Katupek Pitalah, Kearifan Dari Negeri Hujan Sumatera Barat

2.112
Katupek Pitalah
PADANG – Ketupat sayur atau dalam bahasa Minangnya Katupek, merupakan makanan favorit orang Minangkabau untuk menunda lapar. Baik itu saat sarapan pagi, siang atau malam, Katupek menjadi pilihan bagi mereka yang tidak mau makan berat namun tetap kaya serat.
Untuk kali ini, cendananews akan mengupas salah satu katupek dari daerah Padang Panjang. Di daerah yang dikenal dengan Mesir Van Andalas dan serambi mekah ini, memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Selain paragede angek (perkedel panas), negri ini juga memiliki panganan sehat dan penuh kearifan bernama Katupek Pitalah (Ketupat Pitalah).
Meski daerah Pitalah masuk dalam wilayah administratifnya Kabupaten Tanah Datar, namun masyarakatnya lebih dominan berjualan dan mengidentifikasi diri mereka sebagai orang padang panjang. Lalu dimanakah kearifan Katupek Pitalah ini? Sedangkan masyarakatnya saja lebih suka disebut orang Padang Panjang?
“Karena lebih dekat saja ke Padang Panjang sebenarnya, kami tetap orang Batipuah,” ujar Edison (50) masyarakat Pitalah asli, yang mempelajari cara membuat Katupek Pitalah secara turun temurun pada cendananews, Jum’at (12/6/2015) pagi.
Katupek Pitalah, hanyalah sebuah katupek seerhana dengan sayur dan kuah yang hanya berisi tiga buah sayur mayur,rebung, nangka dan lobak singgalang yang dimasak di dalam talenang (belanga dari tanah liat. Meski hanya tiga buah sayurm mayur dalam gulainya, Katupek Pitalah memiliki ke khasan, kuahnya kental dan sangat lumat di lidah.
“Kalau makan Katupek Pitalah pada pagi hari, sampai siang masih terkenang rasa kuahnya,” lanjut Edison.
Tak sampai disana saja, untuk membuktikan apakah Katupek Pitalah ini asli atau tidak. Anda bisa menanyakan kepada penjualnya, dan mintalah dengan kata “Katupeknya di rujik saja”. Rujik adalah cara menyajikan Katupek Pitalah dengan cara tidak dipotong dan disajikan dengan mengonggokkan ketupat dengan sayur mayurnya menjadi satu tanpa memotong-motong ketupatnya.
“Karena setiap orang miliki kemampuan makan yang berbeda, maka ketupatnya sengaja tidak di potong. Kalau dipotong berarti kita menarget-nargetkan setiap suapan pelanggan,” jelas Edison.
Katupek pitalah dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, namun pembuktian Katupek Pitalah yang asli dapat anda lakukan dengan cara diatas. Atau minimal dengan melihat potongan nangka dan rebung yang disajikan.
“Nangka yang dijadikan sayur dalam Katupek Pitalah tidaklah nangka yang matang ataupun yang masih muda, rebungnya pun juga begitu. Dan kuahnya haruslah kental dan lumat,” terang Edison yang telah 20 tahun berdagang Katupek Pitalah.
Untuk harga perporsi, tidak ada harga normalnya. Jika anda membeli Katupek Pitalah di Palu, Sulawesi Tengah, harganya bisa Rp 20.000 perporsi, jika di Kota Padang rata-rata Rp 8.000 hingga Rp 10.000. Untuk rasa yang original dan merasakan sensasi masakan pitalah yang disajikan langsung dari talenang (tempat kuah) yang masih berasap.
Datanglah ke Pasar Pitalah Kota Padang Panjang, dengan uang Rp 5.000 anda sudah dapat menikmati goyangan lidah saat menguyah lobak singgalang yang segar, nangka yang empuk dan rebung yang gurih dalam kuah Katupek Pitalah. Belum lagi, cuaca Koata Padang Panjang yang sejuk. Dan tentunya ciri khas penjualnya yang masih memakai kodek (Kain panjang yang diselempangkan menjadi rok). Selamat berwisata.

——————————————————-
Minggu, 14 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul rahmad?
Fotografer : Muslim Abdul rahmad?
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Baca Juga
Lihat juga...