Hikayat perjalanan Syiar Islam, Sunan Pandanaran Bayat Klaten

CENDANANEWS –  Makam Sunan Pandanaran di Klaten hingga kini masih dibanjiri para peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah, selain dari daerah Klaten dan sekitarnya juga berasal dari kota- kota besar di tanah air. Terlebih pada malam Jum’at Legi dan Jum’at Kliwon, kompleks makam penuh sesak orang yang hendak berziarah. Kebetulan sekali hari ini (15/6/15) bertepatan dengan Haul Agung Sunan Pandanaran, ini yang jatuh pada setiap tanggal 27 Ruwah (jawa) atau Sya’ban (arab).
Setiap hari Makam Sunan Pandanaran didatangi para peziarah. Pada peziarah datang di makam mantan Bupati Semarang pertama tersebut di Dusun Paseban Kelurahan Bayat Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Mereka datang dari berbagai daerah di tanah air.
Banyak kalangan yang meyakini bila makam yang berada di puncak Gunung Jabalkat dengan ketinggian 1.750 meter di atas permukaan air laut bisa menghantarkan menjadi kaya raya dan melanggengkan kedudukan di Pemerintahan. Namun bukan Sisi itu yang di angkat, tujuan kilasan ini hanya napak tilas dari Sunan Pendanaran yang konon amat kaya dan memegang kedudukan tinggi di Semarang Namun sombong, angkuh dan semena mena, sebelum ahirnya disadarkan oleh Sunan Kalijaga dan menjadi pendakwah dalam penyebaran Islam di tanah jawa.
Sebelum menjadi pendakwah. Sunan Pandanaran adalah Bupati pertama Semarang. Semasa menjadi Bupati ia menggunakan nama Ki Ageng Pandanaran II. Dan ketika menjadi penguasa nomor satu di Kabupaten Semarang ia terkenal dengan kecongkaan dan kesombongannya. Selain itu, Ki Ageng Pandanaran II selalu mengagungkan harta kekayaannya.
Suatu saat datanglah Sunan Kalijaga yang waktu itu memakai nama samaran Syekh Malaya menemui Bupati Semarang. Tujuannya adalah untuk menyadarkan sang Bupati dari gemerlapnya kehidupan. Berkat ketelatenan Sunan Kalijaga dalam menyadarkan dirinya, akhimya sang Bupati mau bertobat dan selanjutnya menjadi muridnya. Waktu untuk menjadi murid Sunan Kalijaga syaratnya tidak mudah. 
Syarat yang harus dilakukan Ki Ageng Pandanaran II untuk bisa menjadi murid Sunan Kalijaga adalah harus meninggalkan jabatan dan gemerlapnya kehidupan duniawi. Selain itu ia di suruh ke daerah Bayat, Wedi, Klaten untuk membuktikan inilah Ki Ageng Pandanaran disuruh oleh Sunan Kalijaga untuk menunggui tongkatnya yang sengaja ditinggalkan sampai ia kembali lagi ke tempat itu. Ini semua tiada lain untuk membuktkan kebulatan tekad dan kesetiaan Ki Ageng Pandanaran yang ingin berguru.
Bertahan tahun lamanya Ki Ageng Pandanaran menunggui tongkat tersebut. Karena kepatuhannya kepada sang guru, ketika sedang bertapa sambil menunggui tongkat itu, tiba – tiba di lokasi sekitarnya terjadi kebakaran yang hebat. Tapi ia tak pernah menghiraukan kobaran api itu yang sempat mengenai dirinya. Bahkan akibat kebakaran itu menyebabkan tubuhnya menjadi gosong.
Setelah Sunan Kalijaga kembali ke tempat itu untuk mengambil tongkatnya, ia dikejutkan oleh kondisi Ki Ageng Pandanaran yang telah gosong atau geseng. Saat itu diberi nama Sunan Geseng atau Sunan Bayat.
Pandanaran seorang murid yang cerdas dan rajin. Berkat kecerdesannya, ia ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Ia pun mendirikan sebuah perguruan di Gunung Jabalkat. Ajaran Ki Ageng Pandanaran yang paling menonjol dikenal dengan istilah Patembayatan, yaitu kerukunan dan kegotongroyongan. Setiap orang yang datang untuk memeluk agama Islam harus mengucapkan Sahadat Tembayat. Berkat ajaran Patembayatan, ia juga berhasil mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala. Tepatnya di puncak gunung Jabalekat yang berada di desa Tembayat, sebelah tenggara kota Klaten.
Perihal Masjid Gala yang di bangun oleh Sunan Pandanaran di atas gunung Jabalekat itu punya cerita yang amat menarik pada waktu itu, jika Ki Ageng Pandanaran tengah mengumandangkan adzan subuh dari masjid, konon suaranya terdengar sampai keraton Demak yang jaraknya lebih dari 100 km dari Bayat. Karena masih tidur dan merasa terganggu, ada seorang pejabat Demak yang kemudian mengutus prajuritnya. Untuk mengingatkan adzan Ki Ageng Pandanaran serta merta meminta untuk menurunkan letak masjidnya.
Lantaran kezuhudannya terhadap Allah SWT, sebelum utusan kerajaan Demak tiba di Jabalekat terlebih dahulu Ki Ageng Pandanaran sudah menurunkan letak masjid dari gunung Jabalekat sedikit ke bawah dengan di Bantu para santri dan jin muslim. Konon dalam memindahkan kayu – kayu masjid, cukup diikatkan dengan tali kain surbannya.
Allah Maha Besar, melalui perantara hamba-Nya, Sunan Pandanaran, masjid yang usianya lebih dari 500 tahun itu bisa dipindahkan cukup hanya dengan beberapa tali sorban Sang Ulama Besar itu.
Jasa Sunan Pandanaran amat besar. Sampai kemudian Sunan Kalijaga berkenan datang meresmikannya sebagai Wali pada malam Jum’at Kliwon dalam bulan ruwah dengan gelar Sunan Tembayat. 
Selain pengetahuan agama, Ki Ageng Pandanaran juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara bergaul dengan baik kepada penduduk sekitarnya. Setelah itu, ia pun menetap di Jabalkat hingga akhir hayatnya. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat atau Bayat. Itulah sebabnya ia diberi gelar Sunan Tembayat atau Sunan Bayat. Hingga kini, makam Ki Ageng Pandanaran dapat ditemukan di atas Bukit Cakrakembang di sebelah selatan bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
Demikianlah, hikayat Ki Ageng Pandanaran dari daerah Klaten, Jawa Tengah. Kisah sejarah yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah bahwa jangan sampai kemewahan duniawi membuat kita lupa diri seperti Ki Ageng Penandaran. Oleh karena sibuk mengejar kemewahan duniawi, akhirnya ia lupa pada kehidupan akhirat yang kekal. Namun, sejelek-jelek perbuatan seeorang, jika ia segera bertaubat, maka Tuhan akan mengampuni dan manusia pun akan memaafkannya. Berkat kesadarannya ingin cepat bertaubat, Ki Ageng Pandanaran direstui menjadi murid Sunan Kalijaga hingga akhirnya menjadi seorang sunan penyebar agama Islam di Jawa Tengah pada masa lalu dan terus dikenang hingga saat ini.

——————————————————-
Senin, 15 Juni 2015
Jurnalis       : Mohammad Natsir
Fotografer : Mohammad Natsir
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...