Laki-laki ini Ubah Bambu dan Rotan Jadi Bernilai Seni Tinggi

Hasil Karya dari Bambu dan Rotan
LAMPUNG – Furniture bambu dikombinasikan dengan rotan meciptakan sebuah karya seni yang memiliki fungsi untuk keperluan ruamh tangga. Didukung dengan hasil hutan tersebut masih banyak terdapat di Lampung Selatan sehingga menjadi peluang usaha Saprianto (29).
Bambu tersebut dibeli dari beberapa daerah di Lampung Selatan diantaranya dari Kecamatan Rajabasa, Kecamatan Penengahan, Kecamatan Ketapang. Bambu bambu tersebut dibeli dengan sistem satuan seharga Rp13.000,- hingga Rp14.000,- yang biasanya dibeli sekitar 100 batang hingga 200 batang.
Menurut Saprianto (29) bahan bambu bambu tersebut dipilih berdasarkan bambu yang sudah cukup tua, kering dan ditandai dengan ciri fisik mengerak, berlumut bahkan berwarna cukup hitam yang biasanya ditebang pada saat tanggal tua pada penanggalan Jawa.
“Pemilihan jenis bambu juga menentukan kualitas perabotan yang akan kita buat sebab semaikin bagus kualitas bambu yang kita gunakan sebagai bahan maka akan semakin bagus dan awet,”ujar Saprianto saat ditemui CND di rumah yang sekaligus berfungsi sebagai workshopnya, Selasa (23/6/2015).
Setelah dibeli dan dibawa ke rumahnya bambu bambu tersebut kemudian dikumpulkan dan akan diberi obat Dekasidin yang merupakan bahan pengawet untuk pembuatan furniture kayu, bambu.
Selanjutnya proses pembuatannya dilakukan secara bertahap mulai dari pemotongan, pembuatan rangka untuk pola yang akan dibuat mulai dari pembuatan rangka hingga proses jadi.
Selama satu tahun lebih menjadi pengrajin bambu,ia mengaku membuat berbagai jenis perabotan dari yang hanya sebagai hiasan hingga barang yang bisa digunakan untuk keperluan rumah tangga.
Perabotan yang dikerjakan berbahan bambu dari tersebut diantaranya meja, kursi, lemari, meja,ayunan, tutup saju, kursi malas, dipan saung rumah makan serta berbagai jenis bahan lain untuk keperluan rumah tangga.
Setelah hasil kerajinan dari bambu tersebut jadi, proses selanjutnya dilakukan proses penjualan yang dilakukan di depan rumahnya yang juga berfungsi sebagai galeri. Sementara jenis jenis perabotan lain seperti kuris, meja dipasarkan di Kota Kalianda dengan menjualnya di pinggir jalan.
“Saya menjual di tepi jalan dan beruntung setiap saya membawa barang kerajinan dari bambu selalu habis terjual dan diminati oleh warga Kalianda,”ungkap Saprianto.
Menekuni usaha kerajinan dari bambu bukanlah usaha awal laki laki yang memiliki istri Yulinda tersebut. Ia bahkan mengaku awalnya tak memiliki pikiran untuk memiliki usaha pembuatan perabotan dari bambu karena di daerahnya memang tak banyak tanaman bambu. Sementara itu awalnya ia mengaku awalnya memiliki usaha mengangkut furniture dengan kendaraan L300 yang dimilikinya.
“Setiap saya mengangkut barang dagangan dari bambu tersebut terkadang banyak yang mengira saya yang memiliki usaha tersebut sehingga saya menganggap itu sebagai peluang,”ungkapnya mengenang awal mula menekuni bisnis kerajinan berbahan bambu tersebut.
Selanjutnya meski nekat ia akhirnya menjual kendaraan pengangkut miliknya untuk modal membeli bambu sebagai bahan pembuatan kerajinan dari bambu. Selanjutnya dengan modal tersebut ia membeli berbagai keperluan untuk pembuatan kerajinan dari bambu tersebut termasuk mendatangkan dua karyawan yang membantunya dalam proses pembuatan kerajinan dari bambu tersebut.
Dua karyawan yang membantunya diantaranya bernama Muhamad Imanudin dan Jun Puspa yang digajinya sebesar Rp400ribu dengan sistem borongan berdasarkan jenis barang yang dibuat.
Barang perabotan buatan Saprianto menurutnya dijual dengan harga kisaran Rp500.000,- hingga mencapai Rp3.000.000,- yang biasanya dipajang di depan rumah atau dijual hingga ke luar daerah.
Strategi pemasaran langsung di pinggir jalan atau di tempat tempat yang sering dilalui orang merupakan salah satu cara. Selain itu dibantu sang istri Yulinda, pemasaran dilakukan secara online dengan menggunakan media sosial dan jejaring sosial.
“Kalau isteri saya sedang online biasanya memanfaatkan media tersebut sebagai bahan untuk promosi sementara saya biasanya menjajakan secara langsung,”ungkap Saprianto.
Meski usahanya sudah dikenal orang namun ia mengaku masih kesulitan dalam soal pendanaan. Bahkan ia mengaku masih kurang dalam hal permodalan yang diharapkannya mampu membesarkan usahanya. Bahkan ia mengaku ingin memiliki galeri yang lebih bagus dan lebih strategis. Ia bahkan mengaku ingin membesarkan usahanya pelan pelan meski tanpa bantuan dari pihak pemerintah.
“Sejak awal saya mandiri memiliki usaha ini selain tak mau merepotkan orang lain juga karena sistem pinjaman di lembaga keuangan memiliki persyaratan yang rumit,”ungkapnya.
Selain memiliki usaha kerajinan bambu ia juga menjual perabotan berbahan kayu rotan yang ikut dijual bersama dengan perabotan dari bambu miliknya. Kerajinan rotan tersebut merupakan titipan dari salah satu rekannya yang memiliki usaha kerajinan dari rotan di Natar.

——————————————————-
SELASA, 23 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...