Impor Bawang dan Cabai Diharapkan Tidak Rugikan Petani

Pasar Tradisional
MATARAM – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Nusa Tenggara Barat mengharapkan supaya impor bawang dan cabai jelang ramadhan tidak terlalu berlebihan. Hal itu dilakukan agar tidak merugikan para petani.
“Impor bawang dan cabai jangan sampai merugikan petani,” ujar Kepala Disperindag, Husni Fahri di Mataram, Sabtu (6/6/2015).
Ia menuturkan, kondisi jumlah bawang dan cabai di NTB sendiri sampai saat ini masih terbilang surplus. Namun memang tidak merata sepanjang tahun. Dirinya menjelaskan, impor bawang dan cabai memungkinkan untuk masuk ke NTB.
Menurutnya, total produksi bawang yang dihasilkan para petani di NTB sepanjang tahun jumlahnya mencapai 76 ribu ton. Sementara kebutuhan penggunaan bawang hanya mencapai 40-45 ribu ton. Sehingga, bisa dikatakan surplus.
“Produksi bawang yang surplus tidak hanya dipasarkan ke pasar di NTB. Namun, keluar daerah. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan produksi bawang sepanjang tahun, harga bawang tinggi terjadi di bulan Januari dan Februari. Sebab, kondisi saat itu petani menanam di musim hujan yang mengakibatkan harga menjadi naik,”katanya.
Menurut Husni, resi gudang menjadi solusi ketika harga bawang rendah. Sehingga ketika harga bawang naik maka bisa langsung dijual. Namun, diperlukan jaminan mutu ketika memakai resi gudang.
——————————————————-
Sabtu, 6 Juni 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...