Minim Lapangan Pekerjaan, Anak Maluku Adu Nasib ke Jepang

SUPM Waiheru Ambon Provinsi Maluku
AMBON – Minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan di Indonesia termasuk di Maluku khususnya lagi di kota Ambon, hal itu tentunya menjadi teka teki dan problem berarti dan memprihatinkan bagi kelangsungan hidup anak bangsa. Teka-teki ini, wajib dijawab oleh pemerintah.
Di Kota Ambon provinsi Maluku misalnya, lapangan pekerjaan sangat minim sehingga para lulusan sekolah kejuruan harus hengkang dari tanah kelahiran guna mengadu nasib atau meniti masa depan di luar negeri semisal Negara Jepang.
Buktinya, para siswa lulusan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Waiheru Ambon, Provinsi Maluku, pada 2015 ini harus mengadu nasib untuk bekerja di luar negeri semisal di Negara Jepang.
Sebanyak 24 orang siswa lulusan SUPM Waiheru Ambon sudah mengikuti seleksi untuk bekerja atau dikontrak selama tiga tahun oleh Negara Jepang.
Bahkan negeri Sakura itu tidak tanggung-tanggung untuk merekrut talenta anak bangsa untuk dipekerjakan di Negara mereka.
Kepada wartawan di Ambon Senin (22/6/2015) Kepala SUPM Achmad Jais Ely mengatakan, sebanyak 24 siswanya  yang baru lulus pada 2015 ini sudah ikut seleksi awal oleh PT. Budi Agung Binagara.
Dijelaskan, ke 24 lulusan SUPM Ambon itu dari Jurusan Nautica Perikanan Laut (NPL), dan Tekhnika Perikanan Laut (TPL) yang menjalani seleksi awal di Kota Ambon.
Menurutnya, ke 24 siswa lulusan SUPM Ambon itu juga ikut kursus Bahasa Jepang selama satu bulan di Jakarta, setelah itu akan diseleksi lagi oleh PT. Budi Agung Binagara milik Jepang tersebut.
“Jika dinyatakan lolos seleksi akhir tentu para siswa yang ikut seleksi akan menandatangani kontrak guna mereka bekerja selama tiga tahun di Jepang,” terangnya.
Dikatakan, ada empat indikator yang menjadi barometer keberhasilan SUPM Waiheru Ambon antara lain masalah disiplin siswa, peranan para guru, komunikasi yang baik dari orang tua murid, serta keberhasilan para alumni.
Kata dia, jika para almuni yang bekerja di luar negeri menunjukkan kinerja yang baik, disiplin serta dedikasi tinggi maka hal itu tentu menjadi motivasi bagi perusahaan asing untuk terus mencari dan menyeleksi para siswa asal SUPM Waiheru Ambon.
Namun jika siswa atau alumni SUPM itu selama mengenyam pendidikan kurang disiplin dan suka bolos hingga diberi surat panggilan berulang kali maka tetap dijatuhi sanksi tegas.
Menurutnya, pemecatan yang dilakukan kepada siswa yang bandel dilakukan pasca mendapat surat panggilan khusus namun tidak dihiraukan oleh orang tua.
Sebaliknya kepada siswa yang berprilaku baik termasuk mendapat rangking atau berprestasi setiap semester tetap mendapat bonus yakni tidak dikenai biaya semisal uang komite selama beberapa bulan.
——————————————————-
SELASA, 23 Juni 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Fotografer : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...