Masuki Ramadhan, Penjual Kembang Api Marak di Kalianda

Pedagang Kembang Api Musiman
LAMPUNG – Para pedagang kembang api kian marak bermunculan di Kota Kalianda Lampung Selatan Provinsi Lampung jelang Ramadhan, dan keberadaan para pedagang ini sudah terlihat di sudut-sudut dan pinggiran pasar, jalan dan ruko-ruko sejak seminggu yang lalu di beberapa lokasi menuju pasar Kalianda dan Jalan Zainal Abidin Pagar Alam Kalianda di pinggir pinggir trotoar berbaur dengan para pedagang kaki lima di kota tersebut. 
Puluhan kembang api, mulai dari ukuran besar hingga kecil berbagai model dan bentuk dijaja para pedagang di atas meja seukuran setengah meter. Sudah menjadi tradisi setiap bulan Ramadan kembang api dan petasan dijual untuk memeriahkan suasana Ramadan. Penggunaan kembang api dan petasan terus berlanjut hingga memasuki lebaran Idul Fitri. 
“Kalau di sini memang sudah lazim setiap menjelang bulan Ramadhan akan banyak pedagang kembang api serta pernak pernik Ramadhan di sepanjang jalan ini,”ungkap Sarmin (35) kepada CND Kamis(16/6/2015).
Berjualan kembang api di bulan Ramadhan adalah dagangan musiman yang banyak dilakoni beberapa pedagang. Para pedagang ini berjualan dari pagi hingga malam hari. 
Menurut Sarmin, yang berjualan sejak empat hari belakangan ini, ia mengaku menjual kembang api di pinggir jalan dan mendapatkan barang jualan tersebut dari salah seorang agen di kawasan Kalianda.
Kembang api tersebut menurut sang agen didatangkan dari kawasan Jabodetabek, dijual dengan harga berfariasi mulai dari Rp1.000 per biji jenis kembang api kecil dan Rp25.000 per bungkus untuk jenis kembang api besar.
Sarmin memilih jualan kembang api tersebut, karena omset yang dihasilkan lumayan untuk menambah pendapatan di hari lebaran. Untuk berjualan kembang api kecil-kecilan, ujang butuh modal kurang lebih Rp1,5 juta. 
“Cukup lumayan untungnya, untuk nambah-nambah uang saat lebaran, karena ini dagangan musiman,”ungkap Sarmin.
Sementara pedagang lain yang juga berjualan di sekitar jalan Zainal Abidin depan Telkom Kalianda, Amir (34) saat ditanya apakah dia menjual petasan yang dilarang penjualannya karena sangat menganggu lingkungan terutama petasan, Amir mengaku mengetahui resiko dari berjualan kembang api dan petasan tersebut.
Menurutnya menjual petasan memang dianggap tidak baik. Kalau terjaring razia, barang dagangannya akan diambil oleh petugas. Jualan petasan tidak boleh, kalau ketauan berjualan bisa dirazia, rugi saya, ujar pria yang juga bekerja sebagai buruh di pasar ini.
“Kalau dirazia pasti diambil tapi sejauh ini belum ada razia tinggal pintar pintar kita melihat situasi,”ungkapnya.
Berjualan kembang api saat ini menurut Amir masih sepi pembeli, karena belum memasuki bulan Ramadan dan baru akan ditentukan sore ini. Ia memprediksikan penjualan akan meningkat bisa sudah masuk bulan Ramadan.
Selama satu minggu berjualan, perharinya Amir  hanya mendapatkan untung Rp25.000 saja, itupun bisa kurang. Menjual kembang api juga ada kendalanya, selain terjaring razia karena diduga jualan petasan, juga jika hujan datang terpaksa dagangan diselamatkan agar tidak basah.

——————————————————-
KAMIS, 18 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...