hut

Minimalisir Penyebaran HIV/AIDS Kecamatan Bakuheni Bentuk Pokja

Kelompok kerja penanggulangan HIV AIDS
LAMPUNG – Wilayah Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan Provinsi Lampung disinyalir menjadi wilayah merah karena rentannya penyebaran penyakit menular HIV/AIDS. 
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Camat Kecamatan Bakauheni Ariswandi yang mengungkapkan data tersebut diperoleh dari Kelompok Kerja (Pokja) Kabupaten Lampung Selatan khusus penanggulangan HIV/AIDS.
Ariswandi mengungkapkan, rentannya daerah Bakauheni terhadap penyebaran penyakit tersebut dikarenakan menjadi daerah transit dan bahkan perilaku seks bebas yang terjadi di wilayah Bakauheni akibat maraknya aktifitas para penjaja seks komersial (PSK) yang ada di beberapa titik di Bakauheni menjadi lokasi terselubung.
“Karenanya kami sudah membentuk pokja dan tim pokja terdiri dari Dinas Kesehatan setempat, ibu ibu PKK, pemerintah desa setempat dengan sasaran utama selain memberikan masukan kepada pelaku pekerja seks juga memberi himbauan kepada tukang ojek yang menjadi alat transportasi pelaku,” ungkap Ariswandi, Minggu (7/6/2015).
Pokja tersebut selanjutnya akan melakukan kegiatan sosialisasi diantaranya kepada tukang ojek yang disinyalir sebagai “guide” para wanita PSK tersebut. Sementara kepada para wanita ibu ibu PKK akan diberikan cara cara mendekati para PSK tersebut secara psikologis untuk pendampingan secara mental.
Dari data yang dikumpulkan oleh Pokja tersebut bahkan di wilayah Bakauheni telah dinyatakan sebanyak 17 orang positif mengidap virus HIV/AIDS. Dari total penderita tersebut bahkan sebanyak 6 orang sudah meninggal dunia.
Selama ini lokasi yang menjadi target utama operasi pokja yang terbentuk diantaranya dermaga 3 pelabuhan Bakauheni dan objek wisata Menara Siger di Bakauheni.
Salah seorang warga Bakauheni, Sucipto (34) mengaku resah dengan adanya data tersebut, sebab dengan adanya beberapa warga Bakauheni yang menindap HIV/AIDS memberikan citra buruk bagi Bakauheni.
“Kita tidak menghakimi pelakunya tapi sikap tegas instansi terkait untuk meminimalisir atau setidaknya mencegah penyebaran penyakit tersebut,” ungkap Sucipto.
Ia bahkan mengungkapkan minimnya kontrol sosial di masyarakat, malah cenderung membiarkan pergaulan bebas.
“Mana razia di kosankonrakan yang ada di seputaran pelabuhan Bakauheni, mana razia orang pacaran di sekitar pelabuhan bakauheni” keluhnya.
Pendapat Sucipto ini menunjukkan betapa informasi HIV/AIDS yang diterima masyarakat tidak layak sebagai informasi karena tidak akurat.
Sementara itu Kanit Bhabinkamtibmas Pelabuhan Bakauheni Aiptu Maulana mengungkapkan akan melakukan pembinaan kepada para pengasong atau pedagang di Pelabuhan Bakauheni, selain itu juga memberikan sosialiasi, bimbingan dan penyuluhan terkait penyebaran dan bahaya HIV/AIDS.
“Selama ini para pengojek, sopir, menjadi mata rantai penyebaran penyakit tersebut melalui transaksi seks komersial yang ada di areal Pelabuhan Bakauheni dan ini yang selalu kita sosialisasikan,” ungkap Aiptu Maulana.
Selain penyuluhan soal penyebaran penyakit HIV/AIDS tersebut Bhabinkamtimbmas pun tetap memberikan penyuluhan terkait ketertiban di Pelabuhan Bakauheni.

——————————————————-
Minggu, 7 Juni 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Fotografer : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!