hut

Lamang Tapai Jadi Makanan Favorit Saat Ramadhan

Lamang Tapai

PADANG – Entah kenapa, di negeri yang terkenal dengan tradisinya ini. Malah menjadikan beberapa makanan tardisional, jadi pendatang di Negeri sendiri. Lamang Tapai namanya, panganan tradisional yang sudah mulai asing ditelinga generasi muda. Bahkan di Kota Padang, Lamang Tapai sudah sulit ditemukan. Di Kota yang terkenal akan minangnya. Bahkan jika masyarakat minang merantau, mereka selalu di cap sebagai orang Padang. Padahal kampung halamannya beratus kilo dari Padang.
Lamang Tapai, panganan sederhana penuh gizi.  Diolah sederhana, tanpa bahan pengawet dan pewarna. Saat ini cukup sulit ditemukan di Kota Padang, apalagi di luar Ramadhan. Dari penelusuran CND, hanya satu orang yang masih menjual Lamang Tapai di Kota Padang. Zulherman namanya, ayah empat anak ini, sudah berjualan Lamang Tapai sejak tahun 1983.
“Dahulu, saya berjualan di bawah Padang Teater, namun karena telah berubah fungsi dan pelanggan juga sudah mulai hilang, hanya di bulan Ramadhan saja saya bisa berdagang,” ujar Zulherman mengawali kisahnya pada CND, Selasa (23/6/2015) sore.
Lamang Tapai adalah panganan, khas Sumatera Barat. Berupa beras pulut yang telah dimasukkan kedalam bambu-bambu kecil dan dijadikan ketan yang bulat-bulat. Lalu tapainya sendiri juga berasal dari beras ketan, namun yang berwarna hitam yang telah dijadikan tapai (di vermentasikan). Dengan rasa asam bercampur manis, sayang jika hanya randang saja yang dicicipi. Tanpa mencoba jajanan pasar ini.
Pak Zul, begitu ia akrab disapa. Warga Gaung, Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang ini mengaku. Sejak tahun 2005, hanya Ramadhan saja ia bisa memetik keuntungan dari keahliannya membuat Lamang Tapai. Jika di luar Ramadhan, ia hanya memasak Lamang Tapai jika ada pesanan saja. Diluar itu, ia beralih profesi menjual gorengan saja.
Selain pelanggan yang semakin sepi, modal untuk membuat Lamang Tapai semakin hari semakin mahal saja. Contohnya, beras pulut hitam dan beras pulut putih yang hari ini harganya semakin tinggi.
“Untuk satu gantangnya, beras pulut hitam itu Rp 30.000 kalau beras pulut putih Rp 22.000 satu gantangnya, kalau untuk hari biasa, saya sering tekor. Kalau di bulan Ramadhan, Alhamdulillah ada pelanggan tetap, dan banyak dicari perantau-perantau,” jelas Pak Zul.
Dengan berjualan Lamang Tapai, sejak tahun 1983 hingga tahun 2005, ia mampu menyekolahkan anak sulungnya hingga menjadi perawat. Namun sayangnya, sejak tahun 2005, masyarakat sudah tidak tertarik lagi dengan Lamang Tapai. Sehingga ia harus beralih profesi menjadi penjual gorengan.
“Kalau dulu, bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tapi kalau sekarang, hanya menguntungkan jika berjualan di buan Ramadhan saja,” lanjut Pak Zul yang ditemani anaknya calon perawat itu, sembari melayani pelanggannya.
Ia mengaku, jika bulan Ramadhan. Penjualan Lamang Tapainya, bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu minggu. Dan itu bisa mencukupi kebutuhan keluarganya hingga akhir lebaran.
“Kalau Ramadhan hingga lebaran, semua harga-harga naik. Kami terpaksa berjualan ini untuk mencukupi kebutuhan, bisa mendapat untung Rp. 4.000.000 dalam satu bulan. itupun habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” pungkasnya.

——————————————————-
SELASA, 23 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad?
Fotografer : Muslim Abdul Rahmad?
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!