Inflasi Terus Menghantui Provinsi Sumatera Barat

Bahan Pokok
PADANG – Dari tahun ke tahun laju inflasi di Sumatera Barat terus memperburuk perekonomian. Hal ini terungkap dari data yang dimiliki oleh Bank Indonesia Wilayah VIII.
Selama tiga tahun kebelakang, Sumbar tidak mampu mengangkat keterpurukan ekonominya. Dari wawancara CND dengan  Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VIII, Puji Atmoko menilai laju inflasi Sumatera Barat (Sumbar) kurun waktu tiga tahun belakangan tidak kunjung reda. 
“Ini sudah terjadi sejak 2012, apalagi ketika ramadhan. 2012 itu, pada bulan ramadhan inflasi sangat tinggi, 1,08 persen. 2013 malah naik lagi, 2,75 persen,” jelas Puji, Minggu (14/6/2015) pagi.
Ia juga membeberkan beberapa fakta, meskipun inflasi pernah reda sesaat. Bulan Ramadhan 2014, hanya reda sesaat setelah itu kembali menukik tajam.
“Cuma 2014 laju inflasi pada bulan Ramadhan itu turun, hanya 0,82%. Namun, setelah Ramadhan naik lagi 1,27%. Kita harus carikan solusi untuk ini,” ungkap Puji dalam pertemuan pembahasan harga jelang Ramadhan di komplek Gubernuran.
Irwan Prayitno yang menjabat sebagai Gubernur Sumbar, hanya bisa berharap agar tahun ini laju inflasi pada bulan Ramadhan 2015 tidak meningkat.
“Kita harus menekan laju inflasi. Nanti kita akan safari juga ke pasar,” ujar Irwan.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Yomin Tofri minta agar pemerintah dapat perhatikan hal tersebut. Yomin menjelaskan jika, laju inflasi bisa saja ditekan asalkan ada kesadaran. Pemicu utamanya adalah impor yang berlebihan dan penimbunan barang.
“Laju inflasi ini cenderung karena ulah produsen yang menyumpali barang tidak jelas, itu biasanya barang-barang dari luar Sumbar. Belum lagi persoalan logistik, jalur logistik harus dibenahi banyak tikus-tikus disana sehingga harga melambung,” ungkap Yomin.
Yomin juga menjelaskan, fluktuasi harga juga menjadi penyebab inflasi. Harga yang melambung sewaktu-waktu membuat masyarakat panik dan melakukan pembelian secara besar-besaran.
“Selain itu, penyebabnya harga barang yang sering naik mendadak. Akibatnya masyarakat cukup panik dan main borong saja,” jelasnya.
Untuk cabe yang biasa menyumbang inflasi cukup tinggi, menurut Yomin saat ini bisa diatasi dengan adanya gerakan penanaman sejuta cabe. Sehingga harga cabe tidak terlalu mengawang tinggi, meski sesekali mengalami kenaikan namun tidak terlalu mencekik masyarakat.
“Dengan mengkonsumsi cabe secara mandiri itu dapat menahan laju inflasi,” pungkasnya.
——————————————————-
Minggu, 14 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : Ferry Cahyanti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...