Gazebo Pintar, Tempat Belajar Gratis di Malang

Gazebo Pintar
MALANG – Gazebo Pintar merupakan Lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (LPKBM) yang berlokasi di Jalan Raya Sumbersekar Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Gazebo Pintar ini sendiri sudah mulai dirintis oleh Chusnul Chotimah sejak tahun 2009. 
“Dinamakan Gazebo Pintar karena di Gazebo inilah tempat anak-anak belajar,” jelasnya.
Menurut Chusnul Chotimah (49) atau yang lebih akrab di panggil Umi ini menjelaskan bahwa pendirian Gazebo Pintar berawal dari pertemuannya dengan seorang anak yang bermain dirumahnya. Di situ kemudian dirinya bertanya“kenapa kamu bermain disini? Apa tidak belajar?”, tanyanya kepada anak tersebut.
“Saya disini tinggal bersama nenek, orang tua saya juga bekerja di luar pulau jadi tidak ada yang membelajari saya atau membantu mengerjakan PR saya”, ujar Chusnul menirukan jawaban sang anak.
Kemudian Chusnul mengatakan kepada anak tersebut untuk datang kembali keesokan harinya dengan membawa PR dari sekolah. Keesokan harinya anak tersebut tidak datang sendiri namun namun datang bersama saudaranya dengan membawa PR. 
“Kemudian hari demi hari semakin banyak anak-anak yang datang untuk belajar ke rumahnya mulai dari anak SD, SMP sampai SMA, “ucapnya.
Karena pada dasarnya dirinya memang senang dengan anak-anak, akhirnya Chusnul memutuskan memfokuskan diri untuk mendidik dan membelajari anak-anak yang datang kerumahnya dengan lebih serius. Chusnul kemudian memfasilitasi rumahnya dengan meja belajar dan juga buku-buku pelajaran mulai SD sampai dengan SMA. 
Niatnya tersebut rupanya mendapat dukungan penuh dari suami dan ke enam anaknya. Bahkan suami dan anak-anaknya ikut terjun langsung membiayai dan mengajari anak-anak yang datang setiap sore kerumahnya. Chusnul sangat bangga dengan anak-anaknya yang mau menyisihkan sebagian rezeki dan membantu mengajar anak-anak.
Chusnul mengaku, anak-anak yang datang ke tempatnya sama sekali tidak di pungut biaya alias gratis. Kami hanya berniat ingin membantu anak-anak sekitar sini yang memiliki keinginan untuk bersekolah.
Namun keinginan dan niat baik kami tidak selalu disambut baik oleh orang lain. Kendala justru datang dari orang tua mereka masing-masing. Menurut Chusnul, mayoritas warga disini menganggap pendidikan bukan menjadi prioritas. Asalkan anak mereka bisa membaca, itu sudah cukup bagi mereka. 
“Sehingga mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja atau membantu orang tuanya merawat hewan ternak dibandingkan melanjutkan sekolah,” jelasnya.
Bahkan terkadang anak-anak harus berbohong dan sembunyi-sembunyi untuk bisa belajar disini.
“karena jika tidak mereka akan dilarang orang tua mereka,” tambahnya.
Istri dari Choirul Anam ini juga mengaku memiliki beberapa anak asuh yang mereka bantu biaya sekolahnya. Anak asuh yang dia biayai kebanyakan bukan dari keluarga tidak mampu, justru mereka merupakan anak-anak dari keluarga mampu tapi tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka, akunya.
Ada kejadian lucu sekaligus miris, ketika anak-anak saya suruh untuk menuliskan cita-cita mereka. Ada salah satu anak yang menuliska cita-citanya menjadi pengangkut rabuk (pupuk). Saya yang heran dengan cita-cita anak tersebut kemudian bertanya kenapa kamu ingin menjadi pengangkut rabuk?. Anak itu kemudian menjawab, sekali angkut rabuk menggunakan mobil dia bisa mendapat uang Rp. 75.000,- kalau dua kali angkut sudah Rp. 150.000,- yang dia dapat hasilkan, ujarnya. Saya yang mendengar jawaban tersebut hanya berfikir, simple sekali cita-cita anak ini, pikirnya.
Dari situ kemudian wanita yang merupakan lulusan Universitas Islam Malang ini selalu menerapkan kepada anak-anak peserta didiknya untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Karena masyarakat sekitar mayoritas merupakan peternak dan petani, dirinya selalu mengatakan kepada peserta didiknya “jika kalian ingin menjadi peternak, jadilah peternak yang berdasi bukan yang mencari rumput, begitu juga jika kalian ingin menjadi petani, jadilah petani yang berdasi”.
Anak-anak yang datang ketempatnya tidak harus membawa PR dari sekolah, mereka disini juga bisa belajar hal-hal yang lain berdasarkan minat mereka seperti musik, keterampilan, pertanian, bahasa, hingga keterampilan bisa mereka pelajari disini. Disini juga kami menyediakan perpustakaan dengan ratusan koleksi buku pelajaran sekolah. Saya juga sering minta ke pihak-pihak terkait untuk datang dan memberikan penyuluhan kepada peserta didiknya seperti dari kepolisian, Tim SAR, BKKBN, Dinas Kesehatan dan pihak-pihak terkait lainnya.
Disini saya tegaskan bahwa Gazebo Pintar sama sekali tidak pernah meminta maupun mendapat bantuan berupa uang dari pemerintah atau pihak lain dan juga tidak pernah meminta bayaran dari peserta didik. 
“Bukan kami tidak butuh uang, menurut kami uang merupakan masalah yang sensitif sehingga kami tidak ingin ada pikiran-pikiran negatif dari masyarakat terhadap kami,” ujarnya.
Selain itu Beberapa bulan yang lalu kami juga mengalami kejadian yang buruk. Ada orang yang datang kemari meminjam semua dokumen beserta foto-foto peserta didiknya dengan menjanjikan akan membantu menyediakan tempat tetap untuk Gazebo Pintar. 
Namun kenyataannya dokumen-dokumen tersebut tidak pernah dikembalikan sampai sekarang, bahkan kami mendengar dari seorang teman, dengan menggunakan dokumen tersebut mereka meminta sumbangan mengatas namakan Gazebo Pintar melalui internet. Disini kami juga ingin mengklarifikasi, jika ada pihak-pihak yang meminta sumbangan dengan mengataskan Gazebo Pintar, itu adalah penipuan. 
“Karena Gazebo Pintar sama sekali tidak pernah meminta sumbangan,” tegasnya.
Bahkan dia pernah dikatakan “bodoh” oleh teman-temannya karena tidak mau meminta bayaran kepada orang tua peserta didiknya. Namun Chusnul beranggapan lain, dengan mendidik anak-anak ini dirinya justru merasa pintar karena harus mengingat dan membuka kembali buku-buku pelajaran sehingga dirinya bisa mengajar anak-anak dengan baik. 
“Saya tidak mengharapkan balasan dari orang lain, saya hanya mengharapkan balasan dari Allah,” ungkapnya.
Gazebo Pintar miliknya sekarang semakin berkembang dan sering dijadikan tempat Praktek Kerja Lapang (PKL) oleh mahasiswa Malang. Kini mereka juga memiliki Posyandu Remaja dan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) yang dipegang oleh kedua orang anaknya Ria dan Emil. Sekarang kami juga memiliki rencana untuk membuka LPKBM di Kota Malang dengan nama Tunas Cendekia Indonesia. 
“Namun kami sekarang masih mencari sukarelawan yang mau mengajar dan sabar menghadapi anak-anak untuk ditempatkan di LPKBM Tunas Cendekia Indonesia,” tutupnya.

——————————————————-
KAMIS, 18 Juni 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Fotografer : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...