Manfaatkan Pembukaan Lahan untuk Kebutuhan Kayu Bakar Sehari-hari

Kayu Bakar
DENPASAR – Desa Bug-Bug merupakan sebuah desa penghubung antara wilayah Candi Dasa dengan kota karangasem. Daerah perbukitan berbalut hutan lebat dan kebun-kebun kelapa membuat membuat desa ini sangat rimbun dan nyaman.
Pohon mangga, kelapa, dan nangka beserta ranting-ranting kering adalah jenis-jenis kayu yang digunakan penduduk desa untuk melakukan upacara keagamaan.
“Yang paling bagus adalah kayu pohon Jambu merah, karena memiliki struktur kayu yang tebal, jadi saat dibelah dan dijemur itu menghasilkan api yang besar dan tahan lama,” jelas Wawan seorang pemilih pengolahan kayu bakar tradisional di desa Bug-Bug.
Kayu-kayu bakar yang dijual wawan didapat dari lahan-lahan yang dijadikan villa, hotel, maupun kawasan wisata di karangasem dan sekitarnya. Disamping itu ia sering mengumpulkan ranting-ranting kering atau pohon-pohon kering yang patah di sepanjang jalan yang menghubungkan desa Bug-Bug dan kota Karangasem.
Kayu-kayu pepohonan yang dijadikan kayu bakar oleh wawan dijual dengan harga 75,000 per patok. Satu patok berisi 50 batang kayu bakar yang sudah terpotong rapi dan dijemur kering (tidak lembab).
Alasan terutama wawan membuka usaha ini hanyalah untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar dalam upacara-upacara keagamaan, restoran-restoran Babi Guling di karangasem dan sekitarnya, dan villa atau hotel yang memiliki fasilitas penghangat ruangan dengan kayu bakar.
“Masih ada penduduk yang menggunakan kayu bakar untuk memasak, namun hanya sedikit sekali, rata-rata sudah menggunakan kompor gas. Akan tetapi jika gas langka maka mereka akan datang kesini beli kayu bakar,” kata Wawan lagi kepada kami.
Disamping alasan tersebut diatas, wawan juga ingin mencegah adanya warga desa yang menebang pohon baru untuk keperluan apapun. Sudah cukup lahan-lahan dibuka untuk pembangunan.
“Semakin banyak lahan dibuka, semakin banyak pohon disia-siakan, saya memanfaatkan pohon-pohon itu untuk diolah menjadi kayu bakar agar bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari, jika ada biaya untuk hal itu, anggaplah sebagai pengganti lelah keringat mengangkut pohon dan kayu-kayu tersebut,” tutur Wawan menutup pembicaraan.

——————————————————-
Minggu, 7 Juni 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Fotografer : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...