung yang berjuang tanpa pamrih.
Malam itu di bulan Agustus, purnama menghiasi malam. Keindahan cahayanya tak terperikan. Mempesona seluruh penghuni jagad alam. Sebuah keindahan yang maha dahsyat dan agung dari Sang Pencipta untuk manusia di bumi. Bujang sedang asyik bercengkerama dengan sang istrinya di teras depan rumah kontrakan mereka.
“Budak tuh besok nek minta dibelikan sepatu. Die ikut baris indah,” ujar istri Bujang.
“Aoklah. Cepet nian bulan beganti. Lah Agustus pulek. Mane nek puaso pulek,” jawab Bujang sambil memandangi langit nan mempesona.
“Makanya denger kate bini buduh neh. Bejuang setengah mati, hasil dak ape-ape. Orang lain yang dak berkeringat malah menikmati hasil jerih payah ikak-ikak. Tuh liat kawan abang. Duluk e nentang perjuangan abang dan kawan-kawan. Kini lah berhasil dan sukses,” sahut sang istri.
“Aku kan dak same ken orang-orang macem tuh. Mak kan tau ken sifat aku. Dak pacak nyarik muke. Dak pacak ngejilat. Kite nikmati bae lah rezeki dari Allah. Dan kite sebagai manusia harus ade martabat. Harus ade harga diri. Kabupaten ini terbentuk karena masyarakat daerah ini ada martabatnya. Ade harge dirinya. Bangsa ini merdeka karena rakyat dan bangsa ini bermartabat. Dak seneng dijajah bangsa lain,” urai Bujang.
“Stop, aku dak nek denger ceramah Abang. Dak de gune. Nyakitkan hati bae,” sahut istrinya seraya meninggalkan Bujang sendirian.
Dibandingkan dengan kawan-kawan seperjuangannya dulu, Bujang memang tak terdengar lagi kiprahnya dalam berbagai kegiatan di daerah ini. Semenjak kabupaten ini terbentuk delapan tahun silam, baru sekali Bujang menerima undangan untuk menghadiri refleksi berdirinya kabupaten. Itu pun Bujang tak datang. Pria ini sibuk mengantarkan pesanan langgananya di kampung. 
Namun Bujang sungguh bangga dan bahagia dengan rekan-rekan seperjuangannya dulu. Bagi Bujang keberhasilan naiknya taraf hidup yang dinikmati kawan-kawan seperjuangannya dulu merupakan anugerah dan rezeki dari yang Maha Kuasa. Dan mareka memang patut dan layak menerima dan menikmatinya sesuai dengan kerja keras mareka sebagai anak bangsa yang berkehidupan dan hidup di daerah ini.
Malam itu 16 Agustus. Suasana tempat Bujang tinggal semarak dengan warna-warni beragam baliho dan ornamen yang bernuansakan perjuangan bangsa. Berbagai ornamen bertemakan perjuangan terbentang sepanjang jalan dan rumah-rumah penduduk. 
Merah putih berkibar dengan gagah berani. Gambar dan foto pahlawan bangsa bertaburan. Pintu gerbang dibuat dengan semangat gotong-royong yang merupakan simbol perjuangan hakiki bangsa ini dalam meraih kemerdekaan dari penjajah.
Dengan sepeda motor yang masih kredit beberapa bulan, Bujang pun sampai di ujung kampung. Dari halaman rumah tampak sang tuan rumah sedang asyik membaca sebuah koran lokal ternama. Senyum sang tuan rumah mengembang saat melihat tamunya datang. Keduanya saling berpelukan. Melepaskan kerinduan.
“Ape kabar, Bung? Lah lame kite dak ketemu dan ngobrol-ngobrol,” sapa sang tuan rumah yang bernama Matliluk sembari merpersilakan Bujang duduk.
“Biasa bae Bung. Macem nih lah,” jawab Bujang sembari duduk di kursi rotan sang empunya rumah.
“Kelihatannya Bung sekarang gemuk. Sejahterah kayaknya. Banyak proyek dan order ya,” kelakar Matliluk. 
Mendengar candaan itu, Bujang pun ngakak. Tawanya memecahkan kesunyian malam yang bertabur bintang gemintang.
“Ngulok ape nyerurok,” sahut Bujang.
“Soalnya zaman kini, kite lah dak tau agik ken orang ngulok ape nyerurok,” lanjut Bujang. 
“Kite ini kan hidup biase bae  Bung. Dak pacak maju macem orang lain karena kite memang dak pacak nyarik muke atau nyembah-nyembah. Ape agik ngejilat dan ngejiat kawan. Kite dak pacak. Kite kan nabat. Tau diri lah,” lanjut Bujang sambil ketawa.
“Bener bung. Kadang-kadang kalau kite ngeliet yang terjadi zaman kini, macem sejarah orangtue kite duluk. Yang berjuang setengah mati dilupakan, yang pacak nyarik muke dan dak nabat, malah jadi pahlawan. Tapi itulah dunio. Harus kite terima ape adanya,” sahut Matliluk.
“Cuma Bung, jangan sampai gara-gara tingkah laku orang-orang yang dak nabat dan gile jabatan itu, daerah ini dak maju. Kite ikut malu dan beduso. Ngakel rakyat. Bebulak ken rakyat. Ujung-ujung e dapet azab karena disumpah orang ramai. Disumpah rakyat,” jawab Bujang.
Matliluk pun terdiam seribu bahasa. Kesunyian tercipta. Hanya dengkur jangkrik malam yang terdengar saling bersahutan.
Malam semakin larut. Bujang meninggalkan rumah Matliluk. Kegembiraan Bujang semakin tak terperikan. Sepanjang jalan utama dan gang-gang yang dilaluinya menuju rumahnya, berbagai baliho berisikan semangat perjuangan tertulis dengan huruf-huruf kapital. Di bawah salah satu baliho besar yang bergambarkan poto pemimpin daerah yang berisi ajakan untuk membangun kebersamaan dalam membangun bangsa, Bujang dalam hati berkata 
“Perjuangan kami tidak sia-sia. Tak sia-sia. Dan raungan mesin motor 4 tak Bujang pun terdengar menjauh. Menjauh…(*)
Airaceng, Toboali, Bangka Selatan
CATATAN:
Ape dalam bahasa Toboali artinya Apa
Agik : Lagi
Budu : Bodoh
Budak : Anak
Bini : Istri
Bebulak : Berbohong
Dak nabat : Tidak tahu diri
Dak pacak : Tidak bisa
Dak nek denger : Tidak mau dengar
Ngakel : Berbohong
Gile : Gila
Kite : Kita
Negjiat : Menjelekkan
Ngulok : Bergurau
Nyerurok : Melebih-lebihkan 
Nyarik muke : Menjilat
Macam mane : Bagaimana
Macem nih lah : Seperti ini lah
Ken : Dengan
Pacak: Bisa
——————————————————-
Sabtu, 6 Juni 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...