Minang Apeture Community akan Promosikan Minangkabau di Australia

Daerah Pedesaan di Sumatera Barat [ilustrasi]
PADANG –  Seniman Sumbar kembali ambil bagian dalam pameran internasional.  Kelompok pecinta fotography dari Sumatera Barat Minang Apeture Community akan menampilkan karyanya dalam acara Indonesia Council Open Conference/ICOC di kampus Waterfront  Universitas Deakindi kota Geelong Melbourne, negara bagian Victoria, Australia, Kamis – Jumat (2-3/7/2015).
Menurut ketua Minang Apeture Community, Yenny Narny, pameran foto itu terkait agenda konferensi internasional yang menjadi ajang diskusi dan presentasi mengenai perkembangan studi mengenai Indonesia.
“Pameran  foto ini  menggambarkan tentang budaya dan kegiatan keseharian masyarakat Minangkabau, yang ditemakan West Sumatran: People and Culture.” Tulisnya pada cendananews melalui pers relisnya Minggu (28/6/2015).
Menurutnya, diantara karya ini akan menampilkan beberapa ikon ranah Minang seperti Istano Pagaruyang dan Jam Gadang di Bukittinggi.
“Selain itu juga  menampilkan tentang kegiatan budaya seperti Baralek Gadang, Pacu Itiak di Payakumbuh dan Pacu Jawi di Batusangkar,” ulasnya.
Para fotogrpaher ini, jelas Yenny berhasil menangkap berbagai moment menarik dari berbagai kegiatan keseharian yang dilakukan oleh masyarakat seperti, bertani, berdagang, menangkap ikan hingga kegembiraan anak-anak bermain dengan alam dan lingkungannya.
Karya-karya photo ini diharapkan dapat memberikan referensi pengetahuan tentang Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya ke dunia dunia internasional. Karya photo ini, tambahnya,  akan tampil bersamaan dengan penampilan 100 makalah yang membahas tentang Indonesia.
Dikesempatan itu Dr. Jemma Purdey, ketua penyelenggara Konfrensi Internasional ini menyebutkan, 40 persen dari makalah itu ditulis oleh para inteletual yang berasal dari Indonesia, baik mereka yang sedang menempuh pendidikan di Australia maupun yang datang langsung dari Indonesia.
Hal ini memperlihatkan bahwa menyurut hubungan antara Indonesia dan Australia tidak menghalangi para peneliti untuk membahas berbagai topik menarik tentang Indonesia dari berbagai sudut pandang seperti politik, ekonomi, budaya, bahasa dan sastra.
“Beberapa issue penting lainya seperti tentang hak asasi dan tindak kekerasan dimasa lalu akibat kekacau politik, khususnya yang terjadi di tahun 1965 juga mendapatkan perhatian khusus pada konfrensi ini, ” tulisnya.
Kelompok ini terdiri dari 10 fotographer  yaitu  Zairi Waldani, Teddy Winanda, Maizal Chaniago, Hedra Nasri, Rahmadi Ihksan  Harsa, Taufik Tayung, Yose Hendra, Primayudha, Aan Uncu dam Yenny Narni. Mereka akan menampilkan sejumlah 36 karyanya.
  
——————————————————-
SENIN, 29 Juni 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Fotografer : ME. Bijo Dirajo
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...