NTB Mulai Kembangkan Wisata Syari’ah dan Keluarga

Gubernur NTB, Zainul Majdi saat membuka seminar wisata syari’ah di hotel Lombok Raya Mataram
CEDANANEWS (Mataram) – Sebagai salah satu upaya mengembangkan dan melengkapi wisata yang sudah ada dan berkembang, Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengembangkan wisata dengan konsep syari’ah dan wisata keluarga yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, Mohammad Faozal mengatakan, Indonesia terutama NTB sebagai salah satu Provinsi dari tiga Provinsi di Indonesia, yakni Provinsi Aceh dan Sumatra Barat yang oleh pemerintah pusat dijadikan sebagai Provinsi percontohan termasuk telat dalam mengembangkan konsep wisata Syari’ah dan keluarga.
“Kita ini termasuk telat sebenarnya mengembangkan konsep wisata syari’ah, karena di Negara-negara yang minoritas muslim saja seperti Jepang, Singapura dan Korea sukseskan mengembang konsep wisata syari’ah dan keluarga, apalagi kita yang memang mayoritas muslim, lebih-lebih NTB yang dikenal dengan pulau seribu masjid” kata Faozal di Mataram, Rabu (3/6/2015).
Perlu difahami bersama wisata syari’ah sendiri bukan berarti pengembangan wista dengan konsep islam sebagaimana kehawatiran kebanyakan pengusahan hotel selama ini sehingga akan berdampak pada kunjungan wisatawan, wisata syari’ah maksudnya bagaimana hotel-hotel dalam memberikan pelayanan bisa memenuhi standar syari’ah.
Semisal disemua hotel yang ada disediakan arah kiblat, perangkat dan fasilitas shalat dan halal food termasuk air untuk bersuci. Karena itu Pemda NTB sendiri telah menyiapkan draf Peraturan Gubernur (Pergub) terkait dengan wisata syari’ah kemudian itu nantinya akan menjadi acuan dari pelaku pariwisata untuk memilih, apakah akan memilih menggunakan standarisasi syari’ah atau tidak dan itu sifatnya hanya himbauan, tidak ada paksaan.
“Pergub tersebut isinya kita menstandarisasi syari’ah bukan meminta kewajiban untuk bersyari’ah, cuma konsep wisata syari’ah selama ini belum sepenuhnya diterima dan difahami secara utuh para pengusaha hotel termasuk juga belum adanya kesepakatan apakah konsep tersebut bisa diterima atau tidak untuk diberlakukan di setiap hotel yang ada di NTB” katanya. 
——————————————————-
Rabu, 3 Juni 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Fotografer : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
——————————————————-
Lihat juga...