Ingin Belanja? Inilah Harga Batik Tulis Port Numbay asal Kota Jayapura

CENDANANEWS (Jayapura) – Ingin tahu harga dan jenis-jenis batik dari Pendopo Batik Port Numbay, Kota Jayapura, Papua? Mari ikuti penelusuran Cendana News di lokasi pembuatannya.
Pendopo Batik Port Numbay yang beralamatkan di Cogombong, Kotaraja Dalam, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua. Pendopo yang telah dikenal masyarakat yang ada di ibukota provinsi Papua ini banyak didatangi para konsumen yang hendak mengorder kain batik tulis hasil karya dari mama-mama asli Port Numbay.
Harga batik tulis yang ditawarkan Pendopo Batik Port Numbay dari hasil karyanya antara lain kain katun Primisima bermotif Port Numbay, panjang kain 2 meter Rp 650.000, ukuran 2,5 meter Rp 750.000, ukuran 3 meter Rp 850.000. Sedangkan, kemeja lengan panjang batik tulis motif Port Numbay ukuran S-L dibandrol dengan harga Rp 650.000 setiap kemeja dan untuk lengan pendek di hargai Rp 550.000.
Sedangkan batik tulis Port Numbay dengan bahan dasar kain Sutra asli tidak menggunakan mesin (ATBM), ukuran 2 meter dibandrol dengan harga Rp 2.000.000, ukuran 2,5 meter Rp 2.750.000 dan ukuran untuk Sarimbit atau pasangan suami istri (Pasutri) dengan panjang 6 meter diberi harga Rp 4.750.000. Sedangkan, untuk kemeja lengan panjang batik tulis Port Numbay ukuran S-L dibuka dengan harga Rp 850.000 setiap kemeja dan untuk lengan pendek dihargai Rp 750.000.
Desainer yang juga pemilik Pendopo Batik Port Numbay, Jimmy Affar menjelaskan bahwa keunggulan kain katun, dapat tahan lama, sangat lembut dan nyaman digunakan dalam beraktifitas sehari-hari.
“Di pendopo ini paling dominan yang memesan kain batik tulis Port Numbay dengan bahan kain katun Primisima, lantaran harganya tidak terlalu mahal dengan kain sutra,” kata Jimmy, Selasa (02/06/2015).
Batik tulis asli Port Numbay, kata Jimmy, pertama kali dijual pada tahun 2008, setahun setelah penjualan batik Printing. “Dua kategory yakni batik tulis buatan asli masyarakat Port Numbay, sedangkan batik Printing dikerjakan secara manual menggunakan mesin yang dibuat di luar Papua, di kota Solo, Jawa Tengah. Tapi pola Bart desainnya dari saya,” katanya.
Sedangkan, lanjut Jimmy, untuk kain sutra yang order biasanya dari kalangan-kalangan tertentu. “Memang harganya mahal, tetapi kualitasnya sangat bagus, dan kain sutra itu butuh perawatan yang maksimal dan hati-hati, contoh jika kain sutra disetrika dengan suhu yang tidak cocok dengan kain tersebut, nanti akan rusak, karena benang-benangnya sangat halus, dan proses penguncian warna saat dibuat batik tulis, butuh harus betul-betul maksimal,” kata anggota Yayasan Batik Indonesia (YBI) ini.
Di pendopo Port Numbay miliknya juga terdapat Batik Printing dengan corak Port Numbay dan motif-motif dari suku-suku yang ada di Papua. “Seperti dari Asmat, Mamberamo Raya, Biak, Mimika, Sarmi, Tolikara dari pegunungan tengah Papua hampir keseluruhan motifnya sama,” ujarnya.
Katun Primisima Batik Printing permeter di banderol dengan harga Rp 95.000, dikatakan Jimmy, saat pertama dijual pada tahun 2007, Jimmy mengaku, para konsumen mengeluh lantaran harga terlalu mahal.
“Setelah mengetahui ada perbedaan motif bila dibandingkan dengan motif Papua pada umumnya. Dimana, batik Port Numbay mengangkat, motif-motif Papua yang mempunyai filosofi, flora fauna Papua, maka konsumen mulai tertarik,” ujarnya.
Ketertarikan konsumen membeli batik Printing yang berbagai corak atau motif kearifan suku-suku di Papua, lanjut Jimmy, suku-suku sudah mulai menceritakan motif mereka melalui pendopo batik Port numbay.
“Saya merasa bangga dengan itu, membuat konsumen lebih dekat dan terinci untuk mengetahui budaya-budaya Papua yang dituangkan di kain batik tulis maupun Printing,”
Ia membuka ruang kepada seluruh masyakarat Papua maupun masyarakat yang ada diluar Tanaha Papua untuk berkunjung dan melihat langsung apa yang ada di Pendopo Port Numbay.
“Kami tidak menutup informasi ataupun keuntungan besar, melainkan kami ingin budaya Papua secara umum, yang khususnya budaya Port Numbay lebih dikenal masyarakat luas. Kami di sini ada keluarkan batik tulis dari kampung Kayu Pulo, Nafri, Enggro, Tobati,” ujarnya.
Salomina Mallo (56), salah satu pembatik yang ada di Port Numbay mengaku batik tulis yang dikerjakan ini mempunyai roh tersendiri setiap motifnya. “Kekuatan motifnya itu, membuata wibawa orang terpancar luas, membuat orang teranjung, membuat orang percaya diri kalau memakainya,” kata Salomina.
Ia mengaku, kadang-kadang dirinya merinding dan sesekali melihat para leluhur-leluhur yang menampakkan diri di tempat ia membatik. “Saaat saya mencanting motif Cacuewe asal kampung Tobati, saya merinding dan langsung lari menuju teman-teman yang sedang embatik sekitar 7 meter,” ujarnya.

——————————————————-
Selasa, 2 Juni 2015
Jurnalis       : Indrayadi T. Hatta
Fotografer :  Indrayadi T. Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...