Jelang Ramadan Banyak Pohon Kolang Kaling Ditebas

Buah aren yang akan dijadikan kolang kaling
LAMPUNG – Menjelang bulan suci Ramadan, permintaan akan bahan baku pembuatan takjil (makanan berbuka puasa) mulai meningkat. Bahkan salah satu bahannya untuk minuman dari kolang kaling sudah mulai dipesan oleh para pengepul dari pemilik tanaman aren penghasil kolang kaling tersebut.
Menurut salah satu warga di Desa Klaten Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung, kolang kaling menjadi satu bahan makanan yang banyak disukai untuk membuat menu makanan berbuka puasa di bulan Ramadhan. 
Bagi para pengolah buah aren, kolang kaling yang akan dipergunakan terlebih dahulu dibeli dari warga pemilik pohon aren. Para pemilik pohon aren di kebun biasanya tak sempat mengolahnya sehingga memilih untuk menjual kepada para pengolah.
“Pohon aren milik saya ada dua batang sudah ditebas istilahnya dibeli sebelum panen jadi ini sudah jadi milik yang menebas menunggu bulan puasa nanti,” ungkap Rahmat(45), Selasa (9/6/2015).
Satu pohon aren miliknya bahkan mampu menghasilkan lebih dari 6 tandan buah yang cukup banyak. Pembeli bahkan membeli buah buah pada pohon aren miliknya sebesar Rp300ribu, Rp150ribu per pohon.
“Lumayanlah daripada saya tak bisa mengolah karena mengolah buah aren harus punya keahlian khusus kalau ga malah gatal gatal badan kita,” ujar Rahmat.
Saat ini sekitar beberapa hari dari rencana bulan puasa Ramadhan, Rahmat mengaku pembeli akan memanen buah arennya sekitar 4 atau 5 hari sebelum bulan puasa berlangsung sambil menunggu buah aren tersebut tua.
Keberadaan pohon aren di kampung kampung memang sudah mulai jarang, karena pohon aren bukan ditanam manusia akan tetapi tumbuh dengan sendirinya. Dalam satu pohon pun umumnya hanya akan berbuah satu kali, jika telah dipanen maka pohon akan mati.
“Oleh para pembuat kolang kaling biasanya akan dipotong menggunakan alat lalu diangkut menggunakan kendaraan ke tempat pengolahan kolang kaling,” ungkapnya.
Sementara itu sang penebas, Rohman (34) mengaku proses pembuatan kolang kaling memang tak mudah dan butuh perjuangan. Apalagi jika terkena getah buah aren maka akan merasakan gatal gatal.
Setelah buah aren tersebut dipanen maka buah aren akan direbus dalam drum besar menggunakan api yang berasal dari kayu bakar. Setelah direbus buah kolang kaling berwarna hijau tersebut akan berubah menjadi kecoklatan dan getahnya hilang.
“Baru setelah kita rebus kemudian ditiriskan dan dikeringkan, selanjutnya dibelah belah satu persatu dengan pisau untuk mendapatkan kolang kaling dari bijinya,” ujarnya.
Warna kolang kaling yang berubah menjadi putih dan kenyal selanjutnya ditumbuk sampai gepeng. Setelah itu direndam dengan air bersih di dalam wadah. Sekali pengolahan dari satu pohon aren Rohman mengaku memperoleh sebanyak 25-35 liter biji kolang kaling.
Untuk memperoleh kolang kaling berkualitas, Rohman mengaku melakukan perendaman selama 4 hari dengan cara mengganti air setiap 6 jam sekali.
“Karenanya proses pembuatan kolang kaling ini idealnya di pinggir sungai mengalir sehingga [asokan air lebih banyak untuk mengganti rendaman,” ujar Rohman.
Setelah dirasa kenyal dan warna semakin putih kolang kaling bisa dijual untuk dikonsumsi. Para pembeli kolang kaling bisanya para pembuat hidangan takjil yang membeli dari Rohman yang tinggal di Desa Banjarmasin dengan harga Rp15ribu seliter.
Rahmat selaku pemilik pohon aren mengaku tak rugi menjual buah aren tersebut dengan harga murah sementara di tingkat pengolah hingga perajin takjil menjadi mahal.
“tak apa mas namanya bagi bagi rejeki menjelang Ramadhan, selain karena saya tak bisa mengolah sendiri daripada mubazir tak diolah saya jual lumayan juga nambah uang bumbu,” ungkap Rahmat.
Sementara itu Rohman mengaku saat ini belum melakukan pengolahan buah kolang kaling karena puasa masih belum ditentukan. Saat ini ia mengaku pergi ke desa desa dan “menebas” pohon aren yang dimiliki warga.
“Jika mendekati bulan Ramadhan saya akan datang bersama pekerja saya mengambil buah aren di pohon dan mengolahnya,” ujar Rohman.
Pasokan akan buah aren tersebut cukup melimpah di wilayah Lampung Selatan terutama di beberapa daerah pegunungan Rajabasa. Hasil buah aren yang diolah tersebut rencananya selain digunakan untuk pasokan daerah Lampung sebagian juga dikirim ke Jakarta dan Tangerang saat bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan yang akan datang diharapkan Rohman akan menjadi berkah tersendiri bagi pengolah kolang kaling sehingga proses panjang tersebut berbuah manis saat penjualan mendatangkan pundi pundi rupiah baginya.
——————————————————-
Selasa, 9 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...