Kompos Sabut Kelapa pun Bernilai Ekonomi untuk Bahan Pupuk Organik


CENDANANEWS (Lampung) — Sabut kelapa menjadi barang yang tak diperhatikan oleh para pemetik kelapa bahkan terkadang dibuang setelah proses pengupasan kelapa berlangsung. Potensi dari sabut kelapa tersebut kemudian dimanfaatkan oleh warga Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan Provinsi Lampung menjadi barang bermanfaat. Setiap hari beberapa kendaraan roda dua terlihat mengangkut sabut sabut kepala dari tempat para pemilik usaha kelapa di sekitar wilayah Kecamatan Penengahan Lampung Selatan bahkan hingga ke kecamatan lain.
Sabut sabut kelapa tersebut kemudian diolah menjadi serat serat yang dipergunakan untuk bahan baku pembuatan kerajinan keset, bantalan kursi, tempat tidur yang semuanya dikirim ke beberapa pabrik di Jakarta untuk pembuatan kerajinan.
Selain dikirim dalam bentuk sabut kelapa beberapa bagian bahkan dipintal menjadi semacam tambang berukuran besar yang akan dipergunakan sebagai bahan untuk pembuatan kerajinan. Bahan baku tersebut dikirim ke beberapa daerah diantaranya Bandung serta Jakarta sesuai dengan permintaan.
“Awalnya sabut kelapa tersebut dipergunakan untuk bantalan kursi bahkan tempat tidur, namun karena permintaan berkurang kini sisa sisa tersebut menumpuk hingga membusuk dan menjadi kompos,” ujar Surtiyem salah satu pekerja di tempat tersebut saat ditemui Cendananews.com di tempat pengolahan sabut kepala tersebut,Jumat(12/6/2015).
Setelah melalui proses pembusukan sisa sisa serabut kelapa tersebut bahkan selanjutnya terbentuk menjadi kompos atau coco peat. Proses pemisahan kompos dan serabut kelapa tersebut dilakukan oleh sekitar 10 orang yang semuanya kaum ibu dari wilayah Desa Kuripan. Setiap hari kaum wanita tersebut sudah mulai bekerja dari pukul 08:00 WIB dan pulang saat sore hari.
“Sudah hampir sebulan kami bekerja di sini mengayak sisa serabut kelapa yang sudah menjadi kompos kemudian diayak untuk memperoleh hasil yang lebih bagus,”ungkap Surtiyem (35) salah seorang pekerja di lokasi tersebut.
Bersama beberapa wanita lain Surtiyem mengayak serabut serabut kelapa yang sudah menjadi kompos dan mendapatkan serbuk serbuk menyerupai tanah berwarna coklat kemerahan. Proses pengayakan tersebut dilakukan di bawah tenda tenda sederhana untuk menghindari terik sinar matahari. 
Surtiyem mengungkapkan, proses pengayakan tersebut dilakukan untuk memisahkan serabut kelapa dengan serabut yang sudah menyerupai bubuk tanah akibat proses pembusukan. Selanjutnya bubuk bubuk tersebut diangkut ke terpal yang dipergunakan untuk penjemuran hingga kering.
“Setelah kadar air berkurang selanjutnya akan dimasukkan ke dalam karung dan dalam satu hari rata rata kami berhasil memperoleh lima karung lebih,”ungkap Surtiyem.
Hasil kerja mengumpulkan serbuk serbuk bekas serabut tersebut perkarungnya para pekerja memperoleh upah sekitar Rp5.000,- sehingga para wanita terlihat bekerja keras untuk memperoleh serbuk kompos bekas serabut kelapa tersebut sebanyak banyaknya.
“Semakin banyak karung kompos serabut kelapa yang kami peroleh maka semakin banyak uang yang kami peroleh yang akan dibayar seminggu sekali,”ungkap Surtiyem.
Sementara itu menurut salah satu penanggung jawab pekerja lainnya, Hasan (40), serbuk kompos tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan pupuk organik berkualitas dan sudah dipesan oleh perusahaan pembuatan pupuk organik. Dalam seminggu sekitar 200 karung besar dikirim ke Jakarta untuk bahan baku pembuatan pupuk organik dengan harga perkarungnya mencapai Rp30ribu.
Tren penggunaan pupuk kompos organik menurut Hasan membuat permintaan akan serbuk sabut kelapa (cocopeat) meningkat. Penggunaan cocopeat diyakini mampu menyuburkan tanah serta menjadi media tanam pengganti tanah yang digemari oleh para penghobi tanaman hias.
Ia mengungkapkan adanya permintaan coco peat tersebut karena kandungan trichoderma molds-nya, sejenis enzim dari jamur, dapat mengurangi penyakit dalam tanah dan menjaga tanah tetap gembur dan subur. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Kalium (K), Natrium (Na) dan Fospor (P).  
“Bubuk dari kompos sabut kelapa ini kan akan menjadi campuran dan karena bahan organik maka cukup bagus, meskipun sebetulnya di sini hanya sebagai limbah dari serabut kelapa yang sudah dimanfaatkan,”ujar Hasan.
Ia menjelaskan ocopeat sendiri merupakan limbah pengolahan sabut kelapa yang di ambil serat atau fiber. Cocopeat merupakan butiran halus atau serbuk dari fiber kelapa yang sekarang diolah oleh para wanita di tempat tersebut.
Sebagai penanggungjawab para pekerja tersebut, Hasan mengaku bisa memberi lapangan pekerjaan kepada kaum wanita yang ada di desa tersebut dari pengolahan sisa limbah serabut kelapa. Ia juga mengaku bersyukur sebab menjelang bulan Ramadhan kaum ibu tersebut bisa menambah penghasilan untuk persiapan menyambut Ramadhan dan Lebaran.
“Kalau dirata rata penghasilan tersebut cukup lumayan untuk kaum ibu yang sehari hari hanya bekerja di rumah mengurus rumah tangga,”ujar Hasan.
Kompos serabut kelapa yang terlihat menggunung menurut Hasan masih akan menghasilkan ratusan karung lagi dan para pekerja masih terus melakukan proses pengayakan. Selain menjadikan kompos serabut kelapa menjadi barang bernilai ekonomi.
—————————————————
Jumat, 12 Juni 2015
Jurnalis : Henk Widi
Foto : Henk Widi
Editor : Sari Puspita Ayu
—————————————————
Lihat juga...