Lelaki yang Terkulai Direntanya Malam

CERPEN – Lelaki itu terkulai. Sementara malam makin merenta. Hempasan angin malam menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Lolongan anjing liar semarkan malamnya. Cahaya rembulan yang temaramkan hantarkan mimpi kusutnya tanpa mampu dikibaskannya.
Lelaki itu masih terkulai. Sementara mentari sinarnya kepagian datang. Sinar panasnya menyirami tubuh lelaki itu tanpa ampun. Menghangatkan naluri kelaki-lakiannya yang hampir mati ditelan narasi kotor yang diumpatkan manusia sekitar ke udara cakrawala yang bebas. Cahayanya warnai lalulintas kehidupan manusia. Hempasan noda dari mulut-mulut bau menghantam nuraninya tanpa ampun yang tak dapat ditepisnya. Suara kokok ayam dan derap langkah manusia berkehidupan warnai hidupnya.
Dan lelaki itu masih terkulai.
Hidup adalah bagikan roda yang terus berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Siklus kehidupan ini sangat dipahami lelaki itu sebagai sebuah kodrati kehidupan dunia yang harus dijalani dengan senyuman dan kepahitan. Dan itu amat disadari lelaki itu sebagaimana yang dinasehatkan Ibunya saat dirinya masih kecil sebagai pegangan hidup.
” Hidup ini tak selalu diatas. Kadang dibawah. Maka pandai-pandailah membawa diri saat diatas biar saat jatuh tak begitu terasa sakitnya,” nasehat Ibunya.
Lelaki itu dulunya adalah lekaki yang amat flamboyan. Disegani lawan dan kawan. Gagasan dan idenya kerap muncul dimedia massa. Kutipannya kerapkali menyelinap diotak kanan para pemimpin sebagai bentuk kontrol.
Kedekatannya dengan pemimpin dikarenakan ide dan gagasan briliyannya yang dianggap pemimpin bisa membantu mengeskalasi kemajuan sebuah daerah.
Dibalik ke-orisinal ide dan gagasannya, lelaki itu adalah manusia yang lemah. Kehangatannya makin memburam saat di rumah. Kehangatan hidupnya seolah tumbuh saat bisa berbincang dengan wanita muda nan ramah tamah.
Kecocokan cara pandang dan berpikir membuat keduanya makin akrab. Seolah saling melengkapi. Bak sendok dan garpu. Dan wanita muda itu pun merasa amat cocok dengan lelaki itu. Apalagi kemurahan hati lelaki itu kadang diluar batas normal yang belum pernah didapati wanita muda itu selama hidupnya.
Tak pelak tawaran untuk berumah tangga pun acapkali ditolak oleh wanita muda itu walaupun datangnya bertubi-tubi bak mesiu yang dilontarkan lawan saat perang. Tak terkecuali datang dari pimpinnan kerjanya yang pelit dan kikir itu.
Lelaki itu tak akan pernah paham dan memahami seumur hidupnya bagaimana mungkin orang terbaik disisi hidupnya selama ini harus mengubah derajat kehidupannya menjadi impoten dan terkulai bak manusia tanpa martabat diri dan arah hidup yang cerah.
Curhatan orang terbaik disisinya membutnya harus terkulai diderasnya kompetisi hidup yang makin ganas dan saling memakan. Derajat kehidupannya sebagai manusia kini merendah dan jadi bahan perguncingan para masyarakat disetiap sudut Kota tanpa ampun. Martabat hidupnya sebagai manusia terhinakan dan menjadi trending topik perbincangan manusia penghuni Kota tanpa terapologikan. Dan lelaki itu terkulai.
Lelaki itu terkulai diderasnya arus kehidupan yang menghantamnya tanpa ragu-ragu seakan-akan ingin membinasakannya dalam percaturan hidup sebagai manusia lewat perbincangan yang ternyata bisa mematikan langkah seorang manusia tanpa ampun.
Suara azan bergema. Religiuskan jagad raya. Ajakan dari seorang lelaki tua bersorban menghantarkannya ke rumah Sang Maha Pencipta untuk bersujud dan memohon ampunan dan petunjuk sebagai bekal hidup menatap masa depan yang makin menggganas di depan mata.
Dan lelaki itu kini berdiri tegak menatap alam dan cakrawala dengan kepala tegak dan jiwa yang bersih. Siap mengarungi derasnya arus gelombang kehidupan yang makin ganas dan buas bak hutan rimba.
Malam ketujuh Ramadhan, Toboali, Bangka Selatan
——————————————————-
SABTU, 27 Juni 2015
Penulis      : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...