Guo Inyiak Janun, Gua Cantik, dan Masih Perawan di Kabupaten Agam

Gua Inyiak Janun
  
Agam – Sumatera Barat sangat terkenal dengan potensi wisatanya, namun tidak semua objek yang terekspos dan muncul ke permukaan. Disetiap daerah memiliki kekayaan wisata yang tidak kalah dengan wisata lain yang ada di Indonesia.
Namun karena tidak muncul kepermukaan, banyak wisatawan yang tahu, bahwa wisata alam sangat banyak tersebar di nagari-nagari. Tidak terkecuali yang ada di Kabupaten Agam Sumatera Barat.
Di Agam, ternyata tidak hanya Danau Maninjau, Puncak lawang. Namun ada satu lokasi yang menyimpan pesona tersendiri, terutama bagi pecinta wisata dan olah raga susur gua, jelajah gua atau dengan bahasa asingnya caving. Maka akan sangat sayang jika melewatkan gua yang masih “perawan” ini, sepanjang 3 Km lorong-lorong dan lubang-lubang gua ini di tunggu untuk ditelusuri.
  
Stalagmit dan stalagtit yang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat lukisan alami yang terbuat dari teteasan alami air selama ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Hal tersebut dapat ditemui disalah satu wisata gua yang ada di Kabupaten Agam, Kecamatan Matua, tepatnya di Jorong Bukit Sirih Nagari Matua Hilia, Gua Inyiak Janun dinamai masyarakat sekitar.
  
“Gua ini belum pernah tersentuh oleh peneliti atau wisatawan yang memang benar-benar menyusurinya,” kisah Aswendi, pemuda lulusan salah satu perguruan tinggi Islam di Bukittinggi ini, mulai menjelaskan tentang gua yang ada di perbukitan belakang rumahnya, Senin (8/6/2015) sore.
  
Hal tersebut dibenarkan dari catatan dari BPNB (Badan Pelestarian Nilai Budaya) Padang, kekayaan wisata dan alam ini baru ditemukan pada tahun 2008 silam, dan gua ini sungguh belum mendapat perhatian dari berbagai pihak, baik itu dinas pariwisata ataupun masyarakat sekitar.
Dari beberapa sumber yang didapati, untuk menuju gua ini  bisa melalui Jorong Mato Katiak, dengan rute dari Matua, terus ke arah Selatan menuju Jorong Mato Katiak dengan jarak lebih kurang 4 Km, anda bisa menggunakan jasa ojek dengan ongkos Rp5.000 hingga Rp10.000,  dengan kondisi jalan sudah baik, jalan ini juga dijadikan sebagai jalan alternatif menuju Palupuah, Bukittinggi dan juga menuju daerah Pasaman.
Gua ini menawarkan pemandangan stalagmit dan stalagtit yang masih “perawan” karena belum banyak di jamah dan d adakan kunjungan wisata yang berkelanjutan ke daerah Matua tersebut. Berbeda dengan beberapa wisata gua lainnya di daerah Tanah Datar dan daerah Luhak Limo Puluah yang sudah terkenal dan selalu memiliki kunjungan tetap setiap bulannya, Gua Inyiak Janun ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan lorong-lorong dan cabang-cabang yang unik.
  
Dari cerita rakyat yang berkembang di nagari tersebut, gua ini di beri nama Inyiak Janun bukan karena keangkeranya. Namun karena memang daerah gua tersebut kabarnya adalah milik Inyiak Janun dan Inyiak Janun pulalah yang mendirikan gubuk dan tempat tinggal ditepi gua tersebut.
  
Dari silsilah adatnya, gua inyiak janun ini adalah wilayah tanah ulayat dari kaum yang dipimpin Datuak Basa dan Datua Indo, gua ini belum banyak di sentuh dan mendapat perhatian sehingga harapan mayarakat Matua agar cagar alam ini menjadi destinasi wisatapun harus bersabar menunggu tangan-tangan yang memiliki visi pariwisata yang bagus, bukan lagi pemerintahan yang cnderung hanya ambil muka.
  
“Pemerintah hanya sebatas promosi saja dan itu sudah berlangsung dari tahun 2008, namun pembangunan ataupun pengembangan dari objek wisata ini belum tersentuh hingga kini,” jelas Aswendi, pria yang berdomisili di bibir Gua Inyiak Janun ini, pada cendananews, Senin (8/6/2015).
  
Gua ini memiliki potensi yang sangat kaya, baik itu keindahannya dan kekayaan sumber daya alam yang ada dilangit-langit gua tersebut, dengan ketinggian langit-langit gua yang bisa mencapai 30 meter, hingga yang terendah lima meter dimana di setiap dinding langit-langit tersebut banyak terdapat sarang burung walet yang memiliki nilai jual tinggi, namun sayang pemerintahan banyak yang tidak tahu kekayaan daerahnya.

——————————————————-
Senin, 8 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Koleksi BNPB Padang
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...